
Andhika dan Jatmiko mengambil posisi siaga, mereka mengambil tindakan untuk mengamankan Pangeran junjungan mereka. Pangeran Abhiseka sendiri juga mengedarkan pandangan ke sekitar pepohonan, tetapi sedikitpun mereka tidak melihat ada orang yang berkelebat disitu, bahkan gerakan tenaga dalam juga tidak mereka rasakan. Sambil mengusap punggungnya, Abhiseka menoleh ke arah Wisanggeni hanya malah tertawa sambil menutup mulutnya.
"Kenapa kamu malah mentertawakanku Wisang..?" Pangeran Abhiseka bertanya pada laki-laki itu.
"Apa yang kamu cari Pangeran..., diserang dengan tenaga dalam saja bisa kamu terima dengan baik. Hanya dilempar batu oleh anak-anak kecil saja, kamu sudah berteriak kesakitan." Wisanggeni meledek Abhiseka yang menatapnya dengan pandangan kebingungan.
"Lihatlah di atas pohon jambuĀ sana..!" Wisanggeni menunjuk ke atas pohon jambu. Tampak ada tiga anak kecil bersembunyi di atas pohon tersebut. Di tangan mereka masing-masing tampak sedang memegang ketapel.
"Walah.., walah..., benar katamu Wisang.. Aku sudah mengeluarkan urat syaraf, ternyata hanya anak kecil main-main terhadap kita." dengan senyum malu.., Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan Wisanggeni.
Beberapa saat mereka terus berjalan dalam diam, tiba-tiba muncul gagasan dalam pikiran Wisanggeni. Ketapel merupakan senjata untuk bermain perang-perangan bagi anak kecil. Peralatannya mudah untuk dibuat, hanya memanfaatkan kayu yang dapat dengan mudah dicari di alam sekitar mereka. Untuk senjatanya juga hanya menggunakan batu-batuan kecil, dan jika dilandasi dengan tenaga dalam.., ketapel bisa menjadi sebuah senjata yang bisa menghabisi lawan pertarungan.
"Ada apa Wisang, apakah ada yang kamu pikirkan?" melihat Wisanggeni terdiam, Pangeran Abhiseka bertanya pada laki-laki muda itu.
"Bukan apa-apa Pangeran, hanya sebuah gagasan kecil saja untuk melatih para perempuan mempertahankan keselamatan dirinya. Jika sewaktu-waktu mereka kita butuhkan untuk bertarung, atau setidak mempertahankan dirinya, mereka bisa memanfaatkan senjata berupa mainan anak-anak. Ketapel yang dipegang oleh anak-anak yang membidikmu tadi, sepertinya bisa menjadi senjata mudah bagi para perempuan." Wisanggeni menyampaikan gagasannya pada Pangeran Abhiseka.
__ADS_1
Mendengar penuturan dari Wisanggeni, senyuman di bibir Pangeran Abhiseka terbuka lebar. Tanpa sadar Pangeran mengangkat tangannya ke atas, dan menjentikkan ibu jari dengan jari telunjuknya. Laki-laki itu menyetujui gagasan yang diusulkan oleh Wisanggeni. Sebuah gagasan sederhana, tetapi jika menggunakan aura batin ataupun tenaga dalam, maka ketapel akan bisa menjadi senjata yang mematikan. Para perempuan hanya dibekali dengan cara agar mereka bisa menguatkan aura batin, tanpa harus belajar tentang banyak ilmu kanuragan..
"Menarik.., menarik.. Wisanggeni. Aku akan menyetujui gagasan yang kamu usulkan itu." ucap Pangeran Abhiseka. Tanpa diduga, Pangeran bertepuk tangan dan melambaikan tangan pada anak-anak yang berada di atas pohon itu. Anak-anak terlihat ketakutan, mereka merasa akan mendapatkan hukuman dari para laki-laki dewasa itu. Tetapi setelah mereka melihat ke arah Pangeran Abhiseka untuk beberapa saat, dan tidak ada tanda-tanda kemarahan pada laki-laki itu, anak-anak itu memberanikan diri untuk turun ke bawah.
"Clap.., clap.. hoops." tiga anak kecil itu tanpa menggunakan batang pohon untuk merambat turun, mereka hanya menggunakan dua kali lompatan, dan mereka saat ini sudah sampai di depan Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka berdiri. Muncul kekaguman di wajah kedua laki-laki dewasa itu, dengan pandangan takjub mereka mengagumi kelincahan anak-anak kecil itu.
"Ampuni kami kang..., kami hanya sedang bermain-main saja. Tidak ada niat sedikitpun dari kami untuk mencelakakan kangmas berempat." salah satu dari ketiga anak kecil itu meminta pengampunan pada mereka.
Melihat reaksi ketakutan ketiga anak kecil itu, muncul rasa iba di hati Wisanggeni. Laki-laki itu tersenyum, kemudian mendatangi ketiga anak kecil itu, Wisanggeni mengusap kepala anak-anak itu. Bagaimanapun, mereka dulu juga pernah mengalami masa kecil, dan terkadang tanpa kendali dapat melukai orang lain.
"Ini kang.." ketiga anak kecil itu menyerahkan ketapel mereka pada Wisanggeni. Setelah menerimanya, Wisanggeni memberikan satu ketapel pada Pangeran Abhiseka.., kemudian mereka berdua mengamatinya dengan seksama.
**********
Di kedai makanan
__ADS_1
Sambil mengupas ubi jalar, Wisanggeni mengajak Pangeran Abhiseka untuk membicarakan kelanjutan untuk menjadikan ketapel sebagai senjata di kerajaan. Di tangan Pangeran, terdapat satu buah ketapel yang diberikan oleh anak kecil tadi. Mereka juga mendapatkan informasi tentang pembuat ketapel untuk mainan anak-anak di desa itu.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya Pangeran.., apakah kamu akan mengurangi penggunaan senjata panah dan menggantikannya dengan ketapel?"
"Aku akan mengirim pemberitahuan ke kerajaan Wisang, penggunaan ketapel membutuhkan biaya yang lebih sedikit daripada jika menggunakan anak panah. Untuk permulaan, aku akan meminta mereka memesan ketapel dari desa ini, dan lambat laun orang-orang di kerajaan untuk mereka membuatnya sendiri. Mungkin ibunda akan dapat memimpin satu kelompok perempuan sebagai pasukan untuk mempertahankan diri mereka dan anak-anak, dengan menggunakan ketapel sebagai senjata mereka." Pangeran Abhiseka akan langsung menerapkan ketapel sebagai senjata untuk perempuan di wilayah kerajaannya.
"Bagus.., semakin cepat informasi ini tersampaikan ke kerajaan akan menjadi lebih baik. Tetapi.., bagaimana kamu akan mengirim pesan Pangeran.., bukannya merpatimu sedang aku gunakan untuk mengantarkan pil esensi naga ke kerajaan ular?" Wisanggeni mengingatkan Abhiseka jika merpatinya sedang bertugas mengirim pil esensi naga.
"Heh..., jangan meremehkan aku Wisang. Yang aku perintah untuk mengantar pil esensi memang merpati terbaik. Tetapi masih banyak merpati di kerajaan, yang dilatih oleh pengawal untuk menjadi penyampai rahasia yang paling bisa untuk kuandalkan. Aku hanya menugaskan mereka untuk menyampaikan informasi saja, lihatlah ini!" Abhiseka menunjukkan gulungan daun lontar yang sudah ditulisi pesan untuk senopati perang.
"Kamu memang sangat pintar untuk menyusun strategi Pangeran. Aku yakin, kerajaanmu akan menjadi sebuah kerajaan yang besar, jika kamu menggantikan tampuk kepemimpinan ayahndamu." mengakui kepintaran Pangeran Abhiseka, dengan tulus Wisanggeni memberi pujian pada laki-laki itu.
"Mudah untuk berbicara Wisang.., tetapi sedikitpun aku tidak memiliki niat untuk menggantikan kepemimpinan ayahnda. Jiwaku ada di alam Wisang, bukan untuk dikurung di dalam istana kerajaan. Semua akan mengekang keinginanku, kebebasanku.., jika kamu ijinkan, aku akan mengikutimu. Bersama-sama aku akan membantumu mengelola perguruan di perbukitan Gunung Jambu." Wisanggeni terkejut mendengar perkataan Pangeran Abhiseka, tidak mudah untuk menemukan seseorang yang mengabaikan keinginan duniawinya. Keinginan dilayani, dimuliakan, dan keinginan akan posisi jabatan. Apalagi sebagai seorang raja, tetapi saat ini di sampingnya duduk laki-laki yang menghilangkan semua keinginan duniawi itu.
"Hati-hati dengan bicaramu Pangeran.., jangan sampai menjadi bumerang yang akan menghambat langkahmu di masa depan." sambil menelan ludah, Wisanggeni hanya mengingatkan Pangeran Abhiseka. Bukannya Wisanggeni tidak mengijinkan keinginan dari Pangeran, tetapi akan sangat berbahaya bagi perguruan, jika hal itu didengar dan disebarluaskan oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
__ADS_1
*********