
Sore Harinya
Trah Bhirawa sesaat menjadi sibuk, karena mereka tidak menyangka akan banyak pengawal kerajaan yang berjaga-jaga dan menerobos masuk ke dalam pesanggrahan. Para pengawal memastikan jika tidak ada hal-hal yang terlihat membahayakan di tempat tersebut, agar raja dan ratu mereka dalam keadaan aman ketika berada di Trah Bhirawa. Dari dalam pendhopo.. Ki Mahesa dan Lindhu Aji berjalan keluar untuk menemui tamu yang tidak diundang itu.
"Apa yang Ki Sanak lakukan di tempat ini. Apakah Ki Sanak dan para pasukan kerajaan berpikir jika kami melakukan hal-hal yang bertentangan dengan adat istiadat, maupun peraturan di kota ini." melihat betapa ketatnya para pengawal itu melakukan pemeriksaan, Lindhu Aji memberi teguran pada mereka secara halus.
Sedangkan Ki Mahesa, terlihat laki-laki tua itu lebih bisa menahan diri. Laki-laki itu lebih berpikir tentang kedatangan putranya Wisanggeni dan menantunya Rengganis, yang menjadi penyebab para pengawal kerajaan melakukan pemeriksaan di tempat itu. Namun Lindhu AJi dengan jiwa mudanya yang terkadang masih meledak-ledak, lebih tidak bisa menahan dirinya. Tetapi laki-laki itu juga tidak membuat tindakan untuk mencegah perilaku putra keduanya itu.
"Terlepas dari apa yang Ki sanak tegurkan pada kami, tetapi kami harus melakukan pemeriksaan ini. Keselamatan dan keamanan Gusti Sinuhun dan Gusti Ratu menjadi prioritas kami Ki Sanak. Jadi kami harapkan, perlakuan kami di tempat ini tidak membuat hal yang tidak menyenangkan di hati keluarga Trah Bhirawa." dengan suara tegas, para pengawal mengatakan tujuan mereka.
Mendengar perkataan dari para pengawal itu, Lindhu Aji menjadi terkejut. Laki-laki itu baru tahu dan paham, untuk apa pesanggrahan mereka diperiksa. Rupanya Raja Abhiseka dan Ratu Niken Kinanthi akan berkunjung ke trah mereka. Pikiran Lindhu Aji tertuju pada keberadaan adik bungsunya Wisanggeni.
"Apakah sama saja kamu mengatakan jika Gusti Sinuhun dan Gusti Ratu akan menuju kesini Ki Sanak." Lindhu Aji langsung terkejut mendengar pernyataan para pengawal itu.
"Gusti SInuhun dan Gusti Ratu sudah dalam perjalanan kemari Ki Sanak. Untuk itu, kami harus memastikan keamanan di tempat ini. Meskipun kamu juga tahu, bagaimana Trah ini memiliki peran besar, ketika kerajaan pernah akan dilakukan kudeta oleh keturunan dari Selir-selir raja terdahulu." para pengawal segera memberi tahu tujuan pemeriksaan yang mereka lakukan.
__ADS_1
Lindhu Aji menatap ke wajah ayahndanya, tetapi laki-laki tua itu hanya tersenyum melihatnya. Rupanya Ki Mahesa sudah membuat perkiraan yang tepat, mengenai kedatangan Gusti Sinuhun dan Gusti Ratu. Karena keduanya memiliki kedekatan emosional dengan Trah Bhirawa, terutama terkait dengan putra laki-lakinya Wisanggeni, juga menantunya Rengganis.
"Ayahnda sudah tahu tentang kedatangan ini?" melihat pembawaan ayahndanya yang tetap tenang, Lindhu Aji bertanya pada Ki Mahesa.
"Jika tahu belum Aji.. Hanya saja, ayahnda berpikir sedikit. Kita tidak memiliki keterkaitan dengan istana kerajaan, namun tiba-tiba para pengawal khusus raja datang dan memeriksa tempat ini. Apalagi adikmu Wisanggeni dan istrinya datang ke tempat ini, dan keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Abhiseka dan Niken Kinanthi." Ki Mahesa menjelaskan pada putranya. Lindhu Aji hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, merasa kalah dengan kejelian ayahndanya.
"Jika begitu.. kita harus menunggu di depan ayahnda. Jangan sampai Gusti Sinuhun dan Gusti Ratu menunggu kedatangan kita." Lindhu Aji dan Ki Mahesa kemudian mereka bersiap untuk memberikan penyambutan di pendhopo depan.
********
"Ampun Gusti Sinuhun.. tidak berarti jika putra saya Wisanggeni dan istrinya Rengganis tidak menghargai Gusti SInuhun dan Gusti Ratu. Tetapi keduanya memang harus pergi, karena harus mendatangi pengukuhan Chakra Ashanka untuk menjadi patih di kerajaan Logandheng." Ki Mahesa menjelaskan kepergian putra dan menantunya. Laki-laki itu tidak ingin jika raja dan ratu itu salah memahami tentang putra mereka.
"Paman Mahesa.. saya tidak ingin lagi mendengar paman menyebut Abhiseka dengan sebutan Raja. Demikian juga Nimas Niken Kinanthi juga tidak ingin dipanggil dengan sebutan Ratu. Kami tidak akan mau lagi berkunjung ke tempat ini, jika paman dan kang Aji masih memanggil kami dengan sebutan itu. Anggap kami berdua juga sebagai putra dari Ki Mahesa, dan adik dari kang Aji.." Abhiseka keberatan dipanggil dengan panggilan Raja.
Lindhu Aji melihat ke wajah ayahndanya. Mendengar perkataan seperti itu dari raja dan ratu mereka, membuat laki-laki putra kedua Ki Mahesa itu dilanda kegundahan.
__ADS_1
"Iya paman.., kang Aji.. Kami berdua tetap bagian dari keluarga ini, dan hubungan ini akan berlaku untuk seterusnya." lanjut Niken Kinanthi. Perempuan ini masih merasa serba salah jika ketemu dengan ayahnda Wisanggeni. Niken Kinanthi teringat dengan kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Untung saja keluarga ini tidak pernah membiarkan rasa dendam meracuni sanubari mereka, sehingga hubungan mereka tetap terjalin sampai dengan saat ini.
"Baiklah Nimas Niken.. dan rayi Abhiseka.." Lindhu aji menanggapi perkataan pasangan suami istri di depannya itu.
Abhiseka tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian..
"Tadi saya mendengar jika kepergian kang Wisang dan Nimas Rengganis ke kerajaan Logandheng untuk mendatangi pengukuhan anakmas Chakra Ashanka untuk menduduki kedudukan sebagai patih kerajaan. Kenapa Wisanggeni tidak mengatakan hal ini kepada kami, maka kami akan memberikan kedudukan itu untuk putra Wisanggeni." mendengar perkataan Ki mahesa tadi, Lindhu Aji bertanya pada kedua laki-laki di depannya itu.
"Jangan salah sangka nak Abhiseka dan Nimas Kinanthi.. Chakra Ashanka tidak dapat menolak keinginan itu, hanya karena ketidak tahuan orang-orang perguruan memberi pertolongan, pada Raden Bhadra Arsyanendra yang sedang dalam pengejaran mata-mata orang kerajaan. AKhirnya.. dengan berbagai pertimbangan matang, untuk menyelamatkan kerajaan tersebut, akhirnya cucu saya Chakra Ashanka dipaksa mendampingi Raden Bhadra untuk memimpin kerajaan." Ki mahesa menceritakan hal yang terjadi.
Abhiseka dan Niken Kinanthi terdiam. Mereka betul-betul menyayangkan hal itu, padahal dari dulu keduanya berharap agar Wisanggeni atau keluarga bersedia bergabung dengannya untuk memimpin kerajaan Laksa. Namun menghargai sikap Wisanggeni, mereka mengurungkan niat mereka. Namun mendengar keterangan yang diucapkan oleh Ki Mahesa, mau tidak mau laki-laki itu menjadi berpikir. Tampak kekecewaan membayang jelas di kelebat matanya.
"Semuanya sudah diatur oleh kehendak Hyang Widhi nak Abhiseka.. Kita hanya tinggal menjalankan semuanya, dan terkadang hanya bisa merencanakan. namun ketentuan akhir tetap berada dalam rahasia Hyang Widhi.." melihat kekecewaan yang membayang dalam pandangan laki-laki itu, Ki Mahesa memberikan petuah pada mereka.
"Iya paman.. terima kasih atas informasinya.." Abhiseka terdiam, begitu juga dengan Niken Kinanthi.
__ADS_1
**********