
Setelah mereka istirahat beberapa saat, Cokro Negoro memanggil Wisanggeni dan para sesepuh. Ditemani Rengganis, Wisanggeni duduk disamping Gurunya. Tampak kebahagiaan Ki Sasmita melihat putrinya yang saat ini sedang mengandung.
"Wisang.., apa rencana yang sudah kamu buat agar kita terlepas dari wilayah ini?" Cokro Negoro bertanya dengan suara pelan.
"Ampun Guru..., Wisanggeni belum mendapatkan petunjuk. Tetapi mengingat kita bisa berada di sini karena sudah terlempar dari terowongan itu, untuk dapat kembali menurut Wisang..kita harus menemukan kembali terowongan tersebut." Wisanggeni mengusulkan pendapat.
"Menurutku.., jika kita tidak dapat menemukan kembali terowongan yang mengirimkan kita kesini. Ada baiknya kita mengerahkan semua energi dan aura kita untuk membentuk terowongan tersebut." para sesepuh mengarahkan pandangannya ke arah Ki Sasmita. Tetapi perkataan yang diucapkan besan Ki Mahesa itu bisa diterima oleh nalar mereka.
"Sepertinya apa yang disampaikan oleh ayahnda.. bisa kita terima dengan akal dan nalar kita. Besok kita bisa mencobanya, nanti Wisang akan mencoba untuk bertanya pada Maharani. Para kaum ular.., mereka terbiasa membuat terowongan di bawah tanah. Pola pembuatannya mungkin bisa disamakan dengan kita membuat terowongan menggunakan aura." Wisanggeni ikut berpendapat yang mendukung ide yang diusulkan Ki Sasmita.
Mendengar suaminya menyebut nama Maharani, tidak bisa dipungkiri jika hati Rengganis menjadi sedikit cemburu. Gadis muda ini tahu persis bagaimana perasaan Maharani untuk suaminya. Jika terus menerus bersama, Rengganis sangsi apakah hati suaminya tidak akan berpaling.
"Kenapa Nimas..., kenapa ekspresi wajahmu berubah?" merasakan perubahan di wajah istrinya, Wisanggeni langsung berbisik menanyakan perasaan istrinya.
"Akang senang kan.. mendapatkan kesempatan untuk bicara lebih dekat dengan Maharani." sambil berbisik, Rengganis mengekspresikan perasaannya.
Merasa jika istrinya cemburu, Wisanggeni tidak ingin menunda permasalahan itu. Dia harus menyelesaikan secepat mungkin.
"Guru.., ayahnda dan para sesepuh yang lain. Mohon ijin Wisanggeni akan meninggalkan urun rembuk ini terlebih dahulu. Kebetulan istri Wisanggeni sudah ingin beristirahat." tanpa diduga siapapun, Wisanggeni segera menggandeng Rengganis dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.
Ki Sasmita berpandangan dengan Ki Mahesa, keduanya tersenyum malu melihat tingkah putra dan putri mereka.
"Yah begitulah..., biasa perempuan itu dimanapun. Jika sudah dikuasai rasa cemburu.. akal sehat nomor dua untuk digunakan." Ki Sasmita mengucapkan perkataan sarkasme untuk Wisanggeni dan Rengganis.
__ADS_1
"Kita dulu juga pasti mengalami hal yang sama bukan? Hanya saja masalahnya yang berbeda. Semoga hal ini bisa membentuk Wisang dan Nimas Rengganis menjadi lebih dewasa." gumam Ki Mahesa.
"Sangat wajar jika Nimas Rengganis cemburu, kita semua juga tahu bagaimana sikap Maharani pada Wisanggeni. Meskipun ada hubungan pemimpin dan bawahan, tetapi pengabdian seorang perempuan dari suku ular tidak dapat kita abaikan." Cokro Negoro ikut menanggapi.
"Kita lihat saja bagaimana besok, ada baiknya kita segera beristirahat untuk memulihkan stamina kita, agar aura kebatinan kita bisa kuat untuk menyiapkan terowongan." Cokro Negoro menambahkan. Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan para sesepuh yang masih duduk.
Setelah saling berpandangan, satu persatu akhirnya mereka mengikuti langkah Cokro Negoro.
*******
"Nimas Rengganis..., mungkin kita perlu waktu sebentar untuk bicara?" Wisanggeni mencoba mengajak Rengganis untuk bicara. Dia tidak suka menunda-nunda permasalahan, semakin cepat dibicarakan maka akan semakin cepat pula ditemukan jalan keluarnya.
Rengganis menatap wajah Wisanggeni dengan sayu, perempuan ini tidak bisa menutup dan membohongi hati nuraninya. Dia tidak bisa mengatakan iya, tetapi hatinya mengingkarinya. Demikian pula sebaliknya.
"Apa yang akang mau bicarakan dengan Nimas..? Apakah terkait dengan usulan kesepakatan di urun rembuk tadi?" Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
"Maafkan Nimas Akang..., Nimas tidak bisa menutup rasa khawatir terhadap Akang dan Maharani. Salahkah Nimas..?" Rengganis meminta maaf pada Wisanggeni.
"Tidak ada yang benar.., tetapi juga tidak ada yang salah Nimas. Akang juga seorang laki-laki biasa, yang terkadang tidak bisa mengendalikan nafsu laki-laki normal. Akang akan mengikuti apa yang sudah kamu putuskan Nimas." ucap Wisanggeni menenangkan perasaan istrinya.
Rengganis terdiam sebentar, pergolakan dalam batinnya mendorongnya agar dia segera mengambil sikap. Melarang suaminya kembali berdekatan dengan Maharani, sama saja membiarkan mereka semua terkurung di sini. Tetapi membiarkan suaminya kembali berdekatan dengan manusia dari suku ular itu.. membuatnya harus merelakan suaminya untuk berbagi.
"Nimas.., jangan paksakan diri untuk berpikir malam ini. Masih banyak waktu untuk kembali memikirkannya. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam gua, sudah waktunya bagi Nimas untuk istirahat. Kasihan bayi kita.." Wisanggeni mengusap perut istrinya yang sudah semakin besar. Usapan lembut itu seperti mengusap hati Rengganis yang sedang penuh kegalauan.
__ADS_1
"Tidak Akang..., kita harus berkejaran dengan waktu. Nimas ingin melahirkan bayi kita di Pesanggrahan, bukan disini Akang." tiba-tiba Rengganis mengambil keputusan.
"Maksud Nimas..? Apakah Nimas mengijinkan Akang untuk berbicara dengan Maharani?" mendengar perkataan yang keluar dari bibir istrinya, Wisanggeni ingin mempertegas.
Rengganis menganggukkan kepala. Wisanggeni terharu, sebuah ciuman dihadiahkan di kening perempuan itu.
"Apakah Nimas sudah berpikir tentang konsekuensinya?? Termasuk juga jika Akang terpeleset, dan akhirnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani Akang." Wisanggeni menguji keteguhan istrinya.
"Untuk orang banyak Akang.., juga kelanjutan generasi penerus kita, Nimas akan merelakan jika itu hal terjadi." begitu selesai istrinya berbicara, Wisanggeni memeluk tubuh Rengganis dengan erat.
"Percayalah pada Akang Nimas..., aku akan berusaha untuk menahan semua, termasuk godaan duniawi yang membuat mata menjadi silau. Cukup Nimas..., satu-satunya perempuan yang ada di hati Akang." masih dengan memeluk Rengganis, Wisanggeni mengucap janji pada istrinya.
********
Di tengah malam
Saat semua orang sedang tidur, Wisanggeni menemui Maharani. Kepekaan sebagai turunan Suku ular, Maharani langsung tahu jika Wisanggeni datang untuk berbicara dengannya.
"Paduka memang benar jika ingin bertemu dengan saya. Untuk menembus lorong menuju ke alam kita, kita bisa membuatnya di dalam tanah. Atau kita membuatnya seperti saat pertama kita masuk ke alam ini." Maharani mulai mengawali pengetahuannya.
"Ada esensi dari aura ular yang dibutuhkan untuk menguatkan lorong itu Paduka. Tetapi aku tidak dapat membuatnya, karena hanya dapat dilakukan dari aura ular yang sudah melakukan satu penyatuan dengan lawan jenisnya. Aku harap Paduka dapat mencerna apa yang barusan saya sampaikan." perkataan Maharani sangat mengejutkan Wisanggeni. Mereka pernah hampir terpeleset untuk melakukan penyatuan bersama, tetapi ingatannya tentang Rengganis akhirnya membuat laki-laki itu sadar.
"Aku akan memikirkannya Maharani..., jika memang itu adalah satu-satunya cara, kita tidak akan memiliki pilihan lain." setelah menghela nafas, Wisanggeni menanggapi perkataan Maharani.
__ADS_1
"Terima kasih jika Paduka mengerti. Mungkin Paduka harus menyampaikan hal ini pada para sesepuh atau bahkan kepada Nimas Rengganis." ucap Maharani sambil tersenyum masam.
********