Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 174 Persyaratan


__ADS_3

Wisanggeni menundukkan kepala ketika berhadapan dengan sesepuh dari manusia ular. Laki-laki itu memahami posisinya saat ini, dia tidak membawa dirinya sebagai pemimpin dari manusia ular, tetapi memposisikan sebagai menantu yang ingin mendapatkan restu dari para sesepuh. Hal itu yang mendasarinya untuk berperilaku layaknya seorang laki-laki yang akan melamar seorang perempuan. Posisinya di kerajaan ular tidak membuat Wisanggeni melupakan norma dan adat istiadat, tetapi tetap menghormati dan menerapkannya. Maharani sebagai pihak perempuan, yang sebelumnya selalu berusaha untuk menjebak dan mendapatkan laki-laki itu, kali ini juga tidak dapat berbuat banyak di hadapan sesepuhnya.


"Kedatanganmu kali ini anak muda..., kamu sebagai seorang laki-laki yang ingin mendapatkan restu dari kami. Ada beberapa hal yang harus kamu penuhi, untuk dapat membawa putri kami sebagai ibu dari anak-anakmu. Semua tergantung dari niat baikmu, apakah kamu sanggup untuk memenuhinya, ataukah kamu hanya ingin mempermainkan putri dari keturunan ular." perempuan tua yang dipanggil nenek oleh Maharani, menyampaikan pemahaman pada Wisanggeni. Laki-laki itu belum menanggapi perkataan itu, sebelum dia dipersilakan untuk bicara.


"Meskipun aku sudah membaca dan mengenali tanda-tanda, akan lahirnya keturunan dari putri kami Maharani melalui wangsit. Tetapi aku tidak akan membiarkan kamu seenaknya memainkan adat istiadat yang berlaku pada kaum ular, mengesampingkan karomah yang kamu dapatkan sebagai raja dari manusia ular. Apakah kamu bisa menerimanya anak muda?" perempuan tua itu bertanya pada Wisanggeni.


Anak muda itu menengadahkan wajahnya, dia memberanikan diri menatap pada lima orang sesepuh yang ikut berada di ruangan ini. Tanpa bermaksud untuk melanggar norma sebagai seorang tamu yang lebih muda, Wisanggeni hanya ingin menyampaikan kesanggupan menjalani persyaratan itu.


"Anak muda ini akan menyanggupi untuk memenuhi persyaratan yang diajukan oleh para sesepuh disini. Sampaikan kepada saya para sesepuh, dengan senang hati anak muda ini akan memenuhinya." dengan suara tegas dan lantang, Wisanggeni menjawab kesanggupan untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh para sesepuh.


Kelima orang itu saling berpandangan, dan melihat pada putri keturunan mereka Maharani. Perempuan muda itu tampak masih menundukkan kepala, tidak berani mengangkatnya. Apa yang dihadapi oleh Wisanggeni saat ini, perempuan muda itu ikut merasa bertanggung jawab. Dari awal, bersatunya mereka berdua dalam sebuah ikatan, meruapakan sebuah kesalahan. Tetapi sebagai orang muda, dia juga tidak bisa menahan hasrat dan ga**irahnya untuk memiliki laki-laki itu. Dia tahu persis betapa beratnya persyaratan yang harus dijalani oleh Wisanggeni, yang akan dibuat oleh para sesepuh mereka.


"Baik anak muda..., kami menyukai semangatmu untuk menjawab tantangan yang kami berikan. Penuhi kelima persyaratan, buka dan pelajarilah..! Kamu saya minta segera meninggalkan tempat ini, dan kamu boleh kembali ke istana ini lagi untuk menjemput Maharani, jika kamu sudah memenuhi lima persyaratan ini." tanpa ampun, seorang sesepuh memberikan lima persyaratan pada Wisanggeni. Sebuah gulungan lontar, diberikan oleh perempuan tua itu pada laki-laki tersebut. Sambil menelan ludah, Wisanggeni menerima gulungan lontar itu, kemudian memasukkannya di dalam baju yang dia kenakan. Dengan mata sendu Maharani menatap mata suaminya, dan Wisanggeni tersenyum sambil menganggukkan kepala berusaha untuk menenangkan perempuan muda itu.

__ADS_1


Dalam penglihatannya kali ini\, Wisanggeni baru menyadari jika Maharani ternyata menjadi sangat cantik sekali\, dengan tubuhnya yang penuh dan sin**tal. Tubuh itu akan menjadi incaran mata laki-laki yang melihatnya\, mereka akan terobsesi untuk menyentuh dan menja**mahnya. Laki-laki itu tiba-tiba tersadarkan sendiri dari lamunannya tentang Maharani.


******


Di malam hari


Di bawah lampu senthir yang temaram, Wisanggeni membuka gulungan daun lontar. Udara yang dingin itu sebenarnya membutuhkan kehadiran Maharani di sisinya untuk memberikan kehangatan. Tetapi demi menghormati perkataan para sesepuh, laki-laki itu mengesampingkan pikiran kotornya. Sambil membuka gulungan, senyuman muncul di bibir Wisanggeni.


"Persyaratan kedua dan ketiga adalah membuat pil untuk penguatan inti janin, untuk mempersiapkan keturunan dari manusia ular. Lakukan itu, maka persyaratan keempat dan kelima akan jauh lebih mudah untukmu." dengan mengambil nafas panjang, Wisanggeni mengakhiri memahami isi dari persyaratan yang disampaikan oleh para sesepuh. Perlahan laki-laki itu bangkit dari duduknya, tangannya membuka jendela kamar dan melihat bulan yang mengintip dari balik awan.


Beberapa saat laki-laki itu berdiri di depan jendela, tiba-tibanya matanya menangkap sekelebat bayangan di balik pepohonan. Dengan sekali lompat, Wisanggeni sudah berlari mengejar bayangan itu.


"Berhentilah Ki Sanak.., jangan berlaku dengan tindakan curang di istanaku.." Wisanggeni berdiri di belakang bayangan itu. Matanya menatap tajam punggung di depannya, dan samar-samar laki-laki itu merasa mengenali punggung itu.

__ADS_1


"Akang..., ini Nimas Maharani.." perlahan tubuh itu membalikkan badan ke arahnya, tangannya menyingkirkan penutup muka dari wajahnya. Wisanggeni tersentak, dengan cepat laki-laki itu berjalan ke depan dan memegang tubuh perempuan itu.


"Apa yang kamu lakukan Nimas...? Apakah kamu tidak memikirkan akibatnya, jika para sesepuh sampai mengetahui perbuatanmu ini?" dengan halus, Wisanggeni menyampaikan teguran pada perempuan muda itu.


"Nimas hanya akan mencari angin Akang... Tetapi melihat jendela kangmas terbuka, menjadikanku ingin melihat wajah Akang. Nimas rindu Akang..." tanpa malu, Maharani mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu.


Wisanggeni langsung mendekap tubuh perempuan muda itu tanpa bicara. Angin malam yang menerpa mereka, menjadikan kulit yang bersentuhan itu menjadi terasa lebih hangat. Keduanya berpelukan di bawah sinar bulan, dan setelah beberapa lama..


"Nimas..., besok dini hari.., Akang secepatnya akan meninggalkan tempat ini. Akang akan membawa Singa Ulung untuk menemani perjalanan Akang. Persyaratan pertama dari sesepuh, membutuhkan waktu untuk memenuhinya. Akang tidak mau meninggalkan Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka dalam waktu yang lama." dengan suara pelan, Wisanggeni menyampaikan kata-kata pada Maharani. Perempuan muda itu menengadahkan wajahnya ke atas, di bawah sinar rembulan bibir itu terlihat berkilat basah.. Tanpa diduga, Wisanggeni tidak dapat menahan godaan itu, bukannya ingin mendengarkan jawaban dari Maharani, tetapi bibir laki-laki itu sudah meraup bibir basah itu.


Ciuman kedua manusia di bawah sinar bulan itu berlangsung beberapa saat, dan seperti tidak bisa menahannya, Wisanggeni segera melompat dan membawa Maharani masuk ke dalam kamar melewati jendela kamar. Tangan laki-laki itu segera menutup pintu jendela dengan kasar. Maharani memeluk erat pinggang dengan matanya yang penuh dengan keinginan.


**********

__ADS_1


__ADS_2