
Tidak mau membuang waktu, Rengganis menggandeng tangan Chadra Arsyanendra kemudian membawa bocah itu, melompat menembus kegelapan hutan yang mengelilingi pesanggrahan Perguruan Gunung Jambu bagian dalam. Merasa baru melihat pemandangan hijau yang menakjubkan, mata bocah laki-laki itu tampak berbinar. Ada keengganan untuk meninggalkan tempat itu, meskipun baru pertama kali bocah itu masuk sampai ke lokasi bagian dalam.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, Rengganis menghentikan lompatannya. Perempuan muda itu kemudian turun di atas jalas setapak dengan tatapan areal persawahan di kanan dan kirinya. Bhadra Arsyanendra masih terdiam, bocah kecil itu sepertinya tahu kapan saatnya dia harus bicara, dan kapan saatnya dia harus diam,
"Raden Bhadra.., sebentar lagi kita akan masuk ke wilayah tempat pengungsian para perempuan anak-anak yang tinggal di perguruan Gunung Jambu. AKu harap, kamu dapat menjaga sikap dan menyesuaikan diri dengan keadaan di sana. Yang perlu kamu ingat, tidak akan ada pelayan khusus yang akan memberi pelayanan kepadamu di dalam sana. Semua bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.." untuk menjaga sikap protes yang dilakukan bocah laki-laki itu, Rengganis memberi tahu apa yang harus dilakukan pada Bhadra Arsyanendra. Bocah itu malah melihat Rengganis sambil tersenyum, sedikitpun tidak tampak ada keberatan pada diri bocah itu.
"Den Ayu tidak perlu khawatir padaku. Aku sebenarnya sudah terbiasa untuk mengurus diriku sendiri. Hanya saja, paman dan bibi yang sering bersikap berlebihan padaku. Den AYu tidak perlu memikirkanku.." tidak diduga, bocah laki-laki itu ternyata tidak keberatan dengan persyaratan yang diberikan oleh Rengganis. Renggansi tersenyum, kemudian terdiam untuk beberapa saat.
"Baguslah jika begitu.., ayo kita lanjutkan dengan jalan kaki santai saja. Tidak lama lagi kita akan sampai di tempat tersebut.." Rengganis mengambil nafas, kemudian mengajak bocah laki-laki itu untuk melanjutkan perjalanan. Bhadra Arsyanendra tersenyum, kemudian mengikuti perempuan itu di belakangnya. Mereka berjalan dalam diam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka.
Dari kejauhan tampak dua laki-laki seusia Bhadra Arsyanendra berlari menyambut kedatangan Rengganis. Meskipun tubuh kedua anak laki-laki itu masih terlihat bocah, tetapi penguasaan ilmu kanuragan sudah lumayan. Sehingga, kedua anak itu ditugaskan untuk berjaga-jaga di sekitar lokasi pengungsian.
"Den Ayu Guru Rengganis..., kami merasa senang bisa bertemu kembali dengan Guru disini. Parvati pasti akan senang mendengar kedatangan Guru kesini." kedua bocah itu memeluk tubuh Rengganis dengan akrab. Meskipun sebagai seorang guru, dan juga sebagai istri dari Wisanggeni, Rengganis memang tidak pernah menjaga jarak dengan para muridnya. Perempuan itu memperlakukan semua murid, sama dengan perempuan itu memperlakukan saudara-saudaranya.
"Siapa anak laki-laki ini Guru.., apakah Guru menerima seorang murid baru lagi..?" melihat keberadaan Bhadra Arsyanendra, timbul pertanyaan dari kedua anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Dia teman barumu.., ajak dia bermain. Saat kalian berlatih kanuragan, ajak juga bocah ini. Kamu bisa menyebutnya dengan panggilan Bhadra." Rengganis memutuskan untuk menutup identitan Bhadra Arsyanendra, di depan kedua bocah itu, Rengganis tidak mengatakan apa identitas dari anak itu.
Kedua anak laki-laki itu segera berjalan mendekati Bhadra Arsyanendra, dan bocah itu melihat ke arah Rengganis. Untuk meyakinkannya, Rengganis tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, bocah laki-laki itu mengikuti kedua anak laki-laki itu.
*********
Parvati berlari mendatangi Rengganis, ketika gadis kecil itu tahu jika ibundanya datang ke tempat pengungsian. Dengan penuh rasa haru, Rengganis membalas pelukan gadis kecil itu, dan mendekapnya untuk beberapa saat. Sebuah ciuman di lakukan Rengganis di pucuk kepala Parvati. Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Rengganis melepaskan pelukan dan melihat ke wajah putri Maharani dan Wisanggeni itu.
"Ibunda Rengganis tidak membawa bunda Maharani kesini... Parvati juga rindu dengan bunda Maharani,..?" terdengar pertanyaan dari Parvati, yang seperti mengiris perasaan Rengganis.
Dengan mata mengerjap, gadis kecil itu menatap mata Rengganis. Kekecewaan yang semula tergambar di mata gadis kecil itu, tiba-tiba dengan cepat menghilang. Mata itu kembali berbinar, dan seperti menemukan obat untuk menghilangkan kerinduan pada ibunda kandungnya.
"Bagi Parvati.., kedatangan bunda Rengganis, maupun bunda Maharani sama saja. Parvati yakin.., jika sudah selesai tugasnya, bunda Maharani pasti akan segera datang kesini untuk menyusul Parvati." ucapan polos keluar dari bibir mungil gadis kecil itu. Rengganis tersenyum, kemudian mengangkat tubuh Parvati, kemudian berjalan sambil menggendong tubuh gadis kecil itu.
Di depan, simbok pengasuh terlihat tersenyum menyambut kedatangan Rengganis. Tangan tuanya terulur mengambil Parvati dari gendongan Rengganis, kemudian menggendong di pinggangnya sendiri.
__ADS_1
"Selamat datang Den Ayu.., bagaimana keadaan dan kabarnya...?" sambil berjalan menuju arah masuk ke mulut gua, simbok bertanya pada Rengganis.
"Baik simbok.., semoga kalian semua juga baik dan tidak bosan tinggal beberapa hari disini. Karena kita belum tahu, akan sampai kalian aku tetap minta kalian untuk bersembunyi di tempat ini, Bahkan untuk kesempatan kali ini, Nimas Maharani juga belum memiliki kesempatan untuk menengok dan mengetahui kabar kalian." Rengganis masuk ke dalam mulut goa. Sebuah mulut goa yang sempit, tetapi setelah sampai di dalam, sebuah ruangan luas terlihat di depannya.
Rengganis kemudian duduk, dan menatap pada beberapa perempuan yang berada disana. Para perempuan itu kemudian mendatangi NImas Rengganis, dan berebut untuk menyalami perempuan itu. Setelah beberapa saat..,
"Simbok.., sampaikan pada orang-orang yang ada disini. Kedatanganku kesini sebenarnya bukan hanya untuk melihat keadaan kalian. Tetapi kedatanganku, karena aku membawa seorang bocah kecil. Siapakah dia, aku belum bisa bercerita banyak tentangnya. Hanya saja, lindungi bocah itu.., jika perlu pertaruhkan jiwa dan raga kalian untuk menjaganya. Nama bocah itu adalah Bhadra Arsyanendra, kalian bisa memanggilnya Raden Bhadra." Rengganis menitip pesan untuk menjaga putra mahkota kerajaan Logandheng.
"Baik sendhiko.. Den Ayu.." tidak mau memperjelas untuk apa Rengganis menitip pesan itu kepadanya, simbok menyanggupi apa yang diucap oleh Rengganis.
Rengganis kemudian berbincang-bincang beberapa waktu dengan mereka. Selama Rengganis berada disitu, Parvati tidak mau berpisah dengan ibundanya itu. Karena hari sudah menjelang sore.., akhirnya Rengganis berpamitan untuk kembali ke tapal batas. Dengan perasaan iba, beberapa perempuan ikut mengantarkan perempuan itu ke depan goa.
"Den Ayu..." tiba-tiba dari arah samping, Bhadra Arsyanendra berlari menghampiri Rengganis.
"Raden Bhadra.., jaga dirimu dengan baik. Ingatlah apa yang sudah aku pesankan kepadamu." sambil tersenyum, Rengganis memegang pundak bocah kecil itu.
__ADS_1
*********