
Chakra Ashanka tersenyum menatap kedatangan Rengganis menuju kepadanya. Para pengawal Narodho tidak ada yang berani mendekati perempuan itu, karena rupanya mereka sudah mengukur diri dan kemampuan mereka. Melihat juragan mereka yang memiliki kanuragan tinggi saja, bertekuk lulut di hadapan perempuan itu, apalagi mereka. Oleh sebab itu, mereka memilih menghindar ketika akan berpapasan langsung dengan Rengganis.
"Bibi Rengganis.., bagaimana Bibi bisa bertarung melawan laki-laki itu. Bukannya ketika Ratih meninggalkan Bibi keluar, Bibi sedang melakukan meditasi." Sekar ratih langsung menyambut kedatangan ibunda dari Chakra Ashanka itu, dan bertanya tentang keadaannya.
"Tidak sengaja Ratih.., Bibi tadi merasa ada urusan sebentar untuk keluar kamar. Rupanya terjadi kekacauan di luar kamar, sehingga untuk melindungi pengunjung yang lain, akhirnya Bibi harus sedikit beroleh raga." Rengganis merendah, perempuan itu tidak menyombongkan dirinya. Mata perempuan itu tiba-tiba berbinar, ketika menyadari putranya Chakra Ashanka tengah menatapnya, dan berdiri di samping gadis muda yang sangat cantik itu.
"Bunda.., baru kali ini setelah sekian lama, Ashan bisa kembali menyaksikan ibunda bertarung sendiri tanpa ada ayahnda di samping ibunda.." dengan raut wajah bahagia, Chakra Ashanka menyanjung ibundanya.
Ayodya Putri merasa bingung, gadis itu sama sekali tidak mengira jika ternyata perempuan yang masih terlihat muda dan sangat cantik itu, ternyata ibunda dari anak muda yang sudah membuatnya terkesan.
"Jadi.., jadi... Bibi ini ibundamu kang Ashan..?" dengan suara lirih nyaris tak terdengar, Ayodya Putri bertanya tentang Rengganis.
Chakra Ashanka tersenyum dan menganggukkan kepala. Anak muda itu segera berjalan mendekat pada Rengganis, dan tanpa ada rasa malu sedikitpun, di depan orang banyak Chakra Ashanka memberi pelukan erat pada ibundanya. Di sekeliling mereka, tatapan kekaguman terlihat dari orang-orang yang turut menyaksikan pemandangan itu. Terlihat Ayodya Putri tersenyum malu melihat interaksi keakraban antara putra laki-laki dan ibundanya.
"Siapa gadis cantik ini Ashan.., apakah ibundamu ini boleh untuk mengenalnya?" dengan senyum menggoda, Rengganis menanyakan tentang Ayodya Putri.
__ADS_1
"Bibi ini bisa saja. Kebetulan nama saya Ayodya Putri Bibi, dan kang Ashan menyebutku dengan nama panggilan Putri. Bukankan demikian kang Ashan..?" gadis muda itu menjawab pertanyaan Rengganis, dan mengalihkan jawaban pada putra perempuan yang tersenyum di depannya itu.
Sambil tetap dirangkul Chakra Ashanka, Rengganis mengajak putranya untuk lebih mendekati Ayodya putri. Di samping mereka, terlihat tatapan Sekar ratih dengan pandangan yang kurang menyukai apa yang terlihat di depannya itu.
"Kamu benar-benar perempuan muda yang sangat cantik Putri. Dan kecantikanmu akan menjadi lebih bersinar, jika kamu ikuti dengan etika dan tata krama sebagai seorang perempuan yang bermartabat." mengingat sifat keras dan sombong gadis cantik itu, dengan nada sarkasme Rengganis menasehati gadis muda itu.
"Terima kasih atas petuahnya Bibi.., Putri jadi malu dengan sikap dan kelakuan selama ini." dengan menundukkan kepala, gadis muda itu ternyata mengakui kekeliruan yang pernah dilakukannya.
"Tidak masalah gadis cantik.. Yang terpenting adalah apa yang akan kita hadapi di masa depan, bukan dengan apa yang sudah kita hadapi di masa lalu. Berubahlah.., maka wajahmu akan semakin bersinar cerah." masih dengan niat untuk memberi nasehat pada gadis muda itu, Rengganis terus menanggapi perkataan yang diucapkan oleh Ayodya Putri. Gadis muda itu menundukkan kepala, merasa malu mendengar perkataan dari Rengganis. Chakra Ashanka hanya tersenyum melihat komunikasi dua arah yang terjadi di dekatnya.
Beberapa pengawal Narodho membawa kereta kuda mengangkat tubuh Narodho yang terluka parah, di bawah tatapan cemoohan orang-orang yang berada disitu, mereka akhirnya membawa pergi tubuh bangsawan itu meninggalkan penginapan. Dari dalam penginapan, Ayodya Putri baru merasa tersadar, jika pertarungan yang terjadi antara Rengganis dan laki-laki yang selalu mengejarnya itu, disebabkan karena dirinya. Narodho yang memang mata keranjang, tidak pernah bisa melihat seorang perempuan cantik menganggur. Maka ketika laki-laki itu tidak bisa menemukan dirinya, Rengganis menjadi sasarannya.
"Apa yang kamu lihat gadis cantik..?" dengan suara pelan Rengganis bertanya pada Ayodya Putri. Gadis muda itu masih melihat keadaan di luar penginapan. Halaman penginapan yang semula rapi tertata dengan apik, kali ini sudah berubah menjadi porak poranda. Bahkan terlihat beberapa pelayan penginapan saat ini sedang menata kembali tempat yang terlihat acak-acakan.
"Mmm.. itu Bibi.. melihat bekas pertarungan yang dilakukan Bibi dengan Narodho. Hanya terima kasih yang bisa Putri haturkan untuk Bibi, dimana Bibi sudah bertarung dengan laki-laki itu." sambil menundukkan kepala, gadis itu menjawab pertanyaan Rengganis.
__ADS_1
"Maksudmu apa Putri.., kenapa Bibi tidak dapat menangkap maksud dari perkataanmu.. Apakah ada yang salah dengan pertarungan yang sudah Bibi lakukan barusan." Rengganis berusaha mempertegas kembali apa yang sudah dilakukannya beberapa saat tadi.
"Laki-laki itu, Narodho.. yang tadi bertarung dengan Bibi,.., sebenarnya.., sebenarnya..." Ayodya putri tidak dapat melanjutkan kembali kata-katanya.
"Sebenarnya ada apa Putri.. Bibi tidak bisa menangkap maksud yang kamu utarakan." Rengganis merasa bingung, perempuan itu menatap mata gadis muda itu dengan lekat.
"Sebenarnya Narodho itu datang untuk mencari dan membawa Ayodya Putri Bunda.. Bukankah begitu Nimas Putri..?" merasa memahami perkataan apa yang akan diucapkan oleh gadis muda itu, Chakra Ashanka membantu menjelaskan pada ibundanya. Gadis muda itu semakin malu dan takut, Ayodya Putri tidak berani mengangkat wajahnya ke atas. Melihat hal itu, Rengganis tersenyum. Ujung jari perempuan itu diangkat dan digunakan untuk memegang ujung dagu gadis muda itu. Perlahan Rengganis mengangkat wajah Ayodya Putri ke atas.
"Hilangkan rasa bersalahmu Nimas.. Kamu tidak bersalah, hanya kebetulan saja Bibi yang berjumpa lebih dulu dengan Narodho. Bibi juga yakin, jika itu orang lain.., pasti mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan yang sudah Bibi lakukan." dengan suara pelan, perkataan Rengganis seperti menyiram tanah kering di hari Ayodya Putri. Perlahan senyuman mulai muncul di bibirnya yang mungil, dan gadis muda itu tiba-tiba memeluk erat tubuh Rengganis dengan erat.
Chakra Ashanka dan Sekar Ratih saling berpandangan, kemudian mereka melangkah meninggalkan Rengganis dan Ayodya Putri. Melihat jika mereka ditinggalkan, kedua perempuan itu menoleh kemudian mengejar langkah keduanya.
"Apakah sopan kalian meninggalkan pihak yang lebih tua seperti ini Ashan.., Ratih..?" perkataan yang diucap Rengganis menghentikan langkah Chakra Ashanka dan gadis kecil itu. Kedua orang itu menghentikan langkah, kembali saling berpandangan, akhirnya menoleh dan tersenyum melihat Rengganis,
"Kami pikir ibunda dan Nimas Putri membutuhkan waktu khusus untuk melanjutkan perbincangan. Dari pada keberadaan kami berdua mengganggu kemerdekaan, kami memutuskan untuk melanjutkan menikmati minuman panas di kedai minuman ibunda.." Chakra Ashanka menjawab pertanyaan ibunndanya. Semua yang berada disitu tertawa mendengar perkataan yang diucapkan anak muda itu.
__ADS_1
*********