Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 196 Pil Penguat Keturunan


__ADS_3

Di dalam Goa


Wisanggeni kembali terkejut melihat kilat petir yang dengan cepat masuk dan menyambar wadah pengolahannya obat. Belum hilang rasa lelahnya mengatasi pusaran angin di hari kemarin, kali ini sudah muncul kekuatan petir yang menyerbu masuk ke dalam wadah. Jika tidak hati-hati dan tidak dapat mengendalikannya, Wisanggeni khawatir bahan-bahan ramuan yang sangat sulit untuk dikumpulkan akan musnah menjadi abu.


"Uuftt..., hoops.." kembali Wisanggeni melipat gandakan kekuatannya, aura batin dengan deras keluar membanjiri kedua tangannya.


"Srettt .., jeglarr.." kilatan-kilatan kecil tetap keluar meskipun petir itu sudah tidak berada di angkasa.


Belajar dari bagaimana mengendalikan pusaran angin, Wisanggeni lebih berhati-hati dalam menangani kilat dan petir ini. Dengan menggunakan aura batin dan kekuatannya, muncul ide yang berkelebatan di pikiran laki-laki itu, untuk menjadikan petir sebagai pemanas alami untuk mempertahankan panas yang ditempa pada pil yang sudah terbentuk itu.


Ketika kilat itu akan melompat keluar, dengan sigap Wisanggeni akan menangkapnya kembali menggunakan kekuatannya. Untuk memastikan hasil yang maksimal, laki-laki itu juga mengeluarkan kekuatan maksimalnya. Bahkan keributan yang terjadi di luar goa, sedikitpun tidak membuyarkan fokus dan konsentrasinya. Mata tajamnya terus mengamati dengan seksama setiap proses pengolahan obat. Esensi naga perak membuat guratan keperakan tipis di pinggiran pil yang sudah mulai terbentuk. Warna emas dan ungu juga terlihat dominan mewarnai pil tersebut.


Waktu terus berlalu, dan tenaga Wisanggeni serasa sudah tersedot semua untuk menghasilkan bulatan -bulatan kecil itu. Untuk keturunan dari Wisanggeni, laki-laki itu tidak mau bermain-main. Wisanggeni bertekad untuk mengupayakan yang terbaik untuk keturunannya. Saat Rengganis berbadan dua, Wisanggeni tidak perlu bersusah payah untuk menyiapkan kekuatannya. Karena garis keturunan dari Jagadklana dan Bhirawa jika sudah dibangkitkan, akan menjadi bekal yang kuat untuk Chakra Ashanka.


"Akhirnya..." ucap Wisanggeni pelan, matanya berbinar melihat kilatan-kilatan petir yang sudah mulai melemah dan akhirnya menghilang. Tujuh bulatan-bulatan kecil berwarna emas keunguan dengan pinggiran warna perak sudah mulai terbentuk halus di dalam wadah. Aroma harum menyeruak hadir memenuhi hidung laki-laki itu.


"Pil ini terbentuk dengan sempurna melebihi harapanku. Keturunan Wisanggeni dari manusia ular akan segera lahir di muka bumi ini." dua lengkungan naik ke atas dari bibir Wisanggeni.


Tidak lama kemudian Wisanggeni mengelus botol porselin dari dalam kepis, dengan sigap laki-laki itu segera memasuki tujuh butir pil ke dalam botol tersebut. Sebelum menutupnya, Wisanggeni mencium aroma pekat dari menyegarkan dari pil tersebut. Tiba-tiba laki-laki itu merasakan kekuatannya kembali, dan bahkan jauh lebih meningkat.

__ADS_1


"Hanya menghirup aroma saja, semua kelelahan ku langsung menghilang, apalagi jika pil ini dikonsumsi." dengan suara pelan dan bibir tersenyum, Wisanggeni memuji pil buatannya.


"Aaaaaww..." tiba-tiba telinga Wisanggeni mendengar teriakan kesakitan dari Pangeran Abhiseka di luar goa. Dengan cepat, laki-laki itu menutup botol porselin dan memasukkannya ke dalam kepis.


Untuk lebih mengembalikan semua tenaganya, Wisanggeni mengambil pil untuk mengembalikan stamina dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya. Merasakan khawatir dengan keadaan Pangeran Abhiseka, Wisanggeni segera melompat dan berdiri. Tanpa memperhatikan sekitar, dengan cepat laki-laki itu melesat keluar menuju depan goa.


Di luar goa, Wisanggeni dikagetkan dengan pemandangan di depan matanya. Pohon-pohon bertumbangan, dan terlihat Pangeran Abhiseka tergeletak di atas tanah. Mata Wisanggeni langsung membulat melihat pemandangan itu, tanpa berpikir panjang melihat enam orang itu menjatuhkan Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya, laki-laki itu langsung mengirimkan serangan dari belakang.


"Akulah lawan kalian semua.. Terimalah.. kekuatan Pasupati mengguncang bumi. Jeglarr..." formasi lingkaran yang dibentuk lima orang itu langsung porak poranda, saat pukulan tenaga dalam Wisanggeni diarahkan pada mereka.


"Siapa kamu..., beraninya menyerang kami dari arah belakang?" laki-laki tua itu membalikkan badan, dan bertanya pada Wisanggeni dengan marah.


"Huh.., apa kamu pikir, kelakuanmu merupakan lelaki seorang ksatria? Enam orang akan menghabisi tiga orang-orangku?" dengan senyum sinis, Wisanggeni menanggapi pertanyaan laki-laki tua itu dengan balik bertanya. Melihat sikap Wisanggeni yang tidak ada sopan-sopannya, laki-laki tua itu langsung melompat ke hadapan Wisanggeni.


"Hmm..., berani juga kamu ternyata. Kekuatanmu juga tidak boleh untuk diremehkan." dengan suara sinis, laki-laki tua itu mundur beberapa langkah ke belakang. Dengan cepat tangan laki-laki tua tersebut membentuk sebuah simbol.


Seperti biasa, Wisanggeni tidak akan membiarkan simbol itu utuh terbentuk, dengan cepat Wisanggeni menggunakan tenaga dalamnya berlari mendekati laki-laki tua itu.


"Plak.., plak.. ciattt..." dengan dilandasi tenaga dalam dan kekuatan Pasupati, Wisanggeni memberi pukulan dan membubarkan simbol di tangan laki-laki tua tersebut.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu anak muda, beraninya kamu menyerangku." sambil memegang dadanya, laki-lakinya tua itu menatap Wisanggeni dengan marah. Matanya menyipit dan berwarna merah, tiba-tiba..


"Bang..., bang..." kilatan api berwarna merah keluar dari telapak tangannya dan dengan keras meluncur ke arah Wisanggeni.


Melihat serangan itu, Wisanggeni hanya tersenyum. Berkali-kali melakukan pertarungan, dan mendapatkan warisan ilmu Kanuragan, Wisanggeni menganggap remeh serangan tersebut. Dengan melompat ke samping, Wisanggeni menghindari serangan itu. Tetapi tidak diduganya, serangan itu seperti senjata bumerang. Kemanapun Wisanggeni bergeser, serangan itu tetap mengejarnya.


"Ehmm..., kamu mengajak aku bermain-main ya, laki-laki tua..!" dengan senyuman sinis, tiba-tiba dari tangan Wisanggeni keluar sebuah kabut asap. Kabut asap itu dengan segera diarahkan Wisanggeni untuk menangkap kilatan api tersebut.


"Petir api dari raja langit saja tunduk dalam genggamanku, apalagi hanya kekuatan kilat api yang kamu ciptakan.." dengan nada mengejek, Wisanggeni berbicara pada laki-laki tua itu.


"Pessszh..." seperti sebuah balon, kilat api buatan laki-laki tua itu langsung padam setelah digulung oleh kabut buatan Wisanggeni. Melihat kilat api buatannya hanya dianggap oleh laki-laki di depannya, wajah laki-laki tua itu terlihat memucat.


"Siapa kamu anak muda.., dan ada urusan apa kamu berada di gua ini? Apakah kamu laki-laki yang sudah mengolah pil di dalam gua?" menyadari kekuatannya tidak akan sanggup menandingi Wisanggeni, laki-laki tua itu membuka pembicaraan dengan putra Ki Mahesa itu.


"Kamu tidak salah laki-laki tua, tetapi kamu sudah melakukan kesalahan dengan mencampuri urusanku. Apalagi kamu telah berani menyerang Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya. Mereka adalah saudara-saudaraku." dengan senyum sinis, Wisanggeni menjawab pertanyaan laki-laki tua itu.


"Ampun.., ampuni saya anak muda. Anggap saja, kita tidak pernah memiliki sebuah urusan. Biarkan saya dan orang-orang itu pergi dari sini." mengetahui identitas Wisanggeni dan orang-orang yang sudah dihajarnya, laki-laki tua itu memilih untuk menghentikan masalah.


"Cepat pergilah dari hadapanku, sebelum amarahku bangkit kembali!" tidak mau memperpanjang masalah, Wisanggeni meminta laki-laki tua dan orang-orangnya segera meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


*******


***********


__ADS_2