Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 249 Pertikaian


__ADS_3

Chakra Ashanka mengeluarkan aura kekuatan tanpa menyembunyikan sedikitpun. Anak laki-laki itu belum menyadari kekuatan yang dimilikinya, dimana kekuatan itu sudah bertambah saat mengunjungi makam kuno leluhur Bhirawa dan Jagadklana. Saat bersama Wisanggeni dan Rengganis, Chakra Ashanka baru menguji kekuatan dengan mengirimkan serangan ke tebing di bukit yang ada di Jagadklana. Kali ini, tanpa ragu Chakra Ashanka menunjukkannya kekuatan yang dimilikinya di tempat itu.


"Siapa yang berani pamer kekuatan disini..?" tiba-tiba dua laki-laki kekar berteriak keras. Mereka merasa sesak menahan serangan tenaga dalam yang tidak terlihat. Bahkan kekuatan mereka terasa seperti tersedot habis, dan tubuh mereka menjadi tidak bertenaga.


Chakra Ashanka diam tidak menjawab, matanya tajam menatap pada dua laki-laki itu. Sepertinya kedua laki-laki kekar itu tidak menyadari dari mana asal kekuatan yang menekan kekuatan mereka. Tatapan mata kemarahan diedarkan ke sekeliling tempat itu, tetapi orang-orang yang berada disitu terlihat ketakutan melihat padanya. Hanya Chakra Ashanka yang berani menatapnya dengan berani.


"Bocah... apakah kamu yang sedang memamerkan kekuatanmu padaku..?" tiba-tiba salah satu dari dua laki-laki itu bertanya pada Chakra Ashanka. Rupanya dia sudah menyadari aliran energi besar yang menyelimuti putra Wisanggeni itu. Perlahan laki-laki itu berjalan mendekat pada Chakra Ashanka.


"Apakah penting aku menjawab pertanyaan Ki Sanak?? Aku rasa, akan ada rasa malu jika aku mengakui apa yang Ki Sanak tanyakan padaku." dengan tersenyum sinis, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan dari laki-laki itu.


"Kurang ajar.., beraninya kamu mempermainkan kami bocah ..." dengan mata merah, laki-laki itu berbicara dengan nada tinggi. Teman laki-laki itu ikut berjalan mendekat putra Wisanggeni itu.


"Paman..., dari tadi sepertinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dengan tidak tahu malu, paman berdua menindas keluarga itu. Sekarang kenapa jadinya paman marah-marahnya kepadaku?" Chakra Ashanka kembali menanggapi perkataan laki-laki itu.


"Jarwo.., sepertinya perlu kita beri pelajaran juga bocah ini. Anak kemarin sore saja, berani bertingkah di depan laki-laki dewasa seperti kita. Ha.., ha.


, ha.." sambil tertawa terbahak, laki-laki itu mengajak bicara rekannya.

__ADS_1


Chakra Ashanka hanya mencibir perkataan itu. Orang-orang yang ada disitu melihat pembicaraan itu dengan penuh khawatir. Mereka belum mengetahui kemampuan bertarung yang dimiliki Chakra Ashanka.


"Sayogyo..., Prastowo.. singkirkan orang-orang itu dari sini! Aku tidak mau mereka ikut cidera terkena serangan." Chakra Ashanka berteriak pada kedua temannya. Kedua anak laki-laki itu mengangkat tangannya, menyetujui perintah itu. Dengan cepat Sayogyo dan Prastowo menghalau orang-orang untuk menjauh dari tempat ini. Hanya orang-orang yang memiliki dasar kekuatan lebih, yang tidak mau menyingkir dari tempat itu. Mereka merasa mendapatkan tontonan yang jarang ada di wilayah tersebut.


"Pletak..., cetar..."tiba-tiba terdengar suara cemeti yang terangkat ke atas. Percikan api muncul dari bekas sabetan cemeti yang ada di tangan laki-laki bernama Jarwo itu.


Chakra Ashanka tersenyum melihat gerakan yang dilakukan oleh orang-orang itu. Tidak terlihat ada ketakutan menghantui, Chakra Ashanka malah menatap kedua laki-laki itu secara bergantian.


"Bagus juga mainan paman.. saya tiba-tiba tertarik untuk memainkannya sebentar. Apakah paman mau untuk meminjamkannya padaku..?" dengan suara pelan, Chakra Ashanka mengejek tindakan laki-laki itu.


"Bang**sat kamu bocah.. Beraninya kamu meledek senjataku. Terimalah ini.... cetarr.." laki-laki itu melompat dan menyabetkan cemeti ke arah Chakra Ashanka. Anak laki-laki itu tersenyum dan tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dengan berani, tangan kanan anak laki-laki itu memegang ujung cemeti dan mengalirkan energi kuat pada cemeti tersebut.


"Blarrr... brukk." dengan dorongan ringan, dan energi yang dialirkan ke cemeti Jarwo, Chakra Ashanka melepaskan ujung cemeti yang ada di tangannya. Tubuh Jarwo terhuyung ke belakang dan akhirnya terjerembab. Teman Jarwo terkejut melihat rekannya terbanting ke belakang.


"Ampuni kami bocah... kami akan menuruti perintahmu. Tetapi jangan kamu hukum kami..!" tidak disangka, melihat Jarwo yang masih terbaring di tanah, tidak mampu mengangkat tubuhnya ke atas, teman laki-laki satunya mengaku kalah pada Chakra Ashanka.


"Hentikan perbuatan sewenang-wenang kalian. Jangan tindas warga masyarakat yang kita mampu, jika perlu bantu mereka! Bawa temanmu itu dari sini, dalam waktu satu hari dia akan kembali seperti sedia kala." tidak mau menambah musuh, Chakra Ashanka membebaskan dua orang itu.

__ADS_1


"Baik.., terima kasih bocah." laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh Jarwo dan membawanya pergi dari hadapan Chakra Ashanka.


"Prok...,. prok.., prok.." riuh tepuk tangan terdengar seperti mendekati Chakra Ashanka. Anak laki-laki itu menoleh ke belakang, dan terlihat banyak warga mendatanginya sambil bertepuk tangan. Sayogyo dan Prastowo berlari menghampiri Chakra Ashanka dengan segera.


"Terima kasih bocah.., karenamu warga kami terbebas dari penindasan Jarwo dan anak.buahnya." seorang laki-laki paruh baya datang dan mengajak bicara Chakra Ashanka.


"Paman terlalu berlebihan menyanjung saya. Ini hanya terjadi secara kebetulan saja. Mereka berdua yang memutuskan untuk mengalah pada saya, bukan karena kekuatan yang saya miliki.." Chakra Ashanka merendah.


"Apapun alasan yang kamu buat bocah.., kami di sini melihat sendiri bagaimana kamu mengusir pergi dua laki-laki tadi. Hanya terima kasih yang bisa kami berikan kepadamu. Mampirlah ke tempatku anak muda., aku akan memberi jamuan kepadamu." laki-laki paruh baya itu tidak mau mendengar, dia terus memuji kehebatan Chakra Ashanka.


"Baik paman..., aku bersama Sayogyo dan Prastowo akan mengikuti paman." akhirnya untuk melepaskan diri dari kerumunan orang-orang di situ, Chakra Ashanka memilih untuk meninggalkan tempat itu dengan mengikuti laki-laki itu.


Akhirnya laki-laki itu berjalan dan memimpin d depan. Bersama Sayogyo dan Prastowo, Chakra Ashanka mengikuti paman itu pergi dari situ. Kerumunan warga menyibak sendiri, mereka memberi jalan untuk dapat dilewati Chakra Ashanka dan kedua temannya. Di kejauhan, Chakra Ashanka beradu pandang dengan anak laki-laki yang ikut membuat janji padanya. Bocah laki-laki itu terlihat malu dan menundukkan wajahnya tidak berani menatap Chakra Ashanka secara langsung.


"Bukankah itu Tarjono... Ashan? Sepertinya anak itu malu untuk bertemu denganmu." Prastowo menunjuk ke arah Tarjono yang kemudian menghilang dari situ.


"Sudah biarkan saja! Jika anak itu menolak untuk bertemu denganku, maka aku sendiri yang akan mendatanginya. Selepas dari rumah paman itu, antar aku menuju rumah Tarjono. Aku akan mengajak bicara anak itu dan juga ibundanya." ucap Chakra Ashanka.

__ADS_1


*******


__ADS_2