Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 104 Pengkhianat


__ADS_3

Wisanggeni melompat ke atas atap bangunan yang ditempati Gerombolan Alap-alap. Di halaman, tampak orang-orang sudah berlatih kanuragan. Tapi saat laki-laki muda itu akan memutuskan untuk turun.., tiba-tiba ada keraguan menyelip di hatinya. Jika memang tempat yang dia datangi merupakan tempat persembunyian Gerombolan Alap-alap, masa dia bisa melewati penjagaan dan masuk kesitu tanpa ada penjagaan sama sekali. Bisa-bisa tempat yang dia datangi itu, hanya merupakan kamuflase saja. Putra bungsu Ki Mahesa itu segera mengurungkan niatnya, tetapi saat laki-laki muda itu akan kembali ke tempat dimana tadi dia melompat, tiba-tiba kegelapan pekat tampak mengurungnya. Hanya hitam yang dapat dia lihat di sekitarnya.., dan seketika dia menjadi gugup.


"Ha..ha.. ha.., seorang anak kemarin sore bisa-bisanya berani datang mengunjungiku. Apakah kamu berpikir, sekali kamu bisa masuk ke tempat persembunyianku, kali ini kamu dapat mengulanginya dengan mudah?" suara Tumbak Seto terdengar menggelegar dan membawa aura membunuh terpancar di kegelapan.


"Jangan sebut namaku Wisanggeni.. Tumbak Seto! Jika aku tidak bisa menghancurkanmu.., apakah kali ini kamu menggunakan ilmu pelindung kegelapan yang kamu curi dari Guru Cokro Negoro?? Kamu bisa menipu semua orang dengan merubah namamu Tumbak Seto.., tapi kamu tidak bisa membohongiku Badar." Wisanggeni menjawab perkataan Tumbak Seto.


Tumbak Seto terkejut, karena tidak banyak orang di dunia persilatan ini bisa mengetahui perubahan namanya. Saat dia masih muda dan manuntut ilmu dengan menjadi murid Cokro Negoro, laki-laki ini memang bernama Badar. Tetapi setelah melarikan diri dengan mencuri rahasia ilmu dari Cokro Negoro.., dia merubah namanya menjadi Tumbak Seto. Dia sangat terkejut, karena laki-laki muda yang dia kurung dengan menggunakan ilmu pelindung kegelapan dapat mengenalinya dengan baik. Biasanya orang yang berhasil dia kurung, akhirnya akan mengalami mati lemas.


"Kenapa kamu diam Badar?? Apakah kamu kaget karena dengan mudah, aku bisa menebak kejahatan apa yang kamu lakukan, dan siapa kamu sebenarnya?' kembali suara Wisanggeni terdengar mengejeknya.


"Ha.., ha.., ha.., jangan terlalu percaya diri kamu anak muda. Apakah dengan kamu masih bisa berbicara, kamu akan dengan mudah dapat membebaskan diri dariku? Tidak akan semudah itu anak muda.." tertawa Tumbak Seto atau Badar kembali terdengar.


"Bang.., bang.., bang.., prakkk.. pang." serangan kekuatan beruntun terdengar, dan tiba-tiba muncul retakan kekuatan dari pelindung kegelapan tersebut. Dengan mudah seorang anak muda membebaskan diri dari ilmu pelindung kegelapan tersebut. Mata Tumbak Seto terbelalak seakan mau meloncat keluar, saat dengan mudahnya melihat Wisanggeni melompat keluar dari jebakannya.


"Rowo.. Rontek.., pang.." tanpa memberi kesempatan Wisanggeni untuk berdiri tegak, ajian Rowo Rontek langsung dihempaskan Tumbak Seto dan diarahkan ke anak muda itu.


Sudah pernah merasakan keganasan ajian itu saat di Gunung Baturetno..., Wisanggeni tidak menganggapnya remeh. Dengan cepat, laki-laki muda itu membuat simbol dengan menggunakan telapak tangannya. Seketika muncul perisai warna ungu berbentuk lingkaran dengan aura ungu tua berputar-putar di depan dadanya. Anak muda itu sudah bisa meleburkan Mustika Ular dengan ilmu yang diberikan oleh Gurunya Cokro Negoro. Dari kejauhan, Singa Ulung mengawasi anak muda itu dengan mata jernih.

__ADS_1


"Duarrr..., prakkk." seketika bangunan yang digunakan Wisanggeni sebagai tumpuan berpijak hancur. Pohon-pohonan di sekitar banyak yang tumbang, saat ajian yang dikirimkan Tumbak Seto berbenturan keras dengan perisai yang digunakan Wisanggeni untuk menghalau serangan.


Tumbak Seto terhuyung ke belakang, darah segar muncrat dan mengalir deras dari mulutnya. Tetapi Wisanggeni masih berdiri tegak di balik perisai yang melindunginya. Tumbak Seto kemudian melemparkan sebuah benda berbentuk bulatan kecil ke arah Wisanggeni.


"Duar.., psshh..." sebuah ledakan dan asap pekat kembali menyelimuti Wisanggeni. Tumbak Seto langsung melompat dengan memegangi dadanya, laki-laki itu dengan cepat melarikan diri dari tempat itu.


***********


Beberapa saat setelah asap yang menyelimuti Wisanggeni menghilang, laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tetapi sedikitpun jejak Tumbak Seto tidak dia temukan di tempat itu. Merasa tidak artinya tetap berada di tempat situ, Wisanggeni memutuskan untuk mencari Tumbak Seto.


Melihat kedatangan binatang itu.., Wisanggeni langsung melompat ke punggung Singa putih tersebut. Merasa jika binatang itu akan membawanya pergi, Wisanggeni menepuk pelan leher binatang itu, dan memintanya untuk sedikit turun ke bawah.


"Sudiro.., ambil alih kelompokku. Aku ada urusan sebentar dengan Singa Ulung." teriak Wisanggeni meminta Sudiro untuk mengambil alih orang-orang yang tadi dia bawa.


Sudiro menengadahkan wajahnya, dan begitu melihat Wisanggeni sudah berada di punggung Singa Ulung, laki-laki itu tersenyum penuh makna. Dia melambaikan tangannya ke atas..


"Jangan khawatir.., aku akan membawa anak buahmu mengobrak-abrik padhepokan ini." teriak Sudiro dari bawah, dan Wisanggeni melihat Sudiro langsung bertepuk tangan untuk mengumumkan pada anak buahnya.

__ADS_1


"Aku akan mengikutimu Singa Ulung, bawa aku dan tunjukkan akan kemana kamu membawa aku." dengan kembali menepuk leher binatang itu, Wisanggeni berbicara lirih.


"Auummmm.." setelah mengeluarkan auman panjang, Singa Ulung langsung kembali terbang ke atas. Tidak berapa lama saat mereka berada dalam posisi terbang di atas, mata tajam singa putih itu tanpa berkedip melihat ke bawah. Kemudian tanpa memberi isyarat pada Wisanggeni, binatang itu langsung menukik turun ke bawah.


Terlihat di bawah, Tumbak Seto yang terluka parah sedang menyandarkan punggungnya di atas sebuah batu. Darah masih mengalir di sekujur tubuhnya, mata laki-laki itu terpejam dan sepertinya saat ini dia sedang dalam kondisi untuk bermeditasi memulihkan kekuatannya.


"Bang.., bang..., tenaga Pasopati... bang.." dari punggung Singa Ulung, tanpa berpikir lagi, Wisanggeni mengirimkan serangan pada Tumbak Seto dengan menggunakan kekuatan tenaga Pasopati.


"Akkkhhhhhhh..., hina sekali kelakuanmu anak muda.." tanpa sempat mengelak, serangan yang dikirimkan Wisanggeni langsung mengenai dada Tumbak Seto.


"Ha.., ha.., ha.., apa yang kamu bilang Tumbak Seto?? Hina mana.., dengan seseorang yang sudah mencuri sesuatu dari gurunya, bahkan mengkhianatinya dan bekerja sama dengan musuh?" Wisanggeni tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Tumbak Seto.


"Kamu tidak tahu jika Cokro Negoro itu sangat pelit. Sejak aku kecil, aku sudah dilatih oleh orang tua itu.., tapi apa yang aku dapatkan? Bahkan kekuatan intinya saja sedikitpun belum pernah laki-laki tua itu berikan kepadaku. Apakah aku salah.., jika kemudian aku mencuri beberapa darinya?" terdengar Tumbak Seto membuat pembelaan untuk dirinya.


"Tutup mulut busukmu itu.., tidak akan semudah itu Guru akan tergiur dengan mulut kotormu itu. Aku akan membalaskan rasa sakit di hati Guru, yang sudah kamu khianati Tumbak Seto. Bersiaplah..!" suara Wisanggeni seperti pisau peringatan yang tajam akan mengiris otak Tumbak Seto.


*************

__ADS_1


__ADS_2