Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 49 Penyesalan


__ADS_3

Wisanggeni terpana melihat keindahan yang tampak jelas di depan matanya. Berkali-kali laki-laki itu mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain, tetapi godaan melihat paduan cantik tubuh indah dengan pakaian yang melekat basah karena guyuran air, sangat serasi dengan suasana di sekitarnya. Apalagi Rengganis seakan memancing keberaniannya untuk melakukan sesuatu yang lebih terhadapnya.


"Kang Wisang..., kesinilah! Air terjun ini sangat pas untuk memijat punggung kita. Aliran derasnya sangat kencang jatuh ke tubuhku." teriak Rengganis memanggil Wisanggeni.


"Nimas nikmati sajalah, Akang lagi ingin menyelam saja." menyadari godaan yang sangat besar itu, Wisanggeni memutuskan untuk tidak mendekat pada Rengganis.


Dia langsung menyelam ke dasar mata air, setelah beberapa saat berada di kedalaman, laki-laki itu segera naik dengan membawa dua ekor ikan di tangannya. Dengan cekatan, laki-laki itu membersihkan ikan seorang diri kemudian membakarnya.


"Enak sekali kang Wisang bau ikan bakarnya." Wisanggeni terkejut, mendengar suara Rengganis yang sudah berada di belakangnya.


Dia menoleh ke belakang, dan tanpa dia sadari matanya tidak berkedip. Masih menggunakan pakaian basah yang membentuk tubuhnya, dan warna kulit yang tampak jelas di bawahnya, Rengganis datang dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Rengganis.." bisik laki-laki itu dengan suara serak.


Matanya tidak bisa dialihkan, perlahan dia mendekat ke arah perempuan itu. Sepasang mata jernih itu menangkap tatapan laki-laki itu, dia menengadahkan wajahnya. Tidak tahu siapa yang memulai, kedua bibir itu sudah menyatu dan saling mereguk manis keduanya. Semilir angin dan suasana di sekitar air terjun itu ikut membuai keduanya. Pakaian atas yang dikenakan Rengganis sudah terlepas, dan seperti orang yang sedang kehausan, bibir Wisanggeni sudah bermain di tubuh bagian atas gadis itu.


Berbagai ceracauan yang sangat memabukkan keluar dari mulut Rengganis, yang menjadikan kedua insan beda jenis itu untuk saling memiliki seutuhnya.


"Auuummm." tiba-tiba terdengar suara auman Singa Ulung yang datang mendekat pada mereka.


Kedua orang yang sedang terbuai itu langsung tersentak, dan mereka memisahkan diri. Wisanggeni tersenyum pahit, dan dengan kepala pusing dia melotot pada Singa Ulung. Untuk meredam keinginan alamiah dasar, laki-laki itu segera kembali meloncat dan masuk menyelam ke dalam air.


Tidak berapa lama, kedua manusia itu sudah duduk menikmati ikan bakar tanpa bicara. Semburat pink masih terlihat di pipi Rengganis, yang malu-malu mulai menyisihkan duri dari ikannya.


"Selesai makan kita langsung menuju Klan Suroloyo. Bagaimana menurutmu Nimas?" tanya Wisanggeni memecah kesunyian.


"Anis ikut Akang saja, kemanapun tujuan yang akan Akang ambil." sahut Rengganis yang masih malu untuk mengangkat wajahnya.

__ADS_1


Wisanggeni mengambil air minum dari kepis, setelah meminum beberapa teguk, dia memberikan tempatnya pada Rengganis. Perempuan itu mengambil tempat air minum itu, sambil mengangkat wajahnya. Tanpa diduga, Wisanggeni memberikan sentilan di hidung perempuan itu.


"Wajahmu lucu dan semakin menggai...rahkan Nimas. Berhentilah memancingku!" ucap Wisanggeni perlahan.


Tanpa diduga, Rengganis memberikan cubitan di pinggang laki-laki itu.


"Auwww...." teriak Wisanggeni.


"Kenapa Kang.., sakit?" tanya Rengganis sedikit khawatir.


"Sakit..., tapi obatnya mudah saja." ucap Wisanggeni dengan tersenyum smirk.


Rengganis cemberut kemudian membalikkan badannya. Singa Ulung menatap keduanya.


"Ha..ha .ha.., ayo Singa Ulung! Kita menuju ke Klan Suroloyo." Wisanggeni segera menepuk tubuh Singa Ulung, kemudian menarik Rengganis. Keduanya dengan penuh rasa bahagia, sudah berada di atas punggung binatang itu.


"Hentikan tangisanmu Niken Kinanthi..., tidak ada yang perlu kamu khawatirkan! Percayalah.., tabib A Siong sudah berusaha!" Ki Brahmono mencoba menenangkan Niken putrinya.


Niken Kinanthi tampak terisak di pinggir tempat tidurnya, dengan kepala dia sandarkan di atas kasurnya. Tangan kanan Ki Brahmono dengan penuh kasih memberikan usapan lembut pada pucuk kepala perempuan itu.


"Niken tidak ingin sesuatu terjadi pada ayah. Tabib A Siong memiliki reputasi sebagai tabib nomer satu di wilayah ini, tapi sampai sekarang belum mampu memberikan kesembuhan pada ayah." ucap Niken Kinanthi sambil memegang tangan ayahndanya.


Ki Brahmono sudah cukup lama menderita penyakit aneh. Tubuhnya akan mengalami mati rasa dari pinggang sampai kaki, dan tiba-tiba akan merasakan dingin seperti tubuhnya dirajam dengan tusukan jarum. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.


Berbagai tabib sudah didatangkan oleh keluarga ini, tetapi belum ada yang mampu memberikan kesembuhan padanya. Bahkan tabib nomor satu di kerajaan ini yaitu Tabib A Siong juga belum membawakan hasil.


Niken Kinanthi yang sedang berlatih di perguruan Kilat Merah segera diminta kembali untuk menunda keinginannya menjadi seorang pendekar perempuan. Meskipun kepulangannya mendapatkan tentangan dari gurunya, tetapi melihat kondisi ayahndanya tidak ada pilihan lain baginya.

__ADS_1


"Cukup doa dari anak-anak ayah yang akan menghantarkan ayahanda sembuh Niken. Semoga sakit ayah ini, bisa menjadi penebus atas kesalahan fatal putusnya amanah pertunanganmu dengan putra dari Klan Bhirawa." Ki Brahmono tersenyum pahit.


"Maafkan Niken ayah.., yang tanpa pertimbangan matang sudah menghancurkan janji ayahanda. Niken menyesal." ucap Niken Kinanthi sambil menundukkan wajahnya. Air mata kembali mengalir deras, dia teringat akan kesombongan yang dia lakukan pada Wisanggeni.


Tanpa terlebih dahulu minta ijin atau memberi tahu ayahndanya, dia langsung ke Klan Bhirawa untuk membatalkan perjanjian pertunangan. Hanya mendengarkan omongan dari pamannya dan guru-guru muda di perguruan Kilat Merah, secara sepihak dia memutuskan perjanjian lama itu.


"Semua sudah terjadi Niken, semoga ada pembelajaran yang bisa kamu ambil dari kejadian ini. Mendengar hilangnya Ki Mahesa, dan ayahanda tidak bisa ikut melakukan apa-apa, juga menjadi penyesalan untuk ayah."


"Terima kasih atas pengertiannya ayah, jika dibolehkan Niken akan ikut mencari dimana keberadaan Paman Mahesa. Semoga apa yang akan Niken lakukan, bisa mengurangi kekecewaan di hati Wisanggeni." ucap Niken Kinanthi pelan.


Ki Brahmono mengambil nafas panjang, dia trenyuh dengan apa yang dialami putrinya saat ini. Saat dia lengah melakukan pengawasan pada putrinya itu, dengan mudah Niken Kinanthi mengambil keputusan yang telah mengecewakan. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin akan mengembalikannya menjadi nasi kembali.


"Tok.., tok.., tok..," tiba-tiba terdengar suara ketukan tiga kali di pintu.


"Masuklah!" ucap Niken Kinanthi pelan, dia kemudian mengusap air mata yang masih ada di pelupuk matanya.


Bisma abdi dalem yang selalu melayani keperluan Ki Brahmono masuk ke dalam senthong.


"Ijin melaporkan Ki Brahmono, Nimas Niken!" Bisma minta ijin untuk melaporkan sesuatu.


"Sampaikanlah!" ucap Ki Brahmono singkat.


"Ada tamu dua orang anak muda, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka ingin melihat keadaan Ki Brahmono. Saya masih ragu untuk mengijinkannya atau tidak?" dengan wajah khawatir, Bisma menyampaikan informasi.


"Persilakan mereka untuk masuk Bisma, kamu tidak perlu khawatir!"


*********

__ADS_1


__ADS_2