
Beberapa purnama berlalu..
Suasana di perguruan Gunung Jambu berjalan secara rutin seperti hari-hari sebelumnya. Terlihat Wisanggeni sering melamun, ternyata keberadaannya yang hanya duduk diam dan mengawasi perguruan serta murid-murid berlatih menimbulkan kebosanan dalam dirinya. Laki-laki itu berjalan sendiri ke arah pinggiran bukit. Beberapa saat laki-laki itu menatap ke arah rerimbunan pepohonan yang tumbuh di bukit yang bisa dia lihat dari tempatnya berdiri.
"Apakah aku hanya berada di perguruan ini sampai mendekati usia tuaku..?" Wisanggeni berbicara pada dirinya sendiri. Matanya kembali dengan tatapan kosong menatap ke depan.
"Ternyata sangat berat untuk menjalankan amanah ini dari guru. AKu ingin menjejakkan kakiku mengelilingi wilayah ini, tidak hanya duduk, diam dan bersembunyi di perguruan ini. Bahkan aku yakin, tanpa dirikupun, perguruan ini sudah akan bisa berjalan dengan sendirinya. Semua sudah tertata dan terkelola dengan sangat baik." kembali Wisanggeni bergumam.
Tiba-tiba laki-laki itu teringat dengan kitab kuno yang diberikan Ki Mahesa kepadanya. Perlahan laki-laki itu, memasukkan tangannya ke dalam kepis, dan mengeluarkan sebuah kitab kuno yang sudah lusuh. Halaman per halaman dibuka dan dibaca sekilas oleh laki-laki itu.
"Hmmm..., sepertinya dengan menggunakan kitab kuno ini bisa aku gunakan sebagai alasan, untuk sementara meninggalkan perguruan ini. Bagaimanapun aku adalah salah satu keturunan dari Trah Bhirawa, maka aku harus menguasai ciri khas kemampuan dari eyang-eyang kami terdahulu." muncul sebuah gagasan dari pikiran laki-laki itu, sejenak pikirannya terasa cerah.
"Tetapi bagaimana dengan Nimas Rengganis dan Maharani. Tidak mungkin aku hanya membawa salah satu dari mereka. Apalahi Chakra Ashanka sudah sering keluar dengan Ahimsa untuk mencari pengalaman." Wisanggeni kemudian berpikir tentang bagaimana akan membawa istri-istrinya. Pesan yang diberikan Ki Mahesa untuk memperlakukan kedua istrinya secara adil, tidak mungkin hanya membawa salah satu dari mereka.
"Aku akan menanyakan sendiri kepada mereka berdua. Jika mereka hanya diam saja, aku mungkin akan memilih untuk menempuh perjalanan ini sendiri tanpa satupun dari mereka yang akan menemaniku dalam perjalanan." akhirnya Wisanggeni sudah mendapatkan jalan keluar untuk keluar dari masalahnya.
Laki-laki itu kemudian memutuskan untuk kembali ke padhepokan. Dengan berjalan santai, Wisanggeni menikmati pemandangan alam yang ada di sekitar perguruannya dengan hati yang gembira. Murid-murid yang sedang menjalankan aktivitas mereka seperti berkebun, beternak maupun yang sedang berlatih melambaikan tangannya pada laki-laki itu. Perguruan ini memang selain melatih para murid dengan kanuragan, juga membekali dengan ilmu pertahanan pangan sesuai dengan minat dari masing-masing murid, sehingga jika mereka sudah menginginkan untuk mengabdikan diri mereka ke tempat asal mereka masing-masing, mereka akan tetap bisa bertahan hidup.
"Guru..." beberapa murid yang berpapasan langsung memberi salam pada Wisanggeni, dengan menggenggam kedua tangan dan meletakkan di depan dadanya. Wisanggeni tersenyum dan mengangkat tangan, untuk membalas salam penghormatan itu.
__ADS_1
"Bagaimana hewan-hewan peliharaanmu Narada...?" Wisanggeni bertanya pada salah seorang murid yang sedang memberi makan binatang peliharaannya,
"Syukurlah Guru.., binatang peliharaan saya sudah berkembang biak dua kali lipat." Narada menjawab pertanyaan yang disampaikan Wisanggeni.
"Baguslah jika begitu Narada.., teruskan pekerjaanmu. Jangan lupakan tujuan utamamu datang ke perguruan ini, perdalam kemampuan kanuraganmu untuk kembali ke tempat asalmu berada." sebelum meninggalkan tempat tersebut, Wisanggeni menyampaikan pesan kepada laki-laki itu.
"Baik.., terima kasih Guru." Narada buru-buru mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
*********
Rengganis tersenyum menyambut kedatangan Wisanggeni. Perempuan itu segera menyiapkan air untuk membersihkan suaminya, kemudian menyiapkan minuman dan makanan.
"Sepertinya Parvati sedang bermain di halaman belakang dengan murid-murid perempuan kakangmas. Apakah perlu Nimas panggil untuk datang kemari?" tidak disangka, dengan ramah dan tidak ada prasangka apapun, Rengganis menanggapi pertanyaan dari suaminya itu.
"Tidak perlu Nimas.., mungkin jika Nimas Rengganis bersedia.., aku ingin berbicara dengan Nimas Rengganis dan Maharani. Panggilkan Nimas Maharani untuk datang ke ruangan ini..., kakangmas akan membersihkan tubuh dulu." ucap Wisanggeni sambil tersenyum.
"Baik akang..., akan Nimas panggilkan." dengan tetap tersenyum Rengganis berjalan meninggalkan Wisanggeni sendirian di dalam kamar. Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu merasa lega. Dia bisa merasakan jika tidak ada persaingan untuk saling mengalahkan dan merebut perhatiannya dari kedua istrinya. Mereka menjalani peran mereka masing-masing dan juga menyadari bagaimana posisi mereka di hati laki-laki itu.
Beberapa saat kemudian, Maharani datang ke kamar tempat istirahat Wisanggeni bersama dengan Rengganis. Setelah kedua perempuan itu duduk, Wisanggeni segera duduk menemui mereka.
__ADS_1
"Nimas Rengganis, Nimas Maharani..., aku yakin banyak pertanyaan muncul di benak kalian. Tidak biasanya aku memintamu datang berdua secara khusus di ruangan ini." Wisang mengawali pembicaraan.
Rengganis dan Maharani saling berpandangan.
"Iya kakangmas.., jujur kami bertanya-tanya sejak tadi. Ada gerangan apa, sampai kang Wisang meminta kedatangan kami berdua." Rengganis menanggapi perkataan Wisanggeni.
Laki-laki itu tersenyum, kemudian menatap kedua istrinya secara bergantian.
"Aku akan meminta ijin kalian untuk mendalami ilmu warisan dari leluhur Trah Bhirawa. Sebelum ayahnda pergi, ada kitab kuno warisan leluhur yang diberikan pada kami bertiga. Tetapi untuk mendalaminya, membutuhkan waktu yang sangat panjang. Aku sendiri seberapa lama waktu yang dibutuhkan, juga tidak mengetahuinya. Bagaimana pendapat kalian berdua?" tiba-tiba Wisanggeni bertanya pendapat kedua istrinya.
Beberapa saat Rengganis dan Maharani kembali terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk memberikan komentar.
"Mungkin saya akan mulai lebih dahulu. Menurut Maharani, tujuan kang Wisang saat ini adalah untuk melestarikan ilmu warisan leluhur dari Trah Bhirawa. Meskipun butuh waktu lama yang tidak tahu sampai kapan kang Wisang akan kembali, Nimas Maharani akan mendukung keputusan itu. Pergilah Kang, doa kami menyertai." menunggu tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Rengganis, Maharani memberanikan diri untuk mendahului menyampaikan pendapat.
"Nimas juga demikian kang Wisang. Untuk kebaikan leluhur dan perguruan, Nimas Rengganis juga mendukung keputusan Akang. Adanya Nimas Maharani di perguruan ini akan meringankan beban dalam menjalankan perguruan." akhirnya Rengganis juga menyetujui dan memberikan ijin untuk suaminya mendalami Kanuragan baru.
Wisanggeni berkaca-kaca mendengar tutur kata dari kedua istrinya itu. Tanpa kata, laki-laki itu berdiri dan melangkah ke depan. Kedua perempuan itu mendapatkan pelukan erat dari laki-laki itu. Berbagai perasaan yang tak terucapkan tumpah dan hilang dalam dekapan itu.
*******
__ADS_1