Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 144 Saatnya Kembali


__ADS_3

Setelah dilakukan selama satu minggu dengan bergotong royong, akhirnya puing-puing dan reruntuhan bekas pertempuran sudah bisa dibersihkan. Bahkan bangunan baru sebagai bangunan pengganti yang sudah hancur dan roboh, juga sudah berhasil didirikan. Nyai Ageng dan Chakra Ashanka juga sudah dibawa kembali ke pesanggrahan tempat Trah Jagadklana berada.


Malam itu, keluarga Ki Sasmita berkumpul di dalam pendhopo kecil. Mereka ingin berbincang-bincang dengan akrab, karena sudah sekian lama mereka tidak dapat merasakan duduk dan berbicara bersama dari hati ke hati. Maharani yang merasa bukan anggota keluarga, sebenarnya menolak untuk ikut berada disitu. Tetapi dengan alasan untuk menemaninya, Wisanggeni memaksa Maharani untuk mendampinginya. Perlahan-lahan, Wisanggeni sudah bisa menganggap Maharani hampir sejajar dari Rengganis. Meskipun terkadang, dia masih lebih mengistimewakan Rengganis daripada Maharani.


"Apakah kalian bertiga.., besok pagi akan jadi meninggalkan Jagadklana Wisang?" Ki Sasmita bertanya pada Wisanggeni. Putra Ki Mahesa itu menatap Ki Sasmita sambil tersenyum.


"Bukan bertiga ayahnda.., tetapi berempat. Karena Chakra Ashanka juga akan Wisang bawa ayah." Wisanggeni membetulkan kalimat yang diucapkan Ki Sasmita. Nyai Ageng terlihat tidak enak wajahnya mendengar perkataan yang disampaikan Wisanggeni.


"Maksudmu Ashan yang masih sekecil ini mau kamu ajak bertualang Wisang?? Apakah kalian tidak berpikir untuk meninggalkan putra kalian untuk menemaniku yang sudah tua ini?" Nyai Ageng menanggapi perkataan Wisanggeni dengan nada sedikit tinggi.


"Bunda.., tolong pahami Rengganis dan Kang Wisang bunda.. Jika Ibunda sebagai nenek dari Ashan saja enggan berpisah atau ditinggalkan, bagaimana dengan perasaan Rengganis dan Kang Wisang bunda??" dengan lembut, Rengganis mencoba menenangkan Nyai Ageng. Perempuan muda itu memeluk ibundanya dari samping.


Nyai Ageng terdiam, perempuan tua itu memandang wajah Ashan yang berada di pelukannya. Perlahan perempuan tua itu menundukkan wajahnya, kemudian memberi ciuman di pipi Chakra Ashankan.


"Eyang putri pasti akan merindukan kamu Ashan..??" perlahan air mata menggenangi kelopak mata Nyai Ageng, kemudian menetes di sudut matanya. Dengan cepat, Rengganis menggunakan sudut selendangnya menghapus air mata di pipi ibundanya.

__ADS_1


"Uti.., mengertilah juga dengan perasaan putri dan menantumu. Masak kita sebagai orang tua tidak memberikan contoh yang baik pada mereka. KIta tidak bisa memisahkan hubungan antara seorang ibu dan anak. Rengganis saat ini sudah menjadi istri dan pendamping bagi Wisanggeni. Karena merekalah ada Chakra Ashanka. Rengganis harus menurut dan mengikuti suaminya, itu adalah tugas seorang istri." dengan suara pelan, Ki Sasmita menasehati Nyai Ageng.


Nyai Ageng mengambil nafas panjang, kemudian kembali menciumi pipi Chakra Ashanka. Setelah melihat cucunya beberapa kali, perlahan Nyai Ageng menyerahkan tubuh cucunya yang masih tertidur ke pangkuan Rengganis.


"Ambillah putramu sekarang, daripada ibunda berubah pikiran. Jaga dan didik dia dengan baik.." ucap Nyai Ageng berpesan pada Rengganis. Dengan perasaan suka cita, Rengganis mengambil putra satu-satunya dari tangan Nyai Ageng.


"Bunda.., ayahnda.., malam sudah semakin larut. Besok pagi.., Wisang akan membawa Rengganis dan Ashan untuk berangkat. Kami akan bersama-sama dengan rombongan Sentono yang akan kembali ke Akademi. Mungkin kami akan kembali ke kamar untuk berisitirahat.." untuk menjaga perasaan ibunda mertua, Wisanggeni meminta ijin untuk kembali beristirahat, dan sekaligus memohon pamit untuk meninggalkan Jagadklana.


"Baiklah Wisang..., pergilah. Ayahnda mengijinkanmu, dan sekali lagi ayah titipkan Rengganis padamu. Perlakukan dia dengan baik dan adil, karena saat ini kamu memiliki dua istri. Rengganis dan Maharani memiliki hak yang sama atas dirimu." Ki Sasmita menasehati Wisanggeni.


"Iya ayahnda.., mohon bantuan do.a, agar Wisang bisa menjaga Nimas Rengganis dan Nimas Maharani." dengan taklim, Wisanggeni mencium tangan Ki Sasmita.


**********


"Sentono.., sepertinya ayahnda dan ibunda tidak akan mengantarkan kita untuk meninggalkan Trah ini. Tadi malam, aku dan Nimas Rengganis sudah berpamitan dan sekaligus memamitkan kalian untuk keluar dari Jagadklana." setelah beberapa saat menunggu Ki Sasmita dan Nyai Ageng tidak segera keluar, akhirnya Wisanggeni berbicara dengan Sentono. Wisanggeni memahami perasaan kedua mertuanya itu, bagaimana mereka ditinggalkan putri dan cucunya.

__ADS_1


"Baiklah jika seperti itu Wisang.., kita akan segera berangkat." Sentono mempercayai apa yang disampaikan Wisanggeni. Segera Sentono memberi informasi pada pimpinan dari masing-masing kelompok untuk segera meninggalkan tempat itu.


Setelah melihat pondok yang digunakan Ki Sasmita dan Nyai Ageng beristirahat, Rengganis mengusap air matanya. Melihat suasana hati istrinya, Wisanggeni segera merangkul Rengganis dan mengajaknya untuk berjalan bersama. Hanya dengan tindakan seperti itu, Rengganis kembali merasakan ketenangan dalam hatinya.


"Wisang.., bagaimana kalau aku dan Niluh akan mengikutimu. Kami berdua ingin bertemu dengan saudara-saudara kira dari Klan Bhirawa." Gayatri berjalan di samping Wisanggeni, meminta ijin untuk melihat keberadaan Klan Bhirawa saat ini. Wisanggeni tersenyum kemudian melihat pada Sentono.


"Bawalah mereka Wisang..., aku akan mengawasi sementara sampai Akademi kembali beroperasi seperti dulu. Jika saatnya tiba.., aku akan menyusul kalian di Klan Bhirawa. Akupun juga sama dengan kalian, aku ingin bertemu dengan saudara-saudara kita." merasa jika Wisanggeni meminta persetujuannya atas keinginan Gayatri dan Niluh, akhirnya Sentono memberikan ijin pada mereka.


"Baiklah Sentono jika itu maumu. Aku akan membawa Gayatri dan Niluh bersamaku. Tetapi yang perlu kalian ingat, sebelum kita ke kota Laksa tempat keberadaan Klan Bhirawa saat ini berada, kita akan ke Gunung Jambu terlebih dahulu. Aku akan menemui ayah dan saudara-saudaraku disana terlebih dahulu. Mereka sudah lama menunggu kami." akhirnya Wisanggeni menyetujui untuk membawa mereka berdua.


Rengganis dan Maharani tersenyum.., mereka merasa mendapatkan tambahan orang untuk bersama-sama membesarkan Klan Bhirawa. Setelah mendapatkan kesepakatan, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju tepi danau.


Di depan teras pondok terlihat Ki Sasmita yang sedang memeluk tubuh Nyai Ageng. Mereka berdua sebenarnya mengetahui saat Wisanggeni dan rombongan menunggu mereka untuk berpamitan. Tetapi memahami rasa enggan mereka untuk berpisah dengan putri dan cucunya, akhirnya mereka memilih untuk melihat mereka dari kejauhan.


"Sabarlah Nimas..., pada saatnya jika Jagasetra bersedia menggantikan kepemimpinan di Trah ini, kita berdua akan pergi menyusul mereka. Tidak ada salahnya kita bergabung dengan Klan kecil." Ki Sasmita berusaha menghibur Nyai Ageng.

__ADS_1


"Iya Kangmas.., maafkan aku. Aku hanya merasa belum selesai rasa kangenku pada mereka. Tetapi dalam waktu secepat ini, kita sudah mereka tinggalkan." ucap Nyai Ageng sendu.


***************


__ADS_2