
Chakra Ashanka tersenyum melihat pintu kamar ayahnda dan ibundanya yang masih tertutup rapat, meskipun matahari sudah muncul dari ufuk timur. Sebagai laki-laki yang sudah beranjak dewasa, anak muda itu sudah memahami apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Parvati yang melihat kakangmasnya tersenyum, kemudian berlalu dari depan kamarnya segera mendatangi laki-laki muda itu.
"Ada apa kakang.. apa yang kakangmas lakukan di depan pintu kamar. Sepertinya jika tidak salah, Nimas melihat kang Ashan senyum-senyum sendiri." sambil mengerutkan kening, Parvati menanyai sikap aneh yang ditunjukkan oleh kakangmasnya itu...
"Bukan apa-apa Nimas.. tapi sepertinya ayahnda dan ibunda sangat lelah, hingga sampai saat ini keduanya masih berada di dalam kamar. Keduanya seperti belum tertarik untuk menikmati hangatnya matahari pagi.." sambil tersenyum penuh arti, Chakra Ashanka memberikan tanggapan pada perkataan adik perempuannya itu. Tidak berpikir panjang, Parvati turut menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"benar katamu kakangmas.. kita tidak usah mengganggu ayahnda dan ibunda. Biarkan saja mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat, untuk mengembalikan tenaga dan kekuatannya sudah banyak terbuang percuma. Kakang.. Nimas ingin menikmati sinar matahari pagi sambil berjalan-jalan, kang Ashan mau bukan menemani Nimas Parvati.." tiba-tiba gadis muda itu mengajak kakangmasnya untuk berjalan-jalan.
"Mmmm.. bukannya kamu membawa dua teman laki-laki Nimas. kenapa Nimas tidak mengajak salah satu dari mereka, bukankah hubungan kalian sudah dekat." Chakra Ashanka menggunakan saat itu untuk mengukur perasaan adiknya pada laki-laki muda yang dibawanya untuk bersama dengan mereka saat ini.
Mendengar apa yang diucapkan oleh kakangmasnya Chakra Ashanka membuat Parvati terkejut. Selama ini, gadis muda itu tidak pernah berpikir yang tidak-tidak tentang ikutnya dua laki-laki muda itu bersamanya. Parvati hanya menganggap keduanya, secara tulus ingin berteman dengannya, sehingga mengikutinya sampai ke tempat ini.
"Apa yang kakang maksudkan, Nimas tidak memahaminya. Kang Arya dan kang Dananjaya merupakan teman-teman baru, yang tanpa sengaja bertemu dengan Nimas dalam perjalanan untuk menemukan ayahnda dan ibunda. Kang Ashan jangan berpikir yang tidak-tidak tentang kami.." dengan polos, Parvati menentang apa yang diucapkan oleh Chakra Ashanka.
Chakra Ashanka tersenyum mendengar pembelaan adiknya itu. Tetapi sebagai seorang laki-laki yang sudah mengenali mana ketertarikan antara seorang laki-laki dan perempuan, dan ketertarikan hanya sebagai seorang teman sudah diketahuinya.
__ADS_1
"Nimas.. jangan terlalu naif dalam berpikir. Kakang sebagai laki-laki melihat ada ketertarikan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat, antara seorang laki-laki dan perempuan pada satu dari dua laki-laki itu. Sepertinya ketertarikan sama seperti yang juga dirasakan oleh Raden Bhadra kepadamu Nimas.." sambil tersenyum, laki-laki muda itu memberi tahu adik perempuannya itu..
Parvati kaget, gadis muda itu melihat ke mata suaminya tanpa berkedip. namun hanya senyuman dan anggukan kepala yang didapatkannya, dan hal itu semakin membuatnya bingung. Tiba-tiba tangan Chakra Ashanka mengusap pelan pucuk kepalanya, namun kemudian mengacak-acak dan merapikannya kembali.
"Kang Ashan.. jangan salah menafsirkan sikapku pada kedua laki-laki itu. Begitu juga perilaku Nimas pada Raden Bhadra. Kami sudah sejak kecil berteman kakang.. tidak mungkin Nimas memiliki rasa tertarik dengan Raden Bhadra, tidak ada sama sekali kakang.." tiba-tiba Parvati terlihat panik dengan apa yang diucapkan oleh kakangmasnya.
Kembali Chakra Ashanka tersenyum, dan muncul rasa kasihan pada diri anak muda itu. Dengan pandangan kasihan, laki-laki muda itu menarik tangan Parvati, dan mengajaknya untuk berjalan keluar dari dalam penginapan.
*********
Parvati dan Chakra Ashanka berjalan menyusuri jalan di depan penginapan, dan tanpa sadar mereka memasuki satu wilayah keramaian. Ternyata mereka berdua saat ini sudah berada di sebuah pasar, dan terlihat banyak penjual menjajakan barang-barang dagangannya. mata Parvati bersinar melihat seorang penjual yang menjajakan jajanan pasar, dan muncul minat dalam dirinya untuk mencicipi jualan perempuan tua itu.
"Ayo Nimas.. kakang temani ke sana. Sepertinya nenek tua itu menjual kudapan dari bahan singkong, mari kita ramaikan tempat dagangannya." muncul rasa kasihan ketika melihat perempuan tua itu, Chakra Ashanka menarik tangan Parvati untuk menghampiri penjaja kudapan itu.
Terlihat jajanan sawut, gatot, tiwul masih banyak di depan penjaja makanan yang sudah berumur itu. Chakra Ashanka dan Parvati segera duduk di depan perempuan tua itu.
__ADS_1
"Nenek siapkan jajanan yang nenek jual, masing-masing lima bungkus nenek. Sepertinya terlihat sangat nikmat jajanan yang nenek jual.." Parvati langsung meminta penjual itu untuk membungkuskan makanan pesanannya.
Nenek itu terkejut mendengar pemintaan Parvati, dan mengangkat wajahnya melihat ke arah gadis muda cantik, kemudian beralih ke arah Chakra Ashanka di depannya. Kedua anak muda itu dengan sopan menganggukkan kepala, meyakinkan perempuan tua itu.
'Apakah nenek tidak salah dengar, benarkah makanan yang akan nenek tua ini bungkus. Masing-masing satu berjumlah lima, atau hanya satu macam makanan saja.." masih dengan tidak percaya, perempuan tua itu mempertegas apa yang ingin dibeli oleh dua anak muda itu.
"Benar nenek.. bungkuskan kami berdua semua makanan yang nenek jual. Kami tertarik untuk menikmati semuanya nenek.." untuk meyakinkan perempuan tua di depannya itu, Chakra Ashanka menjatuhkan keping koin emas di depan perempuan itu.
"Jangan permainkan perempuan tua ini Den Bagus.., Den Ayu. Nenek pasti tidak akan memiliki kembalian sebanyak itu. Bisakah nak mas berdua memberikan nenek keping koin di bawah koin emas.." dengan pandangan penuh harap, nenek tua itu mengembalikan keping koin emas dan memberikannya pada Chakra Ashanka.
"Nenek.. aku dan adikku tidak akan meminta kembalian dari nenek. Gunakan saja, sisa uang yang kami berdua belanjakan, untuk mencukupi kebutuhan nenek di rumah. Percayalah nek.. kami berdua tidak akan membohongi nenek..." Parvati yang menjawab ucapan nenek tua itu sambil tersenyum.
Merasa dipermainkan oleh dua anak muda di depannya itu, nenek itu kembali melihat pada Chakra Ashanka dan Parvati secara bergantian. Keduanya tersenyum dan menganggukkan kepala untuk meyakinkan perempuan tua itu. Tampak air mata terlihat menggenang di kelopak mata perempuan tua itu, seperti berusaha mempercayai apa yang terjadi di depannya saat ini.
"Cepat ya nenek.. kedua orang kami pasti sudah menunggu kami berdua. Karena kami tadi meninggalkannya di penginapan, tanpa pamitan kami berdua sudah pergi." Chakra Ashanka mempercepat agar nenek tua itu segera meladeninya.
__ADS_1
Dengan cekatan, nenek tua itu segera menyiapkan apa yang sudah dipesan oleh kedua anak muda di depannya itu. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan rasa syukur atas rejeki yang diterimanya secara mendadak.
*********