Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 339 Pergi ke Kerajaan Ular


__ADS_3

Di dalam senthong, terdengar isak tangis Rengganis dan Parvati. Mereka tidak bisa menemukan keberadaan Maharani di dalam senthongnya, hanya ada seekor ular hitam yang melihat kedua perempuan itu dengan tatapan kebingungan. Kerelaan untuk berpisah dan ditinggalkan Maharani dalam wujud manusia yang pernah mereka ucapkan, ternyata berbeda dengan apa yang mereka hadapi saat ini.


"Ibunda.., dimana kita akan meletakkan ibunda Maharani? Apakah ibunda akan aman, dan mendapatkan perlindungan jika sendirian berada di lingkungan yang buas?" dengan terisak, Parvati bertanya pada Rengganis. Mendengar perkataan dari gadis kecilnya itu, Rengganis merasa tersentak. Dia juga belum memikirkan apa yang akan terjadi dan dialami oleh Maharani. Melihat isak tangis gadis kecil itu, Rengganis menarik tubuh Parvati, kemudian memeluknya dengan erat.


Beberapa saat kedua perempuan itu menghabiskan waktu di dalam senthong Maharani. Begitu mereka mendengar jika Wisanggeni berhasil memukul dan menghabisi Patih Wirosobo, tanpa berpikir panjang, Rengganis membawa Parvati untuk kembali. Perempuan ini tidak mau disalahkan, jika suatu saat nanti Parvati akan bertanya dimana ibundanya.


"Bibi Rengganis, Nimas Parvati..., kenapa kalian berdua tidak istirahat terlebih dulu. Kalian berdua sudah terlalu lama menangis sejak tadi, apakah dengan meratapinya, Bibi Maharani akan kembali berubah menjadi manusia.." tiba-tiba Parvati dan Rengganis dikejutkan dengan suara anak laki-laki di belakang mereka.


Rengganis sebagai pihak yang lebih tua, mengangkat wajahnya dan membersihkan air mata di pipinya. Perempuan itu menoleh ke arah pintu masuk senthong, dan terlihat Bhadra Arsyanendra sedang melihat ke arah mereka. Tidak diduga, ternyata bocah laki-laki itu mengikuti mereka sampai di tempat ini, dengan ditemani oleh Sekar Ratih.


"Raden Bhadra.., untuk apa Raden berada disini? Tempat ini sangat berbahaya untukmu, bukankah kamu tahu jika di luar tapal batas sedang terjadi apa. Patih Wirosobo dengan beberapa prajurit kerajaan Logandheng datang eksini untuk menangkapmu Raden. Kembalilah ke tempat pengungsian.." merasa khawatir dengan keselamatan putra mahkota kerajaan Logandheng, Rengganis meminta Bhadra Arsyanendra untuk kembali ke tempat pengungsian,


"Jangan memandangku rendah Bibi Rengganis. Meskipun ayahnda dan ibunda Ratu sudah meninggalkanku, namun mereka juga sudah membekaliku dengan berbagai strategi, untuk membuat orang-orang dari kerajaan berhenti menindasku. Hanya saja aku memang belum berniat untuk menggunakannya." Bhadra Arsyanendra mendekat dan masuk ke dalam senthong. Melihat tubuh licin Maharani yang sudah berbentuk seekor ular hitam dengan gurat ungu di punggungnya, bocah laki-laki itu mengerutkan keningnya. Tetapi dengan cepat, bocah itu menyesuaikan dirinya kembali,


"Mundurlah ke belakang Raden Bhadra, tubuh ini bukan merupakan sebuah tontonan. Tidak semua orang bisa melihat tubuh Nimas Maharani sedekat ini. tetapi kenapa tanpa ijin, kamu berani melihatnya secara langsung. Ingat posisimu di perguruan Gunung Jambu ini Bhadra, kamu hanyalah tamu, bukan keluarga dari perguruan ini." melihat sikap ingin tahu bocah kecil itu, Rengganis seperti terbakar oleh rasa amarah.

__ADS_1


Semua yang berada di dalam senthong terkaget-kaget dengan reaksi yang ditunjukkan Rengganis.Begitu juga dengan Parvati, gadis kecil ini mengangkat wajahnya ke atas. tangan Parvati terulur ke atas, dan memegang bahu Rengganis, kemudian menurunkannya.


"Tidak apa ibunda Rengganis. Parvati yakin, jika Raden Bhadra tidak seperti yang ada di dalam pikiran bunda. Raden Bhadra pasti akan menyimpan apa yang dia lihat hari ini, bukankah demikian Raden...?" tidak diduga, Parvati berbicara menenangkan Rengganis. Gadis kecil yang sejak tadi terisak dan terpekur itu, tiba-tiba memiliki keikhlasan yang sangat tinggi dalam hatinya,


"Tentu saja Nimas Parvati. Aku sudah merasa sebagai bagian dari keluarga di perguruan ini, jangan mengkhawatirkan saya. Kejadian hari ini hanya akan berada dalam sanubari saya, tidak akan aku beri tahukan kepada pihak lain." di depan orang-orang yang berada di dalam senthong, Raden Bhadra membuat sebuah janji,


Merasa terlalu cepat memutuskan dan menaruh kecurigaan terhadap bocah kecil itu, akhirnya Rengganis meminta maaf pada Bhadra Arsyanendra.


*********


"Ayahnda.., apakah ayahnda tidak mengijinkan Parvati menyertai keberangkatan menuju kerajaan manusia ular. Bukannya di tempat itu, juga merupakan garis keturunan dari Parvati.." tiba-tiba di dekat Singa Ulung berdiri menanti kedatangan Wisanggeni, berdiri gadis kecil putra Maharani dengan laki-laki itu.


Tubuh Wisanggeni tersentak, dia seperti terlupakan dengan keberadaan gadis kecil itu. Dengan muka yang terlihat sedih, laki-laki itu menundukkan badannya ke bawah. Wisanggeni memeluk tubuh Parvati dengan erat,


"Maafkan ayahnda putriku..., ayahnda telah melupakan keberadaanmu! Apakah kamu ingin bersama dengan ayahnda, kita akan mengunjungi kerajaan manusia ular. Ayahnda akan menitipkan tubuh ibunda pada leluhur di kerajaan tersebut, setelah itu, baru kita akan kembali ke perguruan ini kembali." dengan suara lirih, Wisanggeni memberi tahu rencana perjalanannya pada Parvati putrinya.

__ADS_1


"Jika ayahnda tidak keberatan, Parvati akan merasa sangat senang sekali ayah. Parvati ingin mengantarkan ibunda, ke tempat terakhir kali. Di masa depan, jika ada waktu dan kesempatan lagi, parvati akan dapat mengunjungi dan melihat keberadaan ibunda. Meskipun ibunda sudah tidak akan mengenali Parvati lagi, tetapi Parvati akan selalu mengingat keberadaan ibunda Maharani." dengan tegas, gadis kecil itu menanggapi perkataan ayahndanya.


Wisanggeni mendekati gadis kecil itu, kemudian memeluk tubuh Parvati kembali dengan erat. Sebuah ciuman diberikan Wisanggeni di pucuk kepala gadis kecil itu, kemudian melepaskannya.


"Baiklah.., kita akan berangkat bersama putriku. Marilah.., berjalan bersama dengan ayahnda.." Wisanggeni kemudian berdiri, kemudian menggandeng tangan Parvati dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membawa sebuah kotak kayu, tempat penyimpanan tubuh baru Maharani.


Dari sudutĀ  kegelapan, Rengganis melihat hubungan putri dan suaminya itu dengan rasa haru. Rengganis memang sengaja membiarkan kedekatan mereka, sehingga perempuan itu hanya melihatnya dari kegelapan. Meskipun perempuan itu memiliki niat untuk menemani suaminya, tetapi keadaan di perguruan belum bisa ditinggalkan sepenuhnya.


"Terima kasih Nimas Rengganis..., kakang titip kembali perguruan Gunung Jambu ini kembali padamu. Kakang akan membawa Parvati untuk mengantarkan tubuh Nimas Maharani ke tempat asal usulnya," meskipun tidak melihat keberadaan Rengganis, tetapi Wisanggeni dapat merasakan keberadaannya di tempat itu. Laki-laki menitipkan perguruan pada istrinya.


"Akan Nimas jaga perguruan ini dengan segenap jiwa raga kakangmas, semoga perjalanan kang Wisang dan dhenok Parvati selalu dalam karahayon, dan kembali ke perguruan kembali tanpa ada aral melintang sedikitpun." perlahan Rengganis berjalan keluar menunjukkan dirinya,


Setelah membiarkan Parvati memeluk Rengganis beberapa saat, Wisanggeni segera membawa gadis kecil itu ke punggung Singa Ulung. Tidak lama kemudian, keduanya pergi dengan diantarkan binatang tersebut.


***********

__ADS_1


__ADS_2