Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 46 Kotak Warisan


__ADS_3

Baru saja mereka berjalan belum ada 100 meter, tiba-tiba angin kencang menderu ke arah Wisanggeni dan teman-temannya. Rengganis mengeluarkan selendang warna ungu, dia berputar mengikuti irama angin. Wisanggeni melihatnya tanpa berkedip sedikitpun.


"Lepaskan diri kalian, ikuti arah dan irama angin. Jangan dilawan.., menarilah ikuti kehendak angin!" teriak Wisanggeni mengarahkan Anggoro dan kawan-kawan.


Anggoro, Sapto dan Hasto mengikuti apa yang diperintahkan Wisanggeni. Sebagai teman dalam satu kelompok, yang semula Anggoro sebagai pemimpin kelompok, saat ini mereka mengikuti Wisanggeni. Kelompok lain yang mendengar perkataan Wisanggeni, dan berupaya melepaskan diri tidak berhasil akhirnya mengikuti himbauan laki-laki muda itu.


Rengganis melemparkan ujung selendangnya pada Wisanggeni, dan laki-laki itu menangkapnya. Angin kencang seperti pusaran tiba-tiba membelit mereka untuk beberapa waktu.


"Nimas Anis.., kamu baik-baik saja?' tanya Wisanggeni saat tubuh mereka sudah berdekatan satu sama lainnya.


"Aku tidak apa-apa kang, tenaga dalamku masih kuat untuk menahannya. Bagaimana dengan Akang sendiri." seru Rengganis.


"Aku baik-baik ju...ga.." suara Wisanggeni terputus, karena pusaran angin menyedot badannya dan berputar-putar, kemudian membawanya menjauh dari Rengganis.


Tangan Rengganis mencoba menggapai Wisanggeni, tetapi kekuatannya tidak mampu menandingi pusaran angin tersebut. Gadis itu kemudian memejamkan matanya, mengikuti kemana arah angin membawanya. Dia sudah tidak dapat memikirkan kemana pusaran angin membawa Wisanggeni, maupun temannya yang lain.


******


Wisanggeni perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa sangat lemah. Badannya terendam dalam air, dan sebuah batu besar menghimpit badannya. Dia mencoba mengeluarkan kekuatannya untuk mendorong batu itu, tetapi badannya terasa semakin sakit seperti tertusuk duri.


"Akh.., kulitku terasa perih. Ada dimana aku sekarang?" Wisanggeni bertanya pada dirinya sendiri.


Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tetapi dia tidak menemui siapapun disitu. Bahkan Rengganis juga tidak terlihat ada di wilayah itu.


"Syuuuuttt...." terdengar suara angin menerobos ke arahnya.


Merasa tidak dapat bergerak, Wisanggeni pasrah dengan keadaannya saat ini. Angin menghantam dadanya, dia kembali merasakan sesak dan jantungnya menjadi berdegup kencang. Dia berusaha menyatukan pikiran dan hatinya, untuk membangkitkan kekuatan. Tetapi lagi-lagi kekuatan yang dia miliki, seperti tidak ada bentuknya.

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan?? Dan ada dimana warisan kuno itu, kenapa aku hanya menemui kesusahan seperti ini." ucap Wisanggeni dengan sedikit keluhan di hati.


"Fokuskan pikiranmu anak muda.., nikmati dan syukuri! Hilangkan keluhan dari dalam hatimu." Wisanggeni tersentak, tiba-tiba dia merasa mendengarkan suara Cokro Negoro gurunya.


"Baik Guru.., maafkan muridmu ini!"


Wisanggeni langsung mengambil nafas, dan saat nafas berada di dalam dadanya dia merasakan sesuatu yang menyayat ulu hatinya. Tetapi dia membulatkan tekadnya, dia berusaha melewati itu semua tanpa mengeluh.


Sampai hari ketiga berada dalam kondisi terjepit batu, Wisanggeni masih bertahan. Rasa sesak yang dia rasakan semakin menekan dan menyedot kekuatannya. Laki-laki muda itu memejamkan mata penuh dengan konsentrasi, aliran sinar putih memasuki kepalanya. Sejenak, Wisanggeni merasa ada udara dingin masuk lewat pori-pori kulit kepalanya.


"Udara apa lagi ini?" tanya Wisanggeni dalam hati. Tetapi karena batu besar itu masih menekan dadanya, dia hanya bisa pasrah. Dia berpikir sampai kapan dia akan berada di tempat ini.


*********


Rengganis memasukkan kedua kakinya di air yang sangat bening di depannya. Setelah beberapa saat dia dipontang-pantingkan oleh angin tak tentu arah, tahu-tahu dia sudah berada disini. Sesaat dia juga kehilangan arah dan pikiran, sehingga diapun juga tidak tahu dimana posisi dia saat ini.


"Air ini terasa hangat, meskipun tidak ada sinar matahari yang langsung menembus tempat ini." Rengganis merasa heran, tangannya mengambil air kemudian membauinya.


"Ini air murni, juga tidak mengandung ada kandungan belerang disini. Air apakah ini?" perempuan itu kembali bertanya pada dirinya sendiri. Dia kemudian duduk, dan menggunakan air untuk membasuh mukanya.


"Tulisan apa itu?" Rengganis mendekat pada tulisan yang ada di samping batu.


"Urip iku terus mlaku, bebarengan Karo wektu, sing biso gowo lakumu, supoyo apik nasibmu."


"Apa arti kalimat itu, sepertinya menggunakan bahasa Jawa Kuno." Rengganis bertanya-tanya tentang makna yang terkandung dari tulisan yang dia temukan.


Setelah dia menghafal kalimat itu, perlahan tulisan itu menghilang dengan sendirinya. Rengganis kemudian duduk bersila di atas air, dia memusatkan hati dan pikirannya sambil kembali memejamkan matanya. Kedua tangannya dia letakkan di atas lutut, sembari membentuk lingkaran dengan mempertemukan jari tengah dengan ibu jarinya. Tidak lama, gadis itu sudah terserap dalam keheningan.

__ADS_1


************


Hari berganti hari, hari berganti Minggu, dan Minggu berganti minggu. Tanpa terasa sudah jalan tiga Minggu Wisanggeni masih tertahan di dalam rendaman air mata air dengan batu yang menindih badannya. Rasa sakit, pedih, dan panas sudah tidak dia rasakan. Dia hanya pasrahkan apa yang terjadi pada dirinya saat ini pada kehendak Sang Hyang Widhi.


"Cii..cit..cit..." ramai suara burung membangunkan Wisanggeni dari meditasi yang tengah dia jalankan.


Dia kembali membuka matanya, dan dengan sedikit heran dia bertanya pada dirinya sendiri.


"Dari mana burung-burung itu berasal? Kenapa berhari-hari aku berada di tempat ini, sedikitpun aku tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan?"


Wisanggeni merasakan tulang-tulangnya sudah tidak ada rasa sakit, dia memegang batu yang menindih tubuhnya. Dia mencoba mendorongnya perlahan, tetapi dia kaget. Tanpa menggunakan tenaga yang berarti, dengan mudah batu besar itu sudah menyingkir dari atas tubuhnya. Laki-laki itu kemudian berdiri untuk melemaskan otot-ototnya.


"Auuummm." terdengar Auman binatang buas.


Wisanggeni menengok pada arah suara itu berasal, dan melihat Singa Ulung menatapnya dari pinggir sungai.


"Singa Ulung .., kemarilah!" Wisanggeni memanggil binatang buas peliharaannya itu. Tetapi binatang itu mengibas-ibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Wisanggeni kemudian berjalan naik ke pinggir sungai kemudian mendatangi binatang itu. Dengan penuh kerinduan, binatang itu merapatkan badannya di kaki laki-laki itu. Keduanya saling melepas kerinduan.


"Singa..., apakah kamu tahu. Warisan apa yang bisa aku temukan dari sini? Aku merasa tidak mendapatkan apapun?" tanya Wisanggeni.


Singa Ulung melepaskan diri dari Wisanggeni, kemudian berlari ke arah depan. Kaki kanan depan dia angkat, kemudian dia tepukkan pada papan yang ada di bawah pohon Gayam. Laki-laki muda itu mengikuti singa Ulung, kemudian memegang kotak yang ada di depannya.


"Apakah isi kotak ini?" tanya laki-laki itu perlahan.


Merasa penasaran, dia mengeluarkan pisau belati dan dia gunakan untuk mencongkel kunci kotak. Dengan sekali sentakan, kotak itu terbuka.

__ADS_1


*************


__ADS_2