Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 114 Pemandangan Baru


__ADS_3

Papan dari selendang warna ungu peninggalan Ratri melaju tanpa kendali, dengan dua anak manusia di atasnya. Setelah beberapa waktu berjalan.., papan meluncur keluar dari terowongan dengan pesat.


"Bruak..." papan warna ungu terjatuh di rerumputan. Rengganis dan Wisanggeni pingsan di atasnya. Tanpa kedua orang itu ketahui, sebuah selubung warna ungu transparan tampak melindungi mereka yang masih terbaring pingsan di atasnya. Tidak ada luka sedikitpun pada kedua tubuhnya, tetapi karena kelelahan terlalu lama memacu aura batinnya keluar, dengan tenaga dalam yang banyak menjadikan keduanya jatuh pingsan.


"Gongggg...." suara alat musik gamelan gong sangat kencang terdengar dari bawah lembah. Kedua anak manusia itu akhirnya terbangun, akibat dari getaran dan suara keras yang ditimbulkan oleh alat musik tersebut.


"Mmmm..., ada dimana kita?? Kang.., Akang Wisang.., bangunlah. Lihatlah lingkungan yang ada di sekitar kita, semuanya terlihat menakjubkan." mata Rengganis yang sudah membuka, sangat terkejut melihat ada dimana mereka sekarang. Perlahan tubuh itu segera bangun dari posisi tidur, dia segera mendudukkan dirinya. Mata gadis itu mengerjap, melihat warna hijau tumbuhan alam yang ada di sekitarnya, dengan warna langit yang tampak biru cerah.


Di kejauhan tampak gunung dengan awan yang menyatu di atasnya, menambah keindahan alam yang ada di hadapannya, dan menjadikan pemandangan itu seperti negeri dongeng. Melihat Wisanggeni yang mulai bergerak, Rengganis segera memperhatikan suaminya kembali.


"Akang..., bukalah mata Akang. Sangat indah sekali akang, pemandangan alam yang ada di sekitar kita sekarang. Rengganis tidak tahu, kita terjatuh di wilayah mana." Rengganis berbicara pada Wisanggeni yang mulai membuka matanya. Perlahan laki-laki itu bangun, dan seperti yang dialami istrinya saat pertama menyaksikan keindahan itu, mata Wisanggeni sangat takjub melihat sekitarnya.


"Kemana saudara-saudara kita yang lain Nimas..., apakah kamu melihatnya?" Wisanggeni langsung teringat, mereka tadi memasuki terowongan bersama dengan teman-temannya yang lain. Tetapi saat ini, tidak ada satupun yang terlihat bersama dengan mereka.


"Rengganis tidak tahu Akang.. Semoga saja mereka bisa menyelamatkan diri mereka, terakhir kali saat kita masih berada di dalam terowongan, sepertinya beberapa orang kita ada yang menjadi korban." ucap Rengganis pelan. Berada di tempat baru seperti itu, dimana mereka tidakĀ  bisa mengendalikan kekuatan alam, mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi dengan mereka.


Wisanggeni kemudian berdiri, laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya bangun. Setelah mereka berdua berdiri, Renggani terkejut karena papan warna ungu tiba-tiba berubah menjadi sebuah selendang lagi. Dengan mata terkagum, Rengganis melipat kembali selendang itu.

__ADS_1


"Akang juga tidak mengetahui kekuatan yang disembunyikan oleh selendang itu Nimas. Ternyata selendang ini malah menyelamatkan dan mengantarkan kita ke tempat ini." ucap Wisanggeni.


Rengganis tersenyum, gadis itu kemudian menyimpan lipatan selendang ke dalam kepisnya. Teringat dengan Singa Ulung, tangan Wisanggeni segera masuk ke dalam kepis kemudian menarik keluar kucing putih kecil dari dalam. Setelah kucing itu keluar, tepukan tiga kali pada paha atas sisi kanan, membangkitkan kucing itu dari istirahatnya. Seekor singa putih besar tampak gagah berdiri di samping mereka berdua. Seperti orang kebingungan, mata Singa Ulung mengerjap, binatang itu seperti menemukan sesuatu yang hilang.


"Ulung.., apakah kamu tahu ada dimana kita sekarang ini?" dengan mengusap bulu di leher Singa Ulung, Wisanggeni bertanya padanya.


Tanpa diduga oleh Rengganis dan Wisanggeni, binatang itu merespon pertanyaan itu.


"Aku tidak asing lagi dengan semua pemandangan ini. Akhirnya aku berhasil pulang ke tempat asalku Wisanggeni." suara pelan terucap dari mulut binatang itu.


"Ini di wilayahku Wisang.., Rengganis. Beberapa binatang yang ada disini, semua bisa berkomunikasi dengan semua manusia. Aku ingin mencari dimana keluargaku.." Singa Ulung menjawab pertanyaan dan keheranan kedua orang itu.


"Baik.., kita akan mencari bersama-sama Ulung. Sekaligus kita mencari saudara-saudara kami yang lain." sambil kembali mengusap punggung Singa Ulung, Wisanggeni menanggapi perkataan binatang itu.


***************


Ketiga makhluk itu berhenti di sebuah mata air dengan air terjun dan curug yang sangat indah. Wisanggeni menghentikan Rengganis yang sudah akan masuk ke mata air yang sangat bening itu. Tampak ikan berenang di bawah air dengan indahnya.

__ADS_1


"Tunggulah Nimas.., aku akan memeriksanya dulu! Siapa tahu ada racun atau ada pemilik mata air ini." Wisanggeni ingin memeriksa terlebih dahulu, dia khawatir jika ada bahaya dibalik keindahan tersebut. Perlahan laki-laki itu berjongkok, kemudian mengambil air dengan menggunakan telapak tangannya. Setelah membaui air itu sebentar..


"Nimas..., air ini tidak mengandung racun. Betul-betul bersih dan segar." Wisanggeni meminum air di depannya, dia meraupnya dengan menggunakan telapak tangan.


"Pergilah kalian ke air terjun itu, lakukan meditasi disitu. Kekuatan air disana sangat kuat, jika kalian bisa menyerap esensi airnya, maka kekuatan kalian akan bertambah besar." tiba-tiba Singa Ulung memandu mereka. Wisanggeni dan Rengganis saling berpandangan, kemudian dengan menepuk punggung Singa Ulung mereka bertiga segera turun ke dalam air.


"Air terjun ini sangat deras Nimas, hati-hati." melihat derasnya air yang turun ke bawah, Wisanggeni berpesan pada Rengganis.


"Iya Akang..., kita harus hati-hati."


Setelah menyimpan semua barang berharga ke dalam kepis, Wisanggeni dan Rengganis berjalan menuju air terjun. Kulit Wisanggeni segera menegang merasakan dinginnya air yang sangat deras mulai membasahi badannya. Mereka segera duduk bersila di bawah guyuran air, dan dari sela-sela air terjun itu Wisanggeni melihat ada warna ungu samar turun bersama air. Sesaat dia duduk bersila, dan mulai memejamkan mata, Wisanggeni merasakan sebuah kekuatan yang luar biasa seperti melonjak ke dalam tubuhnya bersama dengan derasnya air.


"Sakit sekali kepalaku.., air deras ini seperti bilah sembilu yang tajam melukai kepalaku. Aku harus kuat dan menahannya." Wisanggeni berpikir sendiri, dia menguatkan dirinya yang merasa kesakitan.


Wisanggeni melirik Rengganis yang duduk bersila di sampingnya. Gadis muda itu terlihat memejamkan matanya, dia sedikitpun merasa tidak terganggu dengan derasnya air yang mengguyur tubuhnya. Wisanggeni tersenyum malu, laki-laki itu kembali memejamkan matanya, tulang-tulang yang terasa remuk karena menahan rasa ngilu tidak dia pedulikan sama sekali. Dari samping air terjun, Singa Ulung melihat pasangan suami istri dengan matanya yang tajam. Setelah memastikan kedua orang itu, sudah dapat menyesuaikan diri dengan kondisinya, perlahan Singa Ulung naik ke atas sungau. Tidak lama binatang itu sudah menghilang jauh ke dalam hutan.


**************

__ADS_1


__ADS_2