
Beberapa orang bergegas masuk lebih dalam ke dalam hutan, mereka lebih memilih untuk melanjutkan mencari apa yang menjadi tujuan mereka, dari pada harus turut campur pada masalah yang tidak mereka ketahui. Mata mereka dengan jeli melihat ke dalam hutan yang rimbun, tetapi belum menemukan tanda-tanda sesuatu yang ingin mereka cari.
"Bagaimana sesepuh.., apakah sudah ada tanda-tanda keajaiban kuno muncul di sekitar sini?" seorang yang lebih muda bertanya pada pihak yang lebih tua,. Mereka sepertinya memiliki hubungan kedekatan yang relatif akrab.
" Aku belum melihat tanda-tandanya. Kelompok anak muda dengan dua gadis yang kita temui di padang rumput sungguh sangat beruntung. Belum memasuki hutan saja, mereka sudah dapat menemukan naga terbang. Sangat naas orang yang meremehkan, atau bahkan menantang batas bawah mereka." sesepuh itu menggelengkan kepala. Laki-laki tua itu menanggapi kejadian di padang rumput yang melibatkan Wisanggeni dan kelompoknya,
"Iya sesepuh, sangat kasihan sekali. Aku yakin, orang-orang sombong itu akan berakhir mengenaskan. Untungnya orang-orang itu menahan kekuatan mereka, dan hanya mengeluarkan sedikit saja. Kita tidak tahu bagaimana akibatnya jika orang-orang itu mengeluarkan semua ilmunya untuk mengalahkan orang-orang sombong tersebut," pihak yang lebih muda kembali menanggapi.
"Jadikanlah apa yang terlihat di depan mata kita sebagai salah satu bentuk pembelajaran. Orang yang sombong akan selalu kalah di bandingkan dengan orang yang mengalah. Jangan suka mengunggulkan apa yang sudah berhasil kita dapatkan, karena di atas langit, selalu masih ada langit di atasnya. Bersikaplah seperti padi yang bernas, dimana bulir padi akan semakin merunduk batangnya jika padi itu telah berisi." dengan penuh ekspresi, sesepuh itu memberi nasehat pada laki-laki muda itu. Merasa apa yang disampaikan oleh sesepuhnya mengandung sebuah kebenaran, laki-laki muda itu kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baik sesepuh.." laki-laki muda itu kemudian terdiam. Tiba-tiba pandangan matanya terarah menuju sebuah jurang curam yang ada tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
"Sesepuh.., apakah sesepuh bisa melihat lebih jauh sedikit disana. Ada sebuah jurang disana, dan tidak tahu mengapa, sejak tadi mata ini tidak bisa beranjak untuk tidak menatapnya?" laki-laki muda itu akhirnya menunjukkan tempat yang dilihatnya pada sesepuh itu.
"Aku juga melihatnya, ayolah kita kesana untuk melihat dan mengamatinya. Sepertinya ada sesuatu di dalam jurang itu, seperti ada gaya tarik yang kuat yang membuatku tidak bisa untuk tidak memperhatikannya." sesepuh itu langsung menanggapi perkataan laki-laki muda itu.
__ADS_1
Tanpa berbicara lagi, kedua orang itu segera bergegas menuju ke arah jurang yang ada tidak jauh dari mereka berada. Sesampainya di pinggir, mata mereka terbelalak melihat curamnya jurang tersebut. Sejauh mata memandang ke bawah, mereka hanya melihat tebing licin di dinding jurang tersebut. Tetapi terlihat pemandangan hijau menyegarkan di bawah sana.
"Bagaimana kita akan dapat turun kesana sesepuh...?" dengan mengerutkan kening, laki-laki muda itu bertanya pada sesepuh tersebut. Bagaimana mereka akan dapat melewati tebing besi yang terlihat licin tersebut. Sesepuh itu menghela nafas.., kemudian..
"Hal itulah yang sedang aku pikirkan. Cobalah kamu lemparkan batu kerikil ke dinding batu di bawah sana, apakah ada jebakan yang tertanam di sana." tidak diduga sesepuh itu memberi perintah pada laki-laki muda itu.
Tanpa bicara, laki-laki muda itu segera mengambil batu kerikil dengan ukuran sedang, kemudian membuat lemparan ke bawah.
"Clang..., clang..." suara dering nyaring terdengar seperti suara lemparan batu beradu dengan dinding besi. Mendengar suara itu, Sesepuh itu kembali mengerutkan berpikir, ada apa di balik kejadian itu.
********
Setelah melihat orang-orang yang menjadi lawan dari Chakra Ashanka terlihat tidak berdaya, Wisanggeni segera mengajak kelompoknya untuk meninggalkan orang-orang itu. Semakin banyak berurusan dengan orang lain, maka akan semakin memperlama waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan. Sepanjang perjalanan, orang-orang menganggukkan kepala sebagai bentuk penghormatan pada Wisanggeni dan kelompoknya. Laki-laki itu membalas mereka dengan senyum di bibir mereka.
"Wisanggeni..., ke arah mana lagi kita akan melanjutkan langkah kita..?" melihat hanya hutan yang rimbun oleh pohon-pohon besar, Widayat bertanya pada laki-laki itu. Beberapa saat Wisanggeni terdiam, kemudian...
__ADS_1
"Kita akan berjalan lurus ke depan Widayat. Aku tidak tahu kenapa, tetapi firasatku mengatakan jika jalanan itu yang akan kita tempuh dan lewati. Semoga saja ada manfaat untuk kita, saat kita sampai di tempat itu." Wisanggeni menjawab pertanyaan Widayat. Laki-laki dari seberang nusa itu menganggukkan kepalanya.,
Setelah mendengar apa yang dikatakan Wisanggeni, kembali rombongan itu melanjutkan perjalanan. Dan ketika melihat bukit menjulang di depannya, Wisanggeni mengajak rombongan itu untuk ambil jalan menuju ke arah kiri.
"Ashan.., tajamkan mata batinmu.. Lapisi dengan energi intimu.., lihatlah ke sekeliling, apa yang dapat kamu temukan!" tiba-tiba Wisanggeni memberi perintah pada putra laki-lakinya. Chakra Ashanka tersentak, anak muda itu juga tidak mengetahui maksud perkataan yang diucap ayahndanya. Tetapi tidak menunggu lama, Chakra Ashanka segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Wisanggeni.
Chakra Ashanka memejamkan matanya sebentar, kemudian kedua telapak tangannya membentuk sebuah simbol. Tidak lama aliran deras energi inti terlihat keluar, dan masuk kembali ke dalam pikirannya. Setelah beberapa saat. anak muda itu kembali membuka matanya, dan mengembalikan energi ke tempat asalnya.
"Ayahnda.., Ashan tidak dapat menangkap makna dari yang ayah perintahkan. Hanya saja, Ashan melihat ada sebuah jurang di sebelah utara. Tetapi ada apa di dalam jurang itu, Ashan tidak mampu untuk menembusnya." Chakra Ashanka memberikan hasil pemindaian yang dilakukannya. Wisanggeni tersenyum, kemudian menepuk bahu anak muda itu.
"Kamu melakukan dengan sangat baik putraku. Kita semua akan secepatnya untuk mencari dna menuju ke jurang itu. Kita keluarkan semua kepandaian kita, memikirkan cara agar kita dapat menuruni tebing tanpa adanya luka yang berarti." sambil menepuk bahu Chakra Ashanka, Wisanggeni juga memberi tahu semua anggota kelompoknya,
"Kami semua akan selalu mengikutimu Ashan.., tunjukkanlah jalannya!" dengan penuh keyakinan, Widayat menjawab perkataan Wisanggeni, demikian juga dengan semua anggota kelompoknya. Pangeran Abhiseka dan Niken Kinanthi tanpa bicara segera mengikuti kemana Wisanggeni dan Chakra Ashanka melangkah.
Seperti apa yang sudah disampaikan Wisanggeni, tidak lama mereka berjalan mereka menemukan sebuah jurang dengan tebing di kanan kirinya, Banyak orang yang sudah sampai di tempat itu, tetapi belum ada satupun dari mereka yang sudah mencoba untuk menuruni tebing tersebut.
__ADS_1
***********