
Pangeran Abhiseka dan beberapa orang disitu melihat ke arah pintu pondok Wisanggeni. Laki-laki gagah pemimpin padhepokan ini, berjalan keluar menghampiri mereka yang menatap dengan pandangan terpaku. Dengan tersebut pahit, Pangeran Abhiseka mendekati laki-laki itu.
"Apakah kedatanganku malam ini mengganggu istirahatmu Wisang.?" dengan cepat, Pangeran Abhiseka mengajukan pertanyaan pada Wisanggeni.
"Tidak Pangeran, kebetulan aku baru saja selesai melakukan meditasi. Mendengar ada yang bercakap-cakap disini, akhirnya aku keluar. Sebenarnya ada apa ini, malam-malam Pangeran dan kedua pengawal berada di sini?" Wisanggeni menanggapi perkataan yang diucapkan Pangeran Abhiseka.
"Kerajaan Laksa Wisang.." ucap Pangeran Abhiseka lirih.
"Laksa.., ada apa dengan kerajaan itu?" Wisanggeni yang tidak memahami maksud perkataan dari Pangeran Abhiseka, mempertegas pertanyaan.
"Baru saja merpati koleksiku datang ke tempat ini. Ternyata ayahnda raja yang memintanya kesini untuk memberi tahuku. Kerajaan dalam bahaya, ayahnda dan ibunda Ratu saat ini ada di penjara." dengan suara tercekat, Pangeran Abhiseka mengatakan apa yang terjadi.
Wisanggeni terkejut, laki-laki itu seperti tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Laki-laki itu kembali menatap mata Pangeran Abhiseka, tetapi sedikitpun tidak tampak ada kebohongan di matanya.
"Putra ibunda selir melakukan pemberontakan, laki-laki itu ingin menguasai kerajaan. Dengan dibantu para antek-antek kerajaan, mereka berjas menggulingkan ayahnda. Ternyata mereka memanfaatkan kepergianku Wisang." dengan reaksi sedih, Pangeran Abhiseka melanjutkan cerita.
"Baiklah Pangeran, tenangkan dirimu! Sebagai seorang saudara, aku pasti akan membantumu. Aku akan meminta ijin pada Nimas Rengganis untuk memberi tahu masalahmu. Kembali dan bersiaplah di peraduanmu, tidak lama lagi aku akan menjemputmu setelah berbicara dengan Nimas Rengganis." Wisanggeni langsung berpikir cepat.
"Tunggul Seto..., Baskoro.., bantu aku. Panggil dan kumpulkan para murid pilih tanding beserta para Guru penanggung jawab di pendopo. Aku akan menyampaikan informasi pada mereka." setelah berbicara pada Pangeran Abhiseka, Wisanggeni segera memerintahkan pada Baskoro dan Tunggul Seto.
"Baik Aden.., ijin kami pergi untuk menjalankan perintah." kedua murid dalam perguruan itu, segera berpamitan dan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Begitu juga dengan Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya, mereka langsung berbenah diri untuk bersiap-siap dalam kamarnya. Sepeninggal orang-orang itu, Wisanggeni dengan segera masuk kembali ke dalam senthongnya. Tidak diduga ternyata Rengganis duduk di atas dipan sedang menantinya.
"Nimas mendengar apa yang kami bicarakan tadi dengan Pangeran Abhiseka di luar?" dengan suara lembut dan hati-hati, Wisanggeni berbicara pada Rengganis.
"Iya Kang Wisang, aku tanpa sengaja mendengarnya. Pergilah Kang..,bantulah Pangeran Abhiseka. Sebagai seseorang yang sudah dianggap sebagai saudara, dan atas semua bantuan Pangeran Abhiseka terhadap padhepokan ini, kita harus membantunya." tidak diduga, belum dimintai pendapat, Nimas Rengganis sudah mengatakan pendapatnya.
"Tapi, baru beberapa hari aku disini, sekarang harus meninggalkanmu Nimas. Apakah kamu tidak merasa keberatan?" kembali Wisanggeni mencoba menguji perasaan perempuannya muda itu.
"Apa yang ada di depan kita lebih membutuhkan keberadaan suamiku. Bahkan aku juga akan mengumpulkan beberapa murid untuk aku ajarkan strategi berperang. Jika sesuatu yang berbahaya terjadi dengan kerajaan Laksa, aku akan mengirimkan para murid untuk berlatih di medan yang sesungguh." tidak diduga, Rengganis memiliki sebuah pemikiran yang bagus. Wisanggeni tersenyum kemudian memeluk erat istrinya. Kecupan di kening perempuan muda itu, diberikan oleh Wisanggeni.
"Terima kasih atas pengertiannya Nimas. Malam ini juga aku akan berangkat dengan mengendarai Singa Ulung. Hati-hatilah menjaga diri dan padhepokan ini. Palilahku selalu bersamamu Nimas, sangat beruntung dan berbahagia aku memiliki istri sepertimu." dengan penuh haru, akhirnya Wisanggeni berjalan meninggalkannya istrinya kembali.
Malam itu juga, akhirnya Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka serta keempat orang lagi termasuk Andhika dan Jatmiko meninggalkan padhepokan dengan membawa Singa Ulung dan Singa Resti. Di belakang mereka, empat puluh murid pilih tanding dengan dipimpin Asoka, menempuh perjalanan dengan menggunakan kuda. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka, tanpa membangunkan penghuni padhepokan yang tidak berkepentingan.
Di pinggir halaman, Wisanggeni memeluk erat dan mencium Rengganis dan Chakra Ashanka. Sebenarnya laki-laki itu ingin membawa putranya untuk berlatih berperang, tetapi ibunda Renggang tidak mengijinkannya.
"Nimas..., aku akan segera berangkat. Ashan.., sebentar lagi kami akan menjadi laki-laki dewasa. Jaga ibundamu dan padhepokan ini selama ayahnda tidak ada di sini." sebelum berangkat, Wisanggeni kembali berpamitan pada istri dan putranya.
"Baik ayahnda.., percayakan keselamatan ibunda padaku. Aku akan menjaga ibunda ayah, tidak perlu mengkhawatirkan ibunda
" dengan suara khasnya, Chakra Ashanka menjawab permintaan Wisanggeni.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu tersenyum mendengar jawaban dan janji yang diucapkan putra mereka. Setelah melihat semua pasukan yang menggunakan kuda siap berangkat, mereka segera berjalan menuju halaman.
"Nimas Rengganis, terima kasih atas pengertiannya sehingga mengijinkan Wisanggeni untuk membantuku. Aku tidak akan melupakannya." melihat kedatangan Rengganis, Pangeran Abhiseka segera menyampaikan ucapan terima kasih.
"Jangan bicara seperti itu Pangeran. Tidak perlu terlalu sungkan, kita semua adalah saudara. Pergilah dan bawa kembali suamiku kembali ke padhepokan ini." dengan penuh rasa haru, Rengganis menanggapi perkataan yang diucapkan Pangeran Abhiseka.
"Baik Nimas.., ayo Wisang kita segera berangkat." Pangeran Abhiseka segera mengajak Wisanggeni untuk berangkat. Setelah menengok ke wajah istri dan putranya sekali lagi, Wisanggeni segera berjalan mengikuti Pangeran Abhiseka.
"Plak...,plak.., plak.." di depan mereka berdua, pasukan berkuda yang dibentuk dalam waktu yang singkat, dengan dipimpin Asoka segera berlari meninggalkan padhepokan. Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka kemudian berpandangan, dan melompat ke punggung Singa Ulung dan Singa Resti. Kedua orang itu melambaikan tangan segera memberi isyarat pada keempat orang yang pergi bersama mereka untuk segera mengikuti langkah mereka.
Tidak lama kemudian, kedua binatang singa itu terbang dengan membawa keenam orang di punggung mereka. Dari bawah, Rengganis dan Chakra Ashanka melihat kepergian mereka, sampai tidak terlihat lagi bayangan binatang itu dari atas langit. Rengganis langsung memeluk tubuh Chakra Ashanka kemudahan membawa anak laki-laki itu kembali masuk ke dalam.
"Bunda..., apakah ibunda merasa kehilangan ayahnda Wisang..?? Bukankah kepergian ayahnda untuk memberi bantuan pada Pangeran Abhiseka bunda?" seperti memahami perasaan ibundanya, Chakra Ashanka bertanya pada ibundanya.
"Rasa sakit pasti akan mengikuti putraku, meskipun kita sudah memberinya ijin. Suatu saat pasti putraku akan mengalaminya sendiri. Ibunda sangat menyayangi dan mencintai ayahndamu Ashan.." ucap Rengganis lirih sambil menatap mata putranya. Seperti memahami kesedihan yang dirasakan ibundanya, laki-laki kecil itu segera membawa Rengganis kembali masuk ke dalam kamar.
"Kembalilah beristirahat ibunda.., Ashan akan menjaga ibunda." laki-laki kecil itu meminta ibundanya kembali beristirahat
Setelah melihat Rengganis berbaring dia atas dipan, Chakra Ashanka duduk di atas kursi dan melihat ke arah Rengganis yang mulai memejamkan mata.
*******
__ADS_1