Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 218 Penyisiran


__ADS_3

Penyisiran ke rumah-rumah tempat warga masyarakat di kerajaan Laksa, dilakukan secara serentak oleh pasukan kerajaan. Tidak ada warga yang berani keluar rumah atau berkumpul dengan warga lainnya, jika mereka tidak memiliki kepentingan yang penting. Tidak segan-segan, para pasukan akan menyeret warga yang mereka anggap mencurigakan. Bahkan beberapa menyakiti perempuan dan anak-anak. Hal tersebut juga terjadi pada Niken Kinanthi. Gadis itu baru saja sampai di kota Laksa, dan sedang berjalan mencari keluarganya di kota tersebut.


"Bisakah kamu bersikap lebih sopan terhadap seorang perempuan..?" dengan cepat, tangan Niken Kinanthi menghalang tangan seorang anggota pasukan, yang sedang mengayunkan tangannya untuk memukul seorang perempuan tua. Anggota pasukan tersebut terkejut melihat besarnya tenaga yang digunakan gadis itu.


"Siapa kamu.., beraninya kamu menghalangiku? Apakah kamu tidak tahu.., siapa penguasa kerajaan Laksa sekarang? Siapa yang membangkang, mereka akan ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Jangan berani menghalangiku gadis,..!" dengan wajah terkejut, laki-laki itu berteriak memperingatkan Niken Kinanthi.


"He.., he.., he..., ucapkan kalimat kesombonganmu pada sesama laki-laki yang memiliki usia sepadan denganmu, bukan pada perempuan tua yang sudah lemah. Aku tidak peduli, siapapun rajamu saat ini, aku tidak akan pernah membiarkan kesewenang-wenangan terjadi di depan mataku. Kamu harus tahu itu.." dengan tertawa kecil, Niken Kinanthi tertawa mengejek laki-laki tersebut. Mendengar ucapan dari gadis muda itu, muka laki-laki tersebut merah padam. Anggota pasukan tersebut merasa dilecehkan.


"Terlalu banyak omong kamu gadis..., untung saja wajahmu cantik. Jika jelek, sudah aku buat hancur wajahmu, sehingga kamu tidak akan berani untuk bertindak sombong. Aku ingatkan.., menyingkirlah dan jangan halangi jalanku. Aku akan mengampunimu, tetapi jika kamu tetap bertahan dan menghalangi kegiatanku. Jangan salahkan aku, jika aku akan menyakitimu." laki-laki itu mencoba untuk menggertak Niken Kinanthi. Tetapi sedikitpun gadis muda itu tidak bergerak, tatapan mata dan senyummu malah tampak mencibir laki-laki tersebut. Melihat tersebut, anggota pasukan itu merasa tertindas.., dan tiba-tiba..


"Sretttt..., dukkk.." dengan cepat tendangan kaki laki-laki itu, terarah pada Niken Kinanthi. Tetapi dengan sigap dan kecepatan di atas rata-rata, Niken Kinanthi langsung menangkap kaki orang tersebut, dan menghempaskannya ke belakang. Tanpa diduga, tubuh laki-laki itu terpental jatuh ke belakang, dengan tubuhnya membentur batang pohon. Di depannya, Niken Kinanthi mengejar laki-laki itu dengan tatapan menghunus.. Perempuan tua yang diselamatkan oleh gadis itu, segera ditolong untuk diamankan oleh warga masyarakat yang lain.

__ADS_1


"Kur..., kurang ajar kamu... hoekk..." laki-laki itu mencoba berdiri, tetapi baru saja mengangkat salah satu kaki dari atas tanah, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan muntahan darah segar.


"Aku tidak suka laki-laki yang bertindak menjijikan di depanku. Terimalah ini.... hukkk..." tanpa memberi kesempatan pada laki-laki itu untuk menyelamatkan diri, sebuah serangan dikirimkan Niken Kinanthi ke tubuh laki-laki tersebut. Tidak lama kemudian, tubuh laki-laki itu kembali terpental dan bersimbah darah, tanpa memiliki kesempatan untuk melawan serangan Niken Kinanthi. Melihat kondisi laki-laki tersebut, Niken Kinanthi tersenyum sinis, dan tanpa bicara perempuan muda itu segera berjalan meninggalkannya.


Semakin masuk ke tempat pemukiman warga masyarakat, semakin mendidih darah Niken Kinanthi melihat tindakan sewenang-wenang para anggota pasukan kerajaan. Perempuan muda itu membatalkan niatnya untuk berkunjung ke tempat saudaranya, dengan cepat Niken Kinanthi melompat dan menyelinap di rimbunnya pepohonan.


********


Di dalam kerajaan


"Siapa yang bertanggung jawab dengan runtuhnya penjara bawah tanah semalam Dirga.., dan bagaimana keadaan ayahnda Prabu? Apakah sudah ada yang menemukan keberadaan atau paling tidak jasad dari laki-laki tua itu?" dengan muka merah menahan marah, Pangeran Prakosa bertanya pada laki-laki yang duduk di depannya itu.

__ADS_1


"Ampun Pangeran Prakosa.., kami belum mendapatkan kabar keberadaan dari Gusti Prabu dan Permaisuri. Untuk pelaku perusakan juga belum dapat kami lakukan identifikasi. Hanya berdasarkan kesaksian para pengawal yang masih hidup, mereka hanya melihat seekor singa berwarna putih terbang membubung ke angkasa, sesaat setelah penjara bawah tanah itu ambruk." laki-laki yang bernama Dirga, yang saat ini diserahi tugas untuk memimpin ppasukan kerajaan itu, melaporkan diri.


"Singa putih yang bisa terbang.., bukankah.." mendengar perkataan Dirga, pangeran Prakosa terlihat sedang bergumam, tiba-tiba laki-laki itu teringat dengan sahabat Pangeran ABhiseka yaitu Wisanggeni.


"Menurut cerita yang beredar, hanya ada satu pendekar di wilayah sini yang memiliki dua ekor binatang berbentuk singa putih yang bisa terbang. Dia adalah Wisanggeni, putra dari Ki Mahesa dari Trah Bhirawa, dan saat ini sedang mengelola sebuah padhepokan di wilayah timur. Apakah kira-kira, Wisanggeni yang sudah melakukan hal tersebut Pangeran.." Dirga menambahkan keterangan tentang penunggang binatang Singa putih yang bisa terbang,


"Hmm..., pemikiranmu sama denganku Dirga., Aku tahu.., Trah Bhirawa memiliki sebuah padhepokan di dekat pinggiran kota Laksa. Kirim beberapa pasukan untuk memporak porandakan Trah tersebut, dan tangkap orang-orang yang dianggap mencurigakan. Aku curiga, Wisanggeni datang dan mencoba membantu kakangmas Pangeran Abhiseka." dengan suara bergetar menaham marah, Pangeran Prakosa segera memberi perintah pada Dirga. Tanpa membantah, Dirga langsung menerima perintah tersebut. Laki-laki itu segera berdiri dan melakukan undur diri dari hadapan Pangeran Prakosa.


"Abhiseka..., apakah kamu pikir hanya sendirian kamu akan bisa mengalahkanku, dengan Tapak Geni di belakangku. Kamu akan lihat, kehancuran keluargamu akan ada di depan matamu.., karena kamu sudah berani menyakiti ibundaku.. Hum..., sekian lama aku memendam rasanya dibedakan dari romo prabu..." sepeninggalan Dirga, Prakosa berdiam sendiri. Kedua gadis muda yang ada di sekitarnya, memijit bahu putra selir kerajaan Laksa itu.


"Kakang patih Pancolo..., perketat penjagaan untuk memasuki wilayah kerajaan! Tangkap dan hukum siapapun yang berani memasuki wilayah kerajaan, tanpa bisa menjelaskan dari mana asal usulnya. Kita tidak boleh terlalu meremehkan kejadian tadi malam. Bisa menghancurkan penjara bawah tanah, dan membawa kabur romo prabu dan ibunda permaisuri.., meskipun keadaanya belum diketahui, merupakan tamparan untuk kita." tiba-tiba Pangeran Prakosa berteriak keras mengingatkan Patih kerajaan.

__ADS_1


"Sendiko Pangeran.., semua titahmu akan kami jalankan. Seperti Senopati Dirga, ijinkan saya untuk meninggalkan istana, masih banyak yang harus dilakukan pengecekan situasi." Pangeran Prakosa mengangkat tangan sebagai isyarat memberikan ijin pada patih kerajaan.


*********


__ADS_2