Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 388 Menegakkan Keadilan


__ADS_3

Orang-orang yang tadi melecehkan Sekar Ratih dan Ayodya Putri, terkejut dengan serangan tiba-tiba yang membawa korban pada orang-orang yang mereka bawa. Mereka yang sudah bersiap melompat ke arah Ayodya Putri, yang menatap mereka dengan pandangan penuh kemarahan. Sekar Ratih tersenyum, gadis itu segera berdiri di belakang Ayodya Putri, kemudian menghadap ke arah musuh. Kedua gadis itu berdiri saling membelakangi, dengan tatapan marah. Sedangkan Chakra Ashanka sengaja memundurkan dirinya untuk memberi kesempatan pada kedua teman gadisnya itu untuk menghadapi musuh yang mengganggu mereka.


"Rupanya kalian tidak bisa diajak untuk bicara baik-baik. Kalian memilih untuk bertindak dengan kekerasan.. kami masih memberi kesempatan pada kalian berdua untuk bertobat. Menyerahlah pada kami, dan ikuti apa yang menjadi keinginan kami.." salah satu dari orang-orang itu, yang ternyata merupakan pemimpin kelompok berbicara pada kedua gadis itu.


"Menyerah.. dan mengikuti apa yang ada di otak kotor kalian.. Ha.. ha.. ha..., jangan bermimpi kalian. Lebih baik, kami berdua meluluh lantakkan pertahahan kalian, daripada kami harus bertekuk lutut di bawah kaki begundal seperti kalian. Hanya kesengsaraan yang akan kami dapatkan ha.., ha.., ha.." dengan suara lantang, Ayodya Putri memberi tanggapan pada perkataan orang-orang itu.


"Baiklah.. kalian yang menginginkan jalan kematian sendiri. Semuanya... tunjukkan kemampuan kalian pada dua perempuan sundal di depan kita. Serang kedua gadis itu..." pemimpin kelompok memberi aba-aba pada anak buahnya. Orang-orang itu segera maju menerjang Ayodya Putri dan Sekar Ratih yang berdiri saling membelakangi, dan menatap mata orang-orang itu dengan tatapan sinis.


"Ciattt... bang..., bang... clang..." suara pedang beradu dengan pisau pendek, dan senjata kedua gadis itu menimbulkan suara yang sangat menyayat hati bagi yang mendengarnya.


Dengan gerakan lincah, kedua gadis itu terus melompat sembari mengirimkan serangan pada orang-orang yang berlari ke arah mereka tanpa menggunakan pakem aturan resmi. Terlihat orang-orang itu hanya bertarung tanpa mempersiapkan diri mereka dengan aura kekuatan, sehingga sangat jelas terlihat jika mereka hanya menghambur-hamburkan energi saja.

__ADS_1


Beberapa saat pertarungan seperti sebuah kekacauan tidak berakhir, dan kedua gadis itu sudah mulai merasa bosan menghadapi mereka. Karena jelas terlihat, mereka hanya bertarung untuk menghabiskan energi kedua gadis itu. Ayodya Putri menyipitkan matanya, gadis itu memberi isyarat pada Sekar Ratih untuk menggunakan kekuatan untuk melawan orang-orang itu.


"Getaran Pisau Terbang.... clap... clap...." Sekar Ratih melempar anak pisau ke arah orang-orang yang menghadang mereka. Mereka melihat satu anak pisau yang meluncur ke arah mereka, tetapi mata orang-orang itu menjadi terbelalak, karena begitu sampai di depan mereka, satu mata pisau berubah bentuk menjadi seperti sebuah kitiran bermata tajam. Orang-orang sibuk menghindari kemana arah mata pisau itu menyerang.


"Berani sekali kalian membuat sebuah tipuan kepada anak buahku.. Pusaran Angin HItam... menderulah... shutt..." pemimpin kelompok tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya, kemudian mendorongkan sebuah tenaga ke arah dua gadis itu. Tiba-tiba gulungan angin berwarna hitam tampak bergulung dan mendekat ke arah Ayodya Putri dan Sekar Ratih. Dengan cepat, Ayodya Putri menggerakkan kedua tangannya membentuk sebuah lingkaran di depan dadanya. Tidak lama kemudian, muncul kekuatan yang berbenturan dengan pusaran angin hitam tersebut. Tidak lama kemudian, pusaran angin hitam itu hancur.. dan udara kembali ke bentuk semula.


Pertarungan antara kedua gadis dengan orang-orang suruhan dari petinggi desa itu berlangsung setiap saat. Semakin bertambahnya orang-orang yang dikirimkan dari pihak desa, membuat AYodya Putri dan Sekar Ratih menjadi kewalahan dan mereka juga terlihat kelelahan. Melihat pertarungan yang tidak seimbang, di antara orang-orang di depannya, Chakra Ashanka tersenyum. Dari tempatnya duduk, anak muda itu mengumpulkan kekuatan di tangannya, kemudian tanpa ada yang mengetahui.. sebuah aura kencang dan energi berhembus ke tubuh dua gadis itu, dan tidak diduga dua gadis itu melompat ke atas. Kedua tangan Ayodya Putri dan Sekar Ratih mengeluarkan serangan-serangan mematikan pada orang-orang di depan mereka.


"Berhenti... tarik serangan dan selamatkan diri kalian.." pemimpin kelompok berteriak agar anak buahnya menghentikan serangan. Beberapa sudah banyak yang berjatuhan karena terkena serangan dari kedua gadis itu. Mendengar terikan itu, AYodya Putri dan Sekar Ratih saling berpandangan, dan mereka menyudahi pertempuran. Kedua gadis itu berdiri, dan dengan tatapan tajam menatap pada orang-orang di depannya sambil tersenyum sinis,


"Hentikan Nimas... hentikan serangan kalian. Kami hanya orang-orang suruhan dari petinggi desa. Ampunilah kami.." tidak diduga, pemimpin kelompok mendekat dan meminta kedua gadis itu untuk menghentikan serangan pada mereka,

__ADS_1


"Hmm.. baiklah, kami akan menghentikan serangan kami. Tetapi betapa besar kepalanya petinggi desa ini, yang dengan sewenang-wenang menindas dan bahkan menghancurkan perekonomian rakyatnya. Petinggi macam apakah itu, apakah perlu hal ini kami sampaikan pada pihak kerajaan?" dengan lantang Ayodya Putri menanggapi pemimpin kelompok tersebut.


"Seperti tadi kami sampaikan Nimas.., kami hanya orang-orang bayaran. Nimas berdua bisa bertanya tentang hal ini pada pihak Kepala Desa ini. Dialah yang memberi perintah pada kami, dan tanpa kami berani untuk menolaknya. Mereka tidak segan-segan untuk menyiksa kami dan keluarga kami, jika ada di antara kami yang membangkang atau memberikan perlawanan kepadanya. Kami tidak berdaya Nimas..., tolonglah kami." dengan penuh harap, pemimpin kelompok yang tadi terlihat garang, memohon ampun.


Kedua gadis itu terdiam, mereka akhirnya mengerti dan memahami apa yang menjadi akar permasalahan itu. Ayodya Putri dan Sekar Ratih menengok ke belakang, mereka mengarahkan pandangan pada Chakra Ashanka. Anak muda itu hanya tersenyum melihat mereka, tetapi kemudian perlahan Chakra Ashanka bangkit dan berjalan menuju ke arah mereka.


"Bagaimana pendapatmu kang Ashan.. Apakah kita akan menemui petinggi desa, dan memberikan pesan agar tidak lagi bertindak sewenang-wenang. Ataukah kita akan langsung pergi dari desa ini tanpa mempedulikan mereka." Sekar Ratih bertanya pada anak muda itu.


"Menjadi tugas kita untuk meluruskan keadilan di kota Laksa Nimas. Kita harus ingat, saat ini keberadaan Trah Bhirawa berada di kerajaan Laksa, dan juga paman Abhiseka adalah sahabat ayahnda Wisanggeni. Beberapa kali laki-laki itu juga memberikan pertolongan kepadaku.. maka kita akan menegakkan perdamaian di kerajaan ini." kata-kata yang keluar dari bibir anak muda itu mengejutkan pemimpin kelompok dan anak buahnya,


********

__ADS_1


__ADS_2