
Wisanggeni mengeluarkan kitab dari dalam kepis juga tungku pembakaran obat serta kuali untuk memprosesnya. Setelah membaca kitab sebentar. dia mulai menyiapkan semua bahan herbal yang diberikan Bisma padanya, dan menaruhnya di atas meja. Dia menghirup aroma harum beberapa bahan rempah-rempah sampai kelegaan mengisi rongga dadanya.
"Sebenarnya untuk racikan untuk berendam paman Brahmono aku sudah ada, tinggal membuat jamunya. Aku akan menggunakan yang sudah jadi dulu, dan lebih baik aku menyimpan beberapa yang masih berbentuk bahan." Wisanggeni berpikir sendiri.
Setelah dia merasa semuanya sudah siap, dia segera mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan kembali. Kekuatan yang dia miliki, segera mungkin dia fokuskan pada tangan dan pikirannya. Setelah mempersiapkan tungku api dan kuali obat di depannya,
"Lontar api.., blup.." seketika tungku di depannya mulai menyala.
Wisanggeni mulai memasukkan bahan sedikit dulu, untuk mencoba apakah eksperimen yang dia lakukan cukup efektif. Dengan hati-hati dia memutar tangannya sambil membuat simbol antara jari telunjuk dengan ibu jarinya.
"Pfftt.. blast." Wisanggeni tersenyum kecut, karena belom sampai semua bahan tercampur menjadi satu, bahan obat itu langsung tercerai berai menjadi debu putih.
"Kurang cepat sepertinya, jadi belum sampai tercampur sudah menghilang dan menjadi bubuk angin." dia kembali berpikir.
Laki-laki muda itu kembali berkonsentrasi, setelah berpikir sejenak dia mencoba untuk melakukan teknik penggabungan. Dia mengecilkan api pada tungku pemanas, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya untuk melapisi kuali bagian dalam. Setelah beberapa saat, dia merubah segel tangan dan dengan cepat dia memasukkan semua bahan herbal yang dibutuhkan menjadi satu.
"Tenaga Pasopati... ufft.." dengan lirih, Wisanggeni mengeluarkan kekuatan andalannya. Dia memutar telapak tangan dan dengan cepat merubah bentuk-bentuk segel di tangannya. Keringat mulai mengalir di wajah dan menetes membasahi lehernya.
Kurang lebih dua nyala dupa, dia fokus dalam mengeluarkan tenaga dalam yang dia arahkan pada kuali di depannya. Matanya dipejamkan beberapa saat, kemudian pelan-pelan dia buka lagi. Berkali-kali dia mengulang hal yang sama, tampak kelelahan sudah mulai menghampirinya. Tetapi laki-laki muda itu tetap bertekad untuk menyelesaikan apa yang sudah dia niati dan mulai.
Tidak lama kemudian, kedua sudut mulut Wisanggeni tertarik ke atas. Matanya menjadi cerah dan berkilat, dia melihat sebentuk pil sebesar ukuran ibu jari sudah mulai terbentuk di depannya.
"Sepertinya percobaanku kali ini berhasil..," bisik Wisanggeni menyemangati dirinya sendiri.
Dia kembali merubah segel di tangannya, sambil mempertahankan agar nyala api tetap stabil.
__ADS_1
"Lontar api ..," sebuah api berwarna keunguan mengelilingi bakal pil yang sudah membentuk bundaran, dan hampir mendekati bentuk aslinya. Dia melakukannya hal tersebut untuk beberapa saat, dan saat hari menjelang sore senyum lebar kembali muncul di bibir laki-laki muda itu.
"Ha..., ha..., ha... setelah proses panjang ini, akhirnya aku bisa membuat formula ini menjadi nyata." ucap Wisanggeni sambil tertawa, dia merasa puas dengan hal yang baru saja dia hasilkan.
Tangannya dengan cepat mengambil botol porselin dari dalam kepisnya, kemudian dengan lincah dia mulai memasukkan 3 butir obat ke dalamnya.
"Masih ada 2 butir, aku akan menyimpannya. Bisa aku tawarkan di pelelangan obat, atau aku simpan. Aku yakin, suatu saat obat ini akan mendatangkan manfaat bagiku." laki-laki itu juga masih sempat berpikir tentang keuntungan diri sendiri.
Setelah membagi obat-obatan yang baru saja dia hasilkan, tidak menunggu waktu lama dia membereskan peralatan dan menyimpannya kembali ke dalam kepis. Tanpa dia sadari, karena terlalu lelahnya proses pembuatan, Wisanggeni langsung tertidur di tempat. Entah tidur atau pingsan, dia sendiri tidak bisa mendeskripsikannya.
********
Rengganis yang masih menunggu di luar kamar Wisanggeni, merasa sedikit ada kecurigaan. Karena dari pagi, dia masih merasakan aliran kekuatan, maupun suara-suara aneh muncul dari dalam kamar. Tetapi beberapa saat, dia tidak mendengar apapun dari luar kamar.
"Apakah yang terjadi dengan Kang Wisang? Apa sesuatu terjadi padanya?" gadis itu merasakan sangat khawatir dengan keadaan Wisanggeni.
Dia menghirup nafas, kemudian mengatur kekuatan nafasnya. Beberapa saat dia berada dalam kebimbangan, tetapi karena dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kekasih hatinya itu, dia membulatkan tekad untuk mengetuk pintu kamar Wisanggeni.
"Semoga keputusanku kali ini benar." Rengganis meyakinkan dirinya.
"Tok.., tok.., tok..., Kang.., Kang Wisang?" suara lemah lembut memanggil Wisanggeni, tetapi beberapa saat menunggu, Rengganis tidak mendengar jawaban dari dalam.
Merasa gugup bercampur khawatir, Rengganis mendorong pintu dari luar. Tetapi karena terkunci, dia tidak bisa masuk.
Perempuan itu segera mengeluarkan tenaga dalam dan memfokuskan pada tangan kanannya, dan dengan sekali hentak pintu kamar Wisanggeni terbuka.
__ADS_1
"Kang.., akang Wisang, apa yang terjadi?" melihat Wisanggeni yang tertidur di atas lantai yang terbuat dari kayu, Rengganis langsung berlari menghampirinya.
Dengan perasaan khawatir, dia mengangkat kepala laki-laki muda itu kemudian meletakkannya di pangkuan. Rengganis mengambil pergelangan tangan Wisanggeni, kemudian di leher bagian samping.
"Kasihan Kang Wisang, energi dalam tubuhnya hampir habis. Aku akan memindahkan dulu sebagian energiku ke tubuhnya." Rengganis bergumam sendiri.
Pelan-pelan Rengganis membaringkan Wisanggeni ke lantai, dan mengganjal lehernya dengan menggunakan bantal kursi. Setelah itu dia mengangkat tangannya, setelah memompa pernafasan dia meletakkan tangannya di atas dada Wisanggeni. Hal seperti itu dia lakukan beberapa kali.
Setelah beberapa saat, Wisanggeni mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat membuka matanya, dan melihat mata jernih Rengganis di depannya laki-laki itu tersenyum.
"Terima kasih Nimas.., aku kelelahan.Ternyata dibutuhkan banyak energi untuk membuat pil itu. Tapi syukurlah, semua sudah berakhir." ucap Wisanggeni pelan.
Rengganis membantu Wisanggeni untuk duduk, kemudian membantunya berdiri.
"Kakak makan dulu saja untuk mengganti energi yang hilang. Jangan banyak bicara dulu!" Rengganis segera menyiapkan makanan dan membuatkan minuman hangat untuk Wisanggeni.
"Minumlah dulu Kang.." secangkir wedang jahe serai dituangkan Rengganis dari termos yang sudah disiapkan pelayan sejak siang.
Wisanggeni menerima cangkir dari tangan Rengganis, kemudian menyesapnya sedikit. Rasa hangat mengalir dari tenggorokan menuju dada dan perutnya.
"Sudah kang, jika sudah Akang makanlah dulu!" Rengganis memberikan satu piring nasi yang sudah diberi lauk dan sayur di atasnya.
"Akang makan sendiri atau Anis suapi?" tanya Rengganis.
"Aku masih kuat Nimas, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Ayo, kamu juga sekalian ikut makan. Aku yakin, kamu sendiri juga belum makan nasi dari tadi." Wisanggeni mengajak Rengganis makan bersama.
__ADS_1
Kedua orang itu akhirnya makan bersama, dan sesekali mereka bertukar lauk dengan saling meletakkannya pada piring masing-masing.
**********