Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 440 Membutuhkan Bantuan Mereka


__ADS_3

Wisanggeni dan Rengganis saling berpandangan, mereka memiliki pemikiran yang sama. Apa yang mereka lihat sedikit di atas bukit, merupakan gerbang utama untuk masuk ke padhepokan Ki Bawono. Pasangan suami istri itu segera mengakhiri berendam di dalam airnya, mereka kemudian menyepakati untuk datang ke gapura yang mereka lihat di depan mereka.


"Apakah sudah kembali segar tubuhmu Nimas.. jika sudah kita harus kembali mendaki untuk menuju ke gapuro di atas. kakang yakin, gapuro itu merupakan gerbang kedatangan pertama untuk kita bisa memasuki padhepokan Ki Bawono. bersiaplah..." Wisanggeni segera mengajak Rengganis untuk bersiap. Rengganis menatap suaminya, perempuan itu masih terlihat senang bermain air yang bening dan menyegarkan itu.


"Sudah kakang..., mari kita berangkat. Nimas ingin segera meluruskan punggung, jujur sebenarnya Nimas tadi belum cukup beristirahat ketika berada di pesanggrahan Nini Sinto Rini. Tetapi Nimas merasa malu untuk terus berada di pembaringan." Rengganis mengucap jika sebenarnya tubuh perempuan itu merasa capai.


Wisanggeni mendekati perempuan itu, kemudian memeluk dengan merangkul pada pundak perempuan itu, Laki-laki itu memberikan ciuman di dahi perempuan itu.


"Bagaimana jika kita istirahat dulu Nimas.., kenapa tidak bicara pada kakang sejak tadi. Kita tidak akan mungkin, langsung meminta ijin untuk istirahat jika kita sampai di tempat padhepokan Ki Bawono. Belum tentu jika kita akan ditawarkan untuk beristirahat dulu. Bisa jadi, jika kita langsung bisa bertemu dengan Ki Bawono, laki-laki tua itu mengajak kita untuk berbicara tentang banyak hal Nimas. Jadi kita tidak akan langsung bisa istirahat. Menurutku.. kita bisa beristirahat dulu di tempat ini, baru kita akan menuju ke tempat Ki bawono jika rasa kantuk dan capai kita sudah hilang. Apalagi kita juga sudah jarang bukan, melakukan perjalanan di alam terbuka seperti ini.." Wisanggeni menangkap maksud Rengganis.


"Apakah begitu saja kakang... Nimas juga setuju. Apalagi kita belum begitu kenal akrab dengan laki-laki tua itu." Rengganis menyetujui usulan yang ditawarkan oleh suaminya.


Perlahan Wisanggeni membantu Rengganis naik kembali ke atas daratan. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tidak menemukan keberadaan goa di sekitar tempat itu. Wisanggeni mengurungkan niatnya untuk beristirahat di dalam goa, dan matanya mengamati keberadaan pohon-pohon besar di sekitar tempat itu.


"lihatlah disana kakang... sepertinya banyak pohon besar berdiri di sana. Dahannya juga terlihat sudah besar-besar, kita bisa membuat tempat istirahat sementara di tempat itu.." Rengganis menunjuk ke beberapa pohon besar yang terlihat di sisi selatan.

__ADS_1


"baiklah.. kita akan menuju kesana Nimas.. Kakang juga setuju dengan pemikiranmu, kita bisa menggunakan tempat itu untuk istirahat." Wisanggeni menyetujui usulan dari istrinya. Keduanya kemudian bergandengan tangan seperti pasangan muda.


Laki-laki dan istrinya itu segera berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Rengganis. Sepertinya tempat itu, jarang dilewati oleh manusia. Semak belukar sangat banyak menutupi jalan menuju ke tempat tujuan kedua orang itu. Bahkan Wisanggeni harus menggunakan pisau belatinya untuk menyingkirkan semak belukar yang menghalangi perjalanannya. Tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai di bawah pohon trembesi tua yang memiliki batang dan juga dahan yang besar pula.


"Kakang... kenapa kakang tidak melepaskan SInga Ulung untuk mencari makanannya sendiri di tempat ini. Hutan ini sepertinya masih memiliki banyak binatang, yang bisa diambil energinya untuk mengisi kekuatan Singa Ulung.." tiba-tiba Rengganis kembali mengusulkan sebuah pendapat.


"Benar apa yang kamu katakan Nimas.. kakang akan segera membebaskan dan melepaskan SInga Ulung di tempat ini." Wisanggeni segera memasukkan tangannya ke dalam kepis di pinggangnya. Laki-laki itu menarik keluar binatang singa peliharaannya, kemudian meletakkan di atas tanah.


"Auuummmmm..." seperti perkiraan Rengganis, binatang itu merasa seperti mendapatkan sebuah kebebasan.


"Tunggulah sebentar Nimas.. kakang akan menyiapkan tempat untuk kita beristirahat." setelah mengucapkan perkataan itu, Wisanggeni segera melompat ke atas dahan pohon yang besar. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya kemudian dengan kekuatan batinnya, laki-laki itu mengusir binatang melata untuk menyingkir dari tempat itu. Setelah memastikan tidak akan ada binatang yang akan mengganggu istirahat mereka, laki-laki itu menggelar selembar kain tebal dengan mengambilnya dari dalam kepis.


"Tap.." Wisanggeni segera kembali melompat turun, kemudian mengajak istrinya Rengganis untuk naik ke atas dahan pohon.


Tidak lama kemudian, Wisanggeni dan Rengganis kembali melompat naik ke atas, dan beberapa saat kedua orang itu sudah tertidur dengan membaringkan tubuh mereka di atas dahan yang besar.

__ADS_1


**********


Beberapa orang mengintip ke atas pohon tempat Wisanggeni dan Rengganis beristirahat. Rupanya hutan ini tidak sesuai dengan perkiraan suami istri ini. Banyak penghuni lain yang juga memanfaatkan kesunyian dan kelebatan hutan ini untuk bertahan hidup, dengan tetap membiarkan sifat alami dari hutan itu sendiri. Mereka sudah mengawasi kedatangan pasangan suami istri itu, ketika mereka sudah berada di dalam air. Pergeseran mereka ke tempat ini, tidak terlepas dari pengamatan orang-orang itu.


"Siapakah kedua orang itu, sepertinya mereka memiliki kekuatan yang tinggi sehingga bisa masuk ke hutan ini dengan selamat. mereka juga dengan mudah bisa beristirahat di atas pohon, tanpa ada gangguan dari binatang apapun.." orang yang sedang mengintip itu membicarakan Wisanggeni dan Rengganis yang sedang istirahat.


"Iya.. tetapi sepertinya mereka bukan merupakan orang-orang yang serakah. Mungkin kita bisa menggunakan kedua orang itu untuk memberikan pertolongan pada kita." temannya menyampaikan sebuah usulan.


Sejenak orang-orang itu terdiam dan kembali melakukan pengamatan pada Wisanggeni dan Rengganis yang masih lelap tertidur. Mereka mencoba menembus kekuatan energi dari dua orang itu, namun mereka belum berhasil melakukannya.


"Aku tidak dapat menembus kekuatan dua orang itu. Seperti ada selubung energi yang melindungi keduanya, hal itu menandakan jika kita tidak bisa bermain-main dengan orang-orang itu. Kita harus berhati-hati kepadanya." salah satu dari orang-orang itu cukup berhati-hati untuk tidak sembarangan mempermainkan kedua orang itu.


"Baiklah.. kita akan menunggu sampai kedua orang itu bangun. Kita bisa bicara langsung kepada mereka, dengan memberi tahukan dan menceritakan permasalahan yang kita hadapi. Karena ruang gerak kita terbatas, aku khawatir.. orang-orang yang berada di sekitar hutan ini akan semakin salah sangka kepada kita." temannya yang lain menanggapi.


Akhirnya orang-orang itu hanya menunggu sampai Wisanggeni dan Rengganis terbangun, mereka tidak berani mengusik kedatangan dua orang itu. Mereka mengawasi keduanya dari atas pohon yang tidak jauh dari pohon yang digunakan istirahat Wisanggeni dan Rengganis.

__ADS_1


************


__ADS_2