
Mata Sasmita murid perguruan yang sangat mengenal pemilik padhepokan terbelalak tidak percaya, melihat Wisanggeni yang tersenyum menyambut kedatangannya. Tanpa diduga, laki-laki itu berjongkok memberi penghormatan pada Wisanggeni. Melihat murid perguruan yang lebih lama berlatih disitu melakukan penghormatan, sekelompok anak muda yang tadi mendatangi Wisanggeni saling berpandangan, kemudian mereka melakukan hal yang sama.
"Guru.., maafkan Sasmita yang belum mengenalkan perwujudan Guru pada murid-murid baru di perguruan ini Guru.." Sasmita meminta maaf atas kekurangannya.
"Bangunlah kalian semua.., kita disini bisa menjadi bahan tontonan bagi orang-orang yang lewat disini. Tindakanmu sudah benar Sasmita, dan kalian semua juga menjalankan perintah dari pemimpin kelompok kalian dengan sangat baik. Aku akan segera masuk ke padhepokan, ijinkan kami." ucap Wisanggeni menanggapi perkataan Sasmita.
Dengan wajah menunduk. Sasmita segera berdiri dan diikuti oleh sekelompok anak muda tersebut.
"Baik Guru.., selamat datang kembali ke perguruan ini. Kami yakin akan banyak hal yang baru, yang akan Guru berikan kepada kami. Apakah Guru membutuhkan pengawalan untuk menuju ke padhepokan di tengah bukit sana?" Sasmita kembali bertanya pada Wisanggeni.
"Tidak Sasmita.., kembalilah ke tempat penjagaanmu. Aku akan membawa rombonganku masuk sendiri ke bukit bagian dalam.., Singa Ulung juga sudah pergi mengawali kami masuk ke dalam padhepokan. Kedatangan binatang itu, aku yakin sudah membawa kabar kedatanganku pada Nimas Rengganis dan putraku Chakra Ashanka." ucap Wisanggeni lirih.
"Ayo Pangeran.., Andhika, Jatmiko.., kita harus melewati kabut pelindung untuk bisa masuk ke dalam bukit. Bukalah aura batin kalian, tanpa itu kalian pasti akan tersesat dan masuk ke dalam perangkap yang sudah kami siapkan." mendengar Wisanggeni menyebut kata Pangeran, Sasmita dan beberapa anak muda itu saling berpandangan. Tampak penyesalan dan ketakutan di mata mereka.., tetapi belum sampai mereka menyampaikan sesuatu, keempat orang itu sudah melompat meninggalkan mereka.
*********
__ADS_1
Di Padhepokan
Chakra Ashanka berlari dan memeluk Singa Ulung, dan mengelus-elus bulu binatang itu dengan tangan kecilnya. Tetapi tampak kekecewaan di mata laki-laki kecil itu, ketika kedatangan binatang itu tidak membawa kembali ayahndanya Wisanggeni. Memeluk erat tubuh Singa Ulung, satu-satunya cara yang dilakukan Chakra Ashanka untuk mengobati rasa rindu terhadap ayahndanya.
"Meong.., meong..." kucing kecil Singa Resti datang dan mendekat pada Singa Ulung. Melihat kedatangan binatang yang berasal dari jenis yang sama, mata Singa Ulung tampak berbinar. Karena perbedaan bentuk tubuh keduanya, SInga Resti dengan lincah melompat dan naik ke atas punggung Singa Ulung.
Dari kejauhan, Rengganis melihat putranya sedang memeluk SInga Ulung yang menjatuhkan badan besarnya ke atas tanah. Perasaan hati perempuan muda itu tiba-tiba menjadi berdebar, sudah sangat lama Rengganis dan putranya berpisah dengan Wisanggeni. Setelah mengambil nafas, dan mempersiapkan hati, perempuan muda itu mendatangi ke tempat Singa Ulung dan putranya berada.
Begitu sampai di depan mereka, kekecewaan tiba-tiba menyergap hati Rengganis, perempuan muda itu tidak melihat kedatangan Wisanggeni bersama dengan Singa Ulung. Hanya ada binatang itu yang berada disini, dengan Chakra Ashanka dan Singa Resti yang berada di dekatnya. Perempuan muda itu mengedarkan pandangannya, mencoba mencari tahu keberadaan suaminya di sekitar tempat itu. Tetapi akhirnya Rengganis hanya menelan ludah, kembali tersirat dengan jelas kekecewaan di mata perempuan muda itu.
"Ayahnda tidak ada bunda..., Ashan kangen.." dengan suara pelan, anak kecil itu merangkul Rengganis, dan tampak air mata menggenangi kelopak mata anak laki-laki itu.
"Sabarlah putraku.., mungkin ada alasan penting yang menjadikan ayahndamu terkendala kepulangannya untuk menemui kita. Kita masih diharapkan untuk bersabar Ashan.." dengan suara lembut, Rengganis berusaha untuk menenangkan perasaan anak kecil itu. Jari-jarinya mengusap air mata yang juga menggenangi kelopak matanya. Ibu dan anak itu berpelukan saling menenangkan.
"Auuuuummm..." tiba-tiba Singa Ulung mengaum, binatang itu seperti mengabarkan jika apa yang dipikirkan kedua orang di dekatnya itu ada kesalahan. Tetapi sayangnya, hanya Wisanggeni yang memiliki kemampuan untuk berbicara dengan binatang itu. Auman binatang itu sedikitpun tidak dapat membantu mengembalikan perasaan ibu dan anak itu.
__ADS_1
Tetapi dampak lain dari auman itu, banyak orang berlari ke halaman belakang padhepokan. Suara auman SInga Ulung dan Singa Resti, sudah dikenali oleh murid-murid yang ada di padhepokan, yang menandakan keberadaan Wisanggeni. Karena salah satu dari binatang itu, tidak akan pernah terpisah dengan penampakan dari pemimpin padhepokan ini.
"Apakah ayahnda dari Chakra Ashanka sudah kembali ke padhepokan Nimas Rengganis?" dari belakang Rengganis, Niken Kinanthi menanyakan kepulangan Wisanggeni. Rengganis melepaskan pelukannya pada Chakra Ashanka, kemudian dengan tetap merangkul punggung anak kecil itu, perempuan muda itu membalikkan badannya. Rengganis menatap ke arah Niken Kinanthi.
"Belum Nimas.., mungkin ada hal yang lebih penting bagi Kang Wisang, sehingga laki-laki itu hanya mengirimkan Singa Ulung untuk pulang menemui kami." ucap Rengganis lirih. Di depan Niken Kinanthi, perempuan muda itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Seakan dapat memahami dan merasakan kesedihan itu, Niken Kinanthi berjalan dan meletakkan kedua tangannya di bahu Rengganis.
"Tenangkan pikiranmu Nimas.., aku yakin Kang Wisang bukan seorang laki-laki yang seperti itu, Bisa jadi Kang Wisang sudah berada di perguruan ini, hanya saja ada sesuatu yang penting yang harus dia temui." hanya berusaha menghibur dan menenangkan Rengganis yang bisa dilakukan oleh Niken Kinanthi. Perempuan itu juga tidak dapat berbicara banyak.
"Iya Nimas Niken.., aku tidak apa-apa, hanya sedikit terbawa perasaan melihat kesedihan yang ditunjukkan oleh putraku. Aku akan segera kembali ke dalam senthong sebentar Nimas.., bisakah Nimas Niken mengawasi para perempuan muda itu berlatih." mendengar permintaan dari Rengganis, Niken Kinanthi hanya bisa menganggukkan kepala.
Dengan merangkul Chakra Ashanka, Rengganis menepuk kaki atas bagian kanan dari Singa Ulung, dan binatang itu langsung berubah menjadi seekor kucing. Setelah melakukan hal tersebut, Rengganis langsung berjalan meninggalkan halaman belakang padhepokan dengan merangkul putranya.
Di depan pintu senthong, Rengganis terkesiap melihat pintu masuk menuju senthong tempatnya beristirahat tidak tertutup dengan benar. Perempuan muda itu merasa, jika tadi dia meninggalkannya dalam keadaan tertutup. Dengan rasa penasaran, Rengganis segera menggeser pintu senthongnya, dan melihat seorang laki-laki bertubuh tegap sedang berdiri membelakanginya.
"Kang Wisang..., itukah kamu Akang..?" dengan suara lirih, Rengganis bertanya pada laki-laki itu. Mata Chakra Ashanka menjadi berbinar mendengar perkataan yang diucapkan oleh ibundanya. Laki-laki kecil itu segera melepaskan diri dari rangkulan ibundanya, dan berlari mendatangi laki-laki itu
__ADS_1
***********