
Beberapa saat Wisanggeni dan Rengganis terus melakukan hal tersebut, dan sampai energi mereka terkuras habis. Samar-samar Wisanggeni melihat, energi dan kekuatan hitam pada goa tempatnya berada, sudah pergi dan mengalir keluar. Laki-laki itu tidak diduga, melempar pisau belati yang ada di tangannya ke arah rantai yang membelit tiga tawanan yang berada di goa tersebut. Keajaiban terjadi..
"Jeglar... byar..." ledakan kencang yang membuat tanah di tempat itu berguncang terjadi ketika pisau belati itu menyentuh rantai besi. Dengan cepat, Rengganis mengeluarkan selendang di tangannya, kemudian mengibaskan untuk menghentikan dampak buruk dari kekuatan tersebut.
Tanah tempat mereka berpijak tiba-tiba berhenti dari guncangan, namun kedua orang itu tidak mampu lagi menahan tubuh mereka. Berhari-hari mengeluarkan energi dan kekuatan besar, membuat pasangan suami istri itu tidak lagi kuasa menahan dan menguasai tubuh mereka. Akhirnya kedua orang itu terkulai lemas, dan jatuh pingsan. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, tetapi tiba-tiba..
"Apa yang telah terjadi, kenapa akhirnya aku bisa menguasai tubuhku kembali, aku bisa menggerakkannya." salah satu tawanan di dalam goa tersebut tiba-tiba merasa terbebas. Rantai yang semula tampak menyala mengikat kaki dan tangannya, tampak mulai menghilang dan lenyap tidak ada bekas.
"Akupun juga demikian, ternyata saat ini merupakan waktu kita untuk bebas.." dua orang yang ikut ditawan bersamanya juga berteriak kegirangan. Ketiga orang yang sudah dirantai ratusan tahun itu, tidak bisa menguasai perasaannya karena saat ini mereka merasa bebas. Mereka juga tidak menyadari jika kedua orang yang sudah berupaya menolongnya, kali ini sudah dalam keadaan terkapar pingsan di depan mereka.
"Tetapi apakah kali ini kita tidak sedang bermimpi. Sampai jenuh aku menunggu saat kebebasan ini, sudah ratusan tahun.. aku seakan tidak mempercayainya. Apakah saat ini bukan saatnya kita bisa melakukan Moksa..?" salah satu dari orang itu meragukan kebebasannya.
"Tutup mulutmu.. lihatlah dua orang yang tadi mengeluarkan banyak energi dan kekuatan untuk membebaskan kita. Mereka kehabisan energi, dan sepertinya mereka pingsan. Apakah kamu pikir, semudah itu kita bisa mencapai tahapan Moksa jika kita berada dalam genggaman kekuatan Gerombolan Alap-alap." salah satu dari mereka menunjuk ke arah Wisanggeni dan Rengganis.
Sesaat ketiga orang itu baru menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka saling berpandangan, dan dengan tatapan trenyuh melihat ke arah Wisanggeni dan Rengganis yang dalam keadaan pingsan.
"Apa yang harus kita lakukan, aku belum bisa menggunakan kekuatanku lagi.. Sepertinya membutuhkan waktu untuk dapat mengembalikan kekuatanku seperti dulu lagi.." terlihat ketiga orang itu merasa kebingungan. Mereka ingin memberikan pertolongan pada Wisanggeni dan Rengganis, namun mereka tidak memiliki kekuatan.
__ADS_1
Salah satu dari mereka mendekati tubuh Wisanggeni dan Rengganis, kemudian mengangkat pergelangan tangan laki-laki muda itu. Beberapa saat laki-laki tua itu merasakah, masih terdengar detak jantung lemah di pergelangan tangan Wisanggeni, dan nafas lega keluar dari dalam hidung laki-laki tua itu.
"Anak muda ini masih bernafas, ternyata tenaganya sangat kuat. Samar-samar aku merasakan seperti pernah mengenali kekuatan kuno yang digunakan anak muda ini.." laki-laki tua itu mengatakan apa yang dia rasakan.
Dua laki-laki tua yang lain turut mendekat,. Ketiganya kemudian membantu kedua orang yang sedang dalam keadaan pingsan itu untuk lebih nyaman dalam beristirahat. Karena mereka sendiri juga masih dalam keadaan lemas, akhirnya lima orang tampak terkulai lemas di dalam goa tersebut.
**********
Di tengah kampung Alas Kedhaton
"Apa ini.. kenapa tiba-tiba tanah tempat kita berada berguncang keras. Apakah gunung akan segera meletus.." warga kampung Alas Kedhaton mendadak berteriak kebingungan. Tanpa ada sebab, tanah di bawah mereka berguncang hebat, sampai mereka bingung untuk berpegangan.
"Iya.. iya.. apakah ini pertanda buruk untuk kampung kita, dan apa yang kita mohonkan tadi tidak dikabulkan oleh hyang Widhi.. Ataukan malah sebaliknya." warga kampung berteriak sesuai dengan anggapan mereka masing-masing. Semua orang berkumpul di tengah menjadi satu. tampak kecemasan dan kekhawatiran di wajah mereka. Sudah sekian lama, tidak pernah terjadi guncangan gempa di tempat mereka berada saat ini, tetapi pada saat mereka menghaturkan doa persembahan, tiba-tiba terjadi guncangan hebat.
Pandhito kembali berdiri, dan meminta semua warga kampung untuk bersikap tenang. Laki-laki tua itu merasakan ada getaran energi besar, yang sedang melakukan pertarungan sehingga mengakibatkan guncangan besar tersebut. Laki-laki tua itu meminta warga kampung untuk kembali melanjutkan ujub doa mereka.
Tetapi baru saja mereka akan melakukan doa, tiba-tiba guncangan hebat itu berhenti dan terdengar suara ledakan besar dari dalam padang rumput. Seketika orang-orang itu saling berpandangan, mereka kembali menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ada apa Ki Sancoko.. apakah Aki mendengar suara ledakan itu. Sepertinya suara ledakan itu berasal dari tengah padang rumput Aki.. Kenapa aku tiba-tiba memikirkan keadaan Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu rengganis." tiba-tiba Sukendro menyampaikan kekhawatirannya pada Ki Sancoko.
"Sepertinya benar apa yang kamu katakan Gendhon.. Aku juga merasakan hal yang sama, semoga kedua anak muda itu mampu bertahan dan menyelamatkan warga di kampung kita.." ucap ki Sancoko perlahan.
"Jika begitu, mari kita lihat Ki.. Kita tidak bisa hanya tinggal berdiam diri di tempat ini, sementara orang asing datang untuk berjuang membantu kita.." Sukendro tiba-tiba langsung berdiri, dan mengajak pergi Ki Sancoko untuk melihat ke padang rumput.
"Tidak ada yang akan bisa kita lakukan Sekendro. berada di dalam bangsal ini, merupakan cara terbaik untuk kita menyelamatkan diri. Kita juga tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membantu kedua anak muda itu. Jangan bertingkah sembarangan Sukendro.." namun Ki Sancoko menolak.
Mendengar penolakan itu, tidak kemudian menjadikan SUkendro menjadi patah semangat. Anak muda itu langsung membalikkan badan kemudian pergi meninggalkan tempat itu...
"Kamu mau kemana Gendhon.." terdengar pertanyaan dari para anak muda yang lain.
"Aku akan ke padang rumput untuk melihat bagaimana keadaan Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis.." tanpa berhenti dan menoleh, Sukendro menjawab pertanyaan anak-anak muda itu. Laki-laki muda itu segera melanjutkan langkahnya.
Melihat anak muda itu sendirian melangkahkan kaki menuju padang rumput, para anak muda yang lain menjadi bersemangat. Tanpa ada yang memerintah, anak-anak muda itu segera berjalan mengikuti Sukendro di belakangnya. Dari tempatnya berdiri, Ki Sancoko menahan nafas melihat kenekadan anak-anak itu, tetapi tidak lama kemudian laki-laki tua itu mengajak para sesepuh lainnya untuk mengikuti anak-anak muda itu.
*******
__ADS_1