Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 469 Hati yang Patah


__ADS_3

Bhadra Arsyanendra dengan perasaan hancur hanya menatap Parvati dari belakang. Ayodya Putri yang juga sering mengalami perasaan yang sama hanya diam, kemudian menepuk bahu anak muda itu sebanyak tiga kali. Kedua anak muda itu segera mengikuti tiga orang itu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Kakang .. kenapa bisa terjadi hal seperti ini dengan ayahnda dan ibunda..?" dengan tatapan prihatin, Parvati bertanya pada kakangmasnya itu. Kalimat itulah yang pertama kali diucapkannya, tanpa memberikan salam seorang adik ketika berjumpa dengan kakang laki-lakinya.


"Begitulah Nimas.. kakang sendiri belum mengetahui persis bagaimana kejadian yang terjadi sebenarnya. Kakang hanya datang pada waktu yang tepat, sehingga bisa membawa ayahnda dan ibunda pergi meninggalkan goa tersebut,." ucap Chakra Ashanka yang menceritakan apa yang dialaminya.


"Goa.. apa maksud kakang. Bukankah ayahnda dan ibunda bermaksud untuk berkunjung ke tempat Ki Bawono. Bagaimana bisa keduanya berada di dalam goa. Apakah ayahnda dan ibunda akan melakukan semedi terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan Ki Bawono.." mendengar perkataan Chakra Ashanka, muncul banyak tanya dalam pikiran Parvati. Semua yang berada disitu, satupun tidak ada yang menyela pembicaraan kedua saudara itu. Bahkan Arya dan Dananjaya hanya melihat dan mendengarkannya saja.


"Maksudku begini Nimas..." Chakra Ashanka kemudian menceritakan tentang goa yang dimaksud dalam perkataannya. Anak muda itu memang tidak menutupi apa yang telah terjadi, tetapi memang dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Jadi hanya ketika goa itu hancur dan meledak, kemudian dibawanya ayahnda Wisanggeni dan Ibunda Rengganis dari tempat itu, itulah yang diceritakannya,


Parvati terduduk, kemudian gadis itu mendatangi ke tempat kedua orang tuanya berbaring berdampingan. Dananjaya mengikuti langkah gadis muda itu, kemudian berdiri di samping Parvati, gadis yang sudah menumbuhkan ketertarikan hatinya itu.


"Sabarlah Nimas Parvati.. semua orang akan mendapatkan ujian. Kali ini kedua orang tuamulah yang sedang mendapatkan giliran, kalian sebagai putra dan putrinya harus bersabar dan berupaya..." dengan ucapan lirih, Danajaya menasehati Parvati sambil tangan kanannya mengusap-usap pelan punggung gadis muda itu.


Parvati menengadahkan wajahnya ke atas, dan mata gadis itu beradu pandang dengan tatapan mata Dananjaya. Terlihat air mata menggenangi kelopak mata gadis itu, dan perlahan Dananjaya menarik sebuah sapu tangan kecil dari dalam kepisnya, kemudian mengusap air mata itu dengan menggunakan sapu tangan tersebut, Perlahan, laki-laki muda itu menyentuh kepala Parvati, kemudian menyandarkan di bahunya.

__ADS_1


Dari belakang, Bhadra Arsyanendra terlihat menggeram menahan rasa emosi yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Chakra Ashanka melirik ke arah anak muda itu, kemudian menarik Bhadra Arsyanendra dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Raden Bhadra kendalikan dirimu.. apa yang kamu lihat merupakan sesuatu yang wajar. Laki-laki muda yang dibawa Parvati ke tempat ini, melakukan tugasnya sebagai seorang laki-laki yang menawarkan perlindungan kepada seorang perempuan. Tidak ada yang salah bukan.. Apalagi laki-laki muda itu datang ke tempat ini, atas ajakan dari Parvati sendiri " terdengar Chakra Ashanka mencoba menyadarkan Bhadra Arsyanendra.


"Maafkan sikapku kakang, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku,. Melihat Nimas Parvati melakukan hal itu pada laki-laki lain, hatiku menjadi panas kakang. AKu tidak bisa mengendalikan dan mengijinkannya.." sambil menatap mata Chakra Ashanka, Bhadra Arsyanendra mengungkapkan apa yang dirasakannya.


Chakra Ashanka tersenyum, kemudian menepuk punggung anak muda itu sebanyak tiga kali.


"Raden Bhadra.. dalam kondisi saat ini, rayiku Nimas Parvati tidak melakukan kesalahan. Bukankah gadis itu belum memiliki ikatan apapun pada laki-laki manapun. Sehingga tidak akan ada yang bisa menyalahkan rayiku, ketika dia berhubungan dengan laki-laki lain. Raden Bahdra harus memahami hal tersebut.." kata-kata Chakra Ashanka seperti menampar anak muda itu.


"Ingat Raden Bhadra.. aku tidak ingin terjadi keributan dalam hal ini. Kedua orang tuaku membutuhkan ketenangan untuk memulihkan kondisinya. Harapanku dengan datangnya Nimas Parvati.. akan membantunya untuk menjalani penyembuhan. Jangan kacaukan itu semua Raden.. aku harap Raden Bhadra bisa bertindak lebih bijak.." dengan suara pelan, Chakra Ashanka menyampaikan harapannya pada anak muda itu.


"Aku akan berusaha kakang.. beri aku kesempatan.." ucap Bhadra Arsyanendra lirih,


Chakra Ashanka kemudian berjalan meninggalkan raja kerajaan Logandheng sendiri di tempat itu. Dengan ditinggalkan sendiri oleh Chakra Ashanka, Bhadra Arsyanendra segera mendudukkan dirinya pada sebatang kayu lapuk yang ada di belakangnya. Perasaannya terasa sakit dan seperti tertusuk duri melihat kebersamaan Parvati dengan Dananjaya di depannya,.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu Raden.. apakah bisa mengendalikan dirimu..?" tiba-tiba terdengar suara Ayodya Putri yang sudah berjalan mendekatinya,


Bhadra Arsyanendra mengangkat wajahnya ke atas, kemudian memandang ke arah Ayodya Putri. Gadis muda itu tersenyum, kemudian duduk di samping kanannya.


"Jangan salahkan Nimas Parvati Raden.. gadis muda itu tidak memiliki kesalahan sedikitpun. Apa yang kamu rasakan saat ini, sama ketika aku melihat bagaimana Nimas Sekar Ratih memberikan pelayanan pada Kang Ashan.. Semuanya sangat menyakitkan bagiku.." ucap Ayodya Putri lirih, dan tersenyum kecut.


"Maksudmu Nimas.. apakah kamu juga merupakan korban perasaan dari kang Ashan.." seperti mendapatkan teman, Bhadra Arsyanendra menatap wajah Ayodya Putri dengan serius.


Gadis muda itu tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ayodya Putri kembali tersenyum kecut, dan menatap ke tempat lain.


"Diriku bukan korban Raden.. karena kang Ashan dari pertama kali kita bertemu, tidak pernah menjanjikan apapun kepadaku. Aku saja yang sudah terlalu tinggi harapan pada laki-laki itu. Membandingkan diriku dengan Nimas Sekar Ratih, aku terlalu menilai diriku lebih unggul. Sehingga muncul perasaan dalam hatiku, aku akan bisa mengalahkan gadis muda itu untuk merebut hati kang Ashan. Namun ternyata.. semuanya tidak seindah yang sudah aku bayangkan Raden.." ucap Ayodya Putri pelan, tampak air mata menggenang di kelopak matanya,


"Tetapi.. karena semua sudah salah di awal, karena terlalu tingginya harapanku Raden.. Perlahan aku memupus perasaanku, dan mencoba berdamai dengan keadaan. Meskipun terkadang rasa perih dan sakit masih sering datang, aku akan mengalihkannya dengan melakukan suatu kegiatan.." lanjut Ayodya Putri.


"Turut prihatin dengan apa yang kamu alami Nimas Putri.. Namun aku tidak akan pernah berhenti berusaha.. aku akan menunggu saat yang tepat, agar aku bisa mengungkapkan apa yang aku rasa pada Nimas Parvati. Aku yakin Nimas.. jika aku akan dapat meminang hati gadis itu.." ucap Bahdra Arsyanendra dengan penuh keyakinan, sambil memandang Parvati yang masih duduk di depan kedua orang tuanya, dengan ditemani oleh Dananjaya.

__ADS_1


**********


__ADS_2