Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 289 Persiapan Naik Tangga Ke Tiga


__ADS_3

Akhirnya tidak berapa lama, mereka berhasil memasuki wilayah yang ada di lantai dua. Ruangan disini terasa lebih sempit jika dibandingkan dengan ruangan yang ada di lantai satu. Jumlah orang yang sedang melakukan semedi disini juga sudah mulai berkurang, tidak sebanyak dengan orang-orang di lantai yang ada di bawahnya. Selain ukuran ruangan yang lebih sempit, tekanan udara juga terasa sedikit lebih berat dari lantai satu.


"Bagaimana paman.., apakah kita akan mencoba untuk berlatih disini?" melihat Pangeran ABhiseka masih melihat keadaan yang ada di lantai ini, Chakra Ashanka merasa tidak sabar untuk bertanya.


Pangeran Abhiseka tersenyum, kemudian mendekati ke tempat anak muda itu berdiri. Pangeran meletakkan satu tangan kanannya ke atas bahu Chakra Ashanka, kemudian menepuk pelan tiga kali di atasnya.


"Apa pendapatmu Ashan..., apakah kamu akan mencoba untuk naik ke lantai tiga, atau ingin melakukan semedi beberapa saat sebentar di tempat ini?" Pangeran Abhiseka balik bertanya kepada anak muda itu. Niken Kinanthi tersenyum mendengar perkataan yang disampaikan Pangeran Abhiseka. Melihat anak muda itu, perempuan itu yakin, jika anak muda itu masih bisa menaiki beberapa anak tangga di atasnya dengan sangat mudah. Dari tatapan matanya, Niken Kinanthi mengetahui betapa hebat dan dashyatnya energi yang terkandung di dalam tubuh Chakra Ashanka.


"Mungkin Ashan memilih untuk naik ke lantai atas paman. Tempat ini masih terlalu ramai dengan orang-orang, dan Ashan tidak akan dapat fokus untuk melakukan semedi dengan banyak orang di sekitarnya." dengan pipi merah merasa malu, Chakra Ashanka menyampaikan keinginnannya pada para sahabat dari ayahnda dan ibundanya itu.


"Lakukanlah anak muda.., aku dan Bibimu Niken Kinanthi juga akan mengikutimu untuk naik ke tangga yang ada di lantai tiga. Tetapi untuk lebih baiknya, aku akan bertanya pada paman Widayat terlebih dahulu, apakah mereka akan bertahan di lantai ini.., ataukah ikut dengan kita untuk menjajal kekuatan naik ke lantai tiga." sambil tersenyum, Pangeran Abhiseka menjelaskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Laki-laki putra mahkota dari Kerajaan Laksa itu, segera melihat ke arah Widayat dan teman-temannya.


"Jika begitu.., Ashan akan menunggu keputusan dari teman-teman pada kelompok ini lebih dulu paman. Jika tidak ada yang akan naik, baru Ashan akan naik sendiri ke lantai atas." ucap Chakra Ashanka.

__ADS_1


"Beberapa di antara kami akan mencoba naik ke atas Pangeran, tetapi sepertinya Saloka dan Saputra serta Sampana akan mencoba untuk berlatih dulu di lantai ini. Setelah mereka bisa menyerap energi yang kaya yang ada di lantai ini, baru biar mereka mencoba untuk naik ke lantai tiga untuk mengikuti kita semua." Widayat mengambil bicara mewakili orang-orang yang datang bersamanya,


Semua berpandangan dan akhirnya menyetujui keputusan yang dikatakan Widayat. Baru saja Pangeran Abhiseka akan melanjutkan bicaranya, tiba-tiba ada sekelompok orang datang dan tidak tahu disengaja atau tidak menyenggolkan bahunya dengan keras ke arah Sampana.


"Bisa tidak, anda jalan dengan lebih hati-hati Ki Sanak...?" dengan suara keras, sambil mengusap bahunya, Sampana bertanya pada orang-orang itu.


Tidak diduga, orang-orang itu tidak merasa bersalah dan tidak menyadari kesalahannya malah berhenti. Tatapan melotot mengintimidasi diarahkan pada Sampana. Merasa jengkel, Widayati maju dan menutup badan Sampana dengan tubuhnya.


"Mau apa kalian..., mau menindas kami? Sudah salah, tidak mau mengakui kesalahan.., malah akan menantang pada kami untuk berbuat ulah." dengan nada tinggi, Widayati menegur pada orang-orang itu.


"Plak..." tanpa diduga, sebuah tamparan diberikan Widayati di rahang laki-laki yang sedang berbicara itu. Muka merah seketika merebak di wajah laki-laki itu, kemudian menatap wajah Widayati dengan tatapan yang menyeramkan.


"Siapa yang memberimu keberanian untuk menamparku gadis kurang ajar...?" dengan tatapan kemarahan, laki-laki itu melotot pada Widayati. Tangan kanan laki-laki itu sudah di angkat ke atas untuk memberikan tamparan balasan kepada gadis itu. Tetapi belum sampai tamparan itu mengenai pipi gadis itu, sebuah tangan sudah menangkap pergelangan tangan orang tersebut.

__ADS_1


"Mohon maaf Ki Sanak.., tidak adil jika seorang laki-laki sejati akan memberikan tamparan kepada seorang gadis." sambil tersenyum, Chakra Ashanka menangkap pergelangan tangan tersebut, dan berbicara sarkasme. Anak muda itu sengaja mengerahkan energi kuat dalam tangkapan tangannya di pergelangan laki-laki itu, sehingga laki-laki itu merasakan sebuah kesakitan.


"Lepaskan tanganku Ki Sanak..., kita sedang tidak saling berurusan, dan sebaiknya kita tidak akan saling mengganggu ke depannya." menyadari kekuatan anak muda yang memegang tangannya jauh melebihi kekuatannya, laki-laki itu menurunkan nada bicaranya.


"Sebenarnya aku juga tidak ingin kita saling mengganggu Ki Sanak, Tetapi melihat sikapmu pada teman gadis kami dirasa kurang sopan, maka mau tidak mau aku membantu temanku untuk menyelesaikan masalah," dengan santai, Chakra Ashanka menanggapi perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu. Sebuah senyuman muncul di bibir anak muda itu, dan laki-laki itu merasa merinding melihat senyuman itu.


Laki-laki itu mencoba untuk melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Chkara Ashanka, tetapi sedikitpun dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Malah rasa sakit dan perih yang mengalir melewati aliran darahnya.


"KI Sanak..., lepaskan tanganku! Aku mengakui ada kesalahan dalam sikap kami, jika begitu aku mewakili kelompokku meminta maaf pada kalian semua." merasa kesakitan tidak dapat melepaskan diri dari cengkraman tangan Chakra Ashanka, akhirnya orang itu mengakui kesalahan dan meminta maaf.


"Baiklah jika begitu.., ke depan, sudah tidak ada masalah di antara kita. Aku juga mewakili kelompokku, menerima permintaan maaf dari kalian. Juga beri kami maaf atas kesalah pahaman yang baru saja terjadi di antara kita." tidak mau memperpanjang masalah dan urusan, Chakra Ashanka juga gantian minta maaf pada mereka. Kekuatan pada pergelangan tangan itu langsung dia tarik kembali, dan perlahan laki-laki itu terlihat lega dan mengusap bekas tangan yang masih tercetak di tangan laki-laki itu.


Tidak lama kemudian, ketiga orang itu membungkukkan badan kemudian pergi meninggalkan mereka. Pangeran Abhiseka, Widayat, dan Niken Kinanthi tersenyum melihat cara Chakra Ashanka menyelesaikan sebuah masalah. Tanpa bertele-tele menghapuskan waktu, masalah sudah berakhir dengan akhir yang menggembirakan.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita kembali ke pokok permasalahan kita. Siapa yang akan naik ke atas lebih dulu?" akhirnya Pangeran Abhiseka kembali mengajak mereka menyelesaikan pembahasan sebelumnya.


***********


__ADS_2