Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 233 Sambung Rasa


__ADS_3

Pangeran Abhiseka memikirkan kembali perkataan kedua orang tuanya, Raja Achala dan ibunda ratu.  Posisinya saat ini memang serba merasa sulit, karena hanya dia putra satu-satunya dari pasangan tersebut. Tuntutan untuk berbakti kepada orang tua, tetapi hidupnya akan terbelenggu di kerajaan. Tetapi, jika Pangeran Abhiseka menuruti keinginan hatinya, maka kedua orang tuanya akan terluka.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi hal ini..? Aku juga tidak bisa mengesampingkan keinginan ayahnda dan ibunda ratu. Apalagi dengan adanya pemberontakan yang dilakukan Dimas Prakosa, membuat kepercayaan ayahnda luntur dengan orang-orang terdekat." Pangeran Abhiseka berpikir sendiri.


"Aku akan pergi ke Trah Bhirawa saja, siapa tahu paman Mahesa  dan kang Aji serta kang Janar bisa memberiku petunjuk. Juga siapa tahu, apa yang dikatakan Niken Kinanthi ada benarnya. Mereka sudah menemukan keberadaan Wisanggeni, karena kabar berita pencarian putra bungsu paman Mahesa itu tidak terdengar lagi." tiba-tiba Pangeran Abhiseka teringat akan Trah Bhirawa.


Laki-laki itu segera bergegas untuk mempersiapkan diri berpamitan dengan kedua orang tuanya. Pangeran Abhiseka tidak menginginkan, jika Raja dan ibunda ratu terlalu mengkhawatirkan kepergiannya. Meskipun Trah Bhirawa juga masih berada di wilayah kerajaan Laksa,  tetapi agar kepergiannya tidak menimbulkan keributan, Pangeran Abhiseka memutuskan untuk memberi tahu pada orang tuanya.


"Pergilah putraku.., jika itu menurutmu baik. Tetapi jangan tinggalkan Laksa untuk saat ini, kerajaan ini masih membutuhkan orang-orang untuk menjaga keamanan, dan mengembalikan marwah dari kerajaan." Raja Achala menyampaikan pesan pada Pangeran Abhiseka.


"Baik ayahnda, Abhiseka hanya ingin memastikan keadaan Wisanggeni. Laki-laki tersebut sudah membantu kerajaan, juga mengajak beberapa trah untuk bergabung menumpas pemberontakan. Secara pribadi, Abhiseka belum menyampaikan ucapan terima kasih romo prabu. Jika di Trah Bhirawa, Abhiseka belum dapat menemui Wisanggeni, paling tidak dapat menyampaikan pada paman Mahesa." Pangeran Abhiseka membuat sebuah alasan.


"Sampaikan salamku pada keluarga Wisanggeni. Jika perlu, aku akan memberi mereka hadiah, atas pengabdian mereka pada kerajaan Laksa."  ucap Raja Achala tiba-tiba. Pangeran Abhiseka hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan yang disampaikan ayahndanya itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan ijin dari raja Achala, akhirnya Pangeran Abhiseka segera berangkat menuju Trah Bhirawa. Laki-laki muda itu sengaja tidak membawa pengawal untuk mendampingi, karena ingin merasakan sedikit kebebasan.


****************


Di pendhopo Trah Bhirawa, Ki Mahesa mengajak berbincang ketiga putra laki-lakinya. Rengganis, Larasati, dan Kinara terlihat juga ikut mendampingi suaminya disitu, bahkan Niken Kinanthi yang dianggap sebagai keluarga yang sedang berkunjung, juga berada di pendhopo tersebut. Sebelum Wisanggeni dan Rengganis kembali ke perbukitan Gunung Jambu, Ki Mahesa ingin menyampaikan pesan pada putra bungsunya tersebut.


"Bagaimana rencanamu ke depan Wisanggeni, apakah kamu akan tetap bertahan di perguruan tersebut, ataukan masih memiliki tujuan lain yang ingin kamu tunaikan?" Ki Mahesa mengajukan pertanyaan pada putra bungsunya.


Terlihat Niken Kinanthi melihat ke wajah Rengganis ketika Wisanggeni menjawab pertanyaan Ki Mahesa, tetapi tidak ada raut kekecewaan di muka ayu Rengganis. Raut putri dari Trah Jagdklana itu masih terlihat datar, sama sekali tidak terbias rasa kecewa dalam dirinya.


"Huh..., itu sudah menjadi tekad dalam jalan yang kamu ambil sendiri Wisanggeni. Ayahnda tidak akan melarangmu, tetapi yang perlu kamu ingat adalah kamu harus menunaikan semua kewajibanmu, jangan berat sebelah. Karena bagaimanapun status kedua istrimu adalah sama. Dan untukmu Nimas Rengganis, bukan ayahnda bermaksud untuk memberi pembelaan dari Nimas Maharani, tetapi sebagai orang tuan, ayahnda hanya harus mengatakan yang sebenarnya." agar putri menantunya tidak salah paham, Ki Mahesa memberi penjelasan pada Rengganis.


Tidak diduga, ketika orang-orang yang berada di pendhopo merasa tegang dengan perkataan Ki Mahesa, Rengganis tersenyum menanggapi perkataan dari ayahnda mertuanya. Wisanggeni menggenggam tangan Rengganis, untuk menguatkan dan menenangkan perasaan perempuan muda itu.

__ADS_1


"Ayahnda tidak perlu mengkhawatirkan Rengganis. Saya cukup tahu diri ayahnda, dan di awal bersatunya kang Wisang dengan Nimas Maharani, sedikit banyak Rengganis memiliki peran di dalamnya. Bahkan, Nimas sendiri yang memaksa kang Wisang untuk menjalin ikatan dengan Maharani. Hal itu kita semua tahu alasannya, agar kita semua bisa kembali menemukan jalan untuk pulang ke dunia ini. Bahkan meskipun kang Wisang juga sudah memiliki Nimas Maharani, tetapi perlakuan Kang Wisang tidak pernah mengecewakan Rengganis." semua mata yang ada disitu melihat ke arah Rengganis, mereka sama sekali tidak mengira dengan ketegaran hati perempuan muda itu.


"Baiklah jika begitu Nimas Rengganis, terima kasih atas pengertianmu dengan keadaan yang dialami putraku Wisanggeni. Kemudian untukmu Widjanarko, kondisi kota Laksa saat ini sudah stabil. Atur orang-orangmu untuk menerima kembali pekerjaan jasa pengawalan, aku yakin Trah Gumilang masih menjadi pilihan bagi orang-orang untuk memberikan pengawalan perjalanan orang maupun barang-barang mereka. Sekaligus kamu umumkan kepada orang luar, jika saat ini Trah Gumilang sudah bergabung dengan Trah Bhirawa." setelah merasa Wisanggeni dan Rengganis cukup, Ki Mahesa bertanya pada Widjanarko.


"Baik ayahnda.., tadi siang kebetulan Janar juga sudah menyampaikan pada orang-orang kita. Mereka sudah memulai lebih awal untuk membuat pengumumana, dan bahkan beberapa kelompok orang sudah menjalankan pekerjaan pengawalan melintasi Hutan Larangan." Widjanarko menanggapi perkataan yang disampaikan ayahndanya.


"Selain itu ayahnda.., beberapa orang dari Trah Gumilang juga sudah bergabung dengan anggota dari Trah Bhirawa, beberapa memasuki hutan untuk mencari bahan-bahan untuk membuat herbal, yang akan dikirimkan oleh mbakyu Kinara ke pelelangan obat di kota Laksa." Lindhu Aji ikut menambahkan.  Ki Mahesa menganggukkan kepala, merasa lega mendengar bagaimana putra-putranya saling bekerjasama.


"Iya ayahnda.., mungkin besok Wisang minta ijin untuk masuk ke ruang pembuatan obat. Sebelum kembali ke perbukitan Gunung Jambu, Wisanggeni berencana untuk mengolah bahan-bahan obat yang masih tersimpan di gudang, sehingga Trah Bhirawa segera dapat menjualnya melalui pelelangan." meskipun  sudah tidak berada di kota tersebut, Wisanggeni masih mengolah obat jika ada kesempatan. Hasil pengolahan obat dari Trah Bhirawa memiliki nilai tinggi di pelelangan.


Satu persatu putra dan menantu Ki Mahesa, manyampaikan hal yang dapat mereka lakukan untuk membesarkan nama Trah Bhirawa. Sebenarnya Wisanggeni ingin menggabungkan pengelolaan perguran Gunung Jambu kepada Trah Bhirawa juga, tetapi sebelum mendapatkan ijin dari Cokro negoro gurunya, Wisanggeni belum berani melakukannya.


*******

__ADS_1


__ADS_2