Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 99 Aku Akan Mengikutimu


__ADS_3

Dengan lesu tanpa semangat, Wijanarko meninggalkan aula obat. Tetapi laki-laki putra pertama  dari Ki Mahesa itu sudah merasa lega, karena dia sudah mengutarakan isi hatinya pada Kinara. Meskipun saat ini, dia mengalami penolakan, tapi beban di hatinya sudah hilang dan terasa plong. Laki-laki itu segera menuju ke arah kuda yang dia tambatkan dibawah pohon. Di tempat sepi itu, Wijanarko mengambil nafas panjang.


"Selamat tinggal Kinara.., semoga keberkahan selalu menemani setiap langkahmu. Aku akan pergi jauh, dan sedikit kemungkinan aku akan dapat kembali dan bertemu denganmu. Jadi aku tidak menyakiti dan mengecewakanmu, karena jika nanti aku sampai tidak ada, aku tidak akan bersalah karena menjadikanmu seorang janda." gumam Wijanarko sambil tersenyum kecut.


Laki-laki itu sudah membulatkan tekat, dia akan langsung menuju perbukitan Gunung Jambu tanpa istirahat. Baru saja, Wijanarko menepuk punggung kudanya untuk mengajaknya berangkat, tiba-tiba sebuah pelukan mendekap tubuhnya dari belakang. Laki-laki itu terkesiap saat melihat pelukan tangan perempuan yang menyandarkan kepalanya di punggungnya.


"Apakah ini tangan Kinara.., benarkan gadis itu yang memelukku dari belakang?" Wijanarko berpikir sendiri. Kedua tangannya melepaskan belitan tangan perempuan di pinggangnya, kemudian laki-laki itu membalikkan badannya. Jantung WIjanarko langsung berdetak kencang, saat melihat mata Kinara menatapnya dengan penuh pengharapan.


"Ada apa Nimas Kinara.., benarkah ini kamu yang telah memelukku?" tanya Wijanarko pelan, sambil tangannya memegang dagu lancip gadis itu.


Kinara menatap Wijanarko, gadis itu mengangguk malu.


"Bawa Kinara bersamamu Kang Janar, jangan tinggalkan Kinara." terucap dengan pelan perkataan dari bibir Kinara.


"Lebih baik kamu menungguku Nimas.., perjalananku kali ini sangat beresiko. Bahkan potensi aku kehilangan nyawa sangat besar untukku." Wijanarko memberi tahu Kinara.


Kinara kembali memeluk erat tubuh Wijanarko. Kepalanya disandarkan di dada bidang putra sulung Ki Mahesa.


"Kinar tidak punya siapa-siapa di dunia ini Kang Janar. Dari dulu, Kinar ingin Kang Janar membawaku pergi kemanapun. Tapi itu semua hanya khayalan bagiku.., dan sekarang kembali kang Janar membawakan Kinar sebuah mimpi, setelah itu dengan kejam menghempaskannya kembali." dengan terisak Kinara menangis di dada laki-laki itu.


Melihat Kinara menangis, dada Wijanarko terasa sesak. Dengan lembut, kembali tangan Wijanarko mengangkat dagu Kinara. Tangannya mengusap lembut air mata yang menetes di pipi gadis itu.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak takut untuk menyertaiku Nimas?? Bahkan bisa jadi, kamu akan menyaksikan kematian merenggutku." ucap Wijanarko akhirnya, karena dia tidak tega melihat air mata yang terus menetes itu.


"Tidak akan ada yang mati Kang Janar, jika kang Janar mati, maka aku Kinara akan menyertaimu mati. Maka ajaklah aku bersamamu saat ini, aku siap untuk mengikat janji denganmu." Kinara mengucap janji pada Wijanarko. Melihat keteguhan hati perempuan yang sudah lama menunggunya itu, Wijanarko hanya bisa mengelus puncak kepalanya, kemudian memeluk erat tubuh Kinara.


Setelah saling mengutarakan isi hati dan berjanji untuk selalu bersama, Kinara bersama dengan Wijanarko pergi bersama dengan mengendarai satu kuda. Kuda yang ditunggangi Wijanarko bukan kuda biasa, tapi kuda hutan yang memiliki kemampuan ajaib yang tidak dimiliki oleh kuda lainnya. Kuda itu bisa menempuh perjalanan bermil-mil tanpa istirahat, dan Wijanarko mendapatkanya saat berburi di dalam hutan.


"Di depan ada sebuah penginapan, sementara kita akan menginap disitu Nimas.." Wijanarko berbicara pada Kinara.


"Dimanapun tidak masalah bagiku kang Janar, asalkan bersamamu. Bahkan jikalau Kang Janar mengajak Kinara untuk menginap di atas pohonpun, aku akan mengikutimu." sahut Kinara manja.


"Selagi di daerah yang kita singgahi masih ada penginapan, aku akan membawamu menginap disitu Kinar. Tapi.. jika sudah tidak ada desa, makan suatu saat aku pasti akan mengajakmu untuk menginap di alam terbuka." Wijanarko menanggapi perkataan Kinara.


***********


Wijanarko memasuki sebuah penginapan dengan menggandeng tangan Kinara. Sedikitpun laki-laki itu tidak mau melepaskan tangannya dari gadis itu. Banyak laki-laki lain yang memiliki lebih banyak harta, pangkat tinggi yang juga menginginkan Kinara untuk dijadikan pendampingnya. Sehingga merupakan suatu kebanggaan bagi dirinya, dia dapat dipilih oleh Kinara.


"Kinara.., coba aku ingin lihat bagaimana kekasih hatiku memesan penginapan?" Wijanarko menggoda Kinara, saat melihat banyak orang sedang antri untuk mendapatkan kamar di penginapan tersebut.


Kinara tersenyum, kemudian mendorong dengan lembut Wijanarko ke arah kursi kosong yang ada di sudut ruangan. Gadis itu segera mendudukkan laki-laki itu di kursi, kemudian meninggalkannya sendiri. Kinara segera menyibak kerumunan, yang sebagian besar berisi laki-laki.


"Permisi.., ijinkan saya lewat. Saya ingin mengantri untuk ikut mendapatkan sebuah kamar untukku menginap malam ini." dengan suara manja tetapi mengisyaratkan kebutuhan, Kinara menggunakan kedua tangannya untuk menyingkirkan laki-laki yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Hei.., minggir. Biarkan gadis itu lewat, kasihan.. masak perempuan cantik harus mencari kamar penginapan sendiri." tiba-tiba terdengar seorang laki-laki menghimbau para laki-laki lain untuk memberi akses jalan pada Kinara.


"Terima kasih Ki Sanak.., aku akan selalu mengingat kebaikan hatimu." ucap Kinara masih dengan nada manja. Perempuan itu segera maju mendekati petugas jaga.


"Paman.., beri aku satu kamar paman!" di depan petugas jaga, Kinara langsung memesan sebuah kamar.


"Baik.., untuk kamarnya mau diisi berapa orang Nimas?" petugas jaga langsung menanyakan kebutuhan kamar yang diinginkan Kinara.


Khawatir jawabannya akan menimbulkan kehebohan para laki-laki yang masih antri di belakangnya, Ivona hanya menunjukkan jari, dia tidak berani menggunakan suara untuk menjawabnya. Tidak berapa lama, petugas jaga memberikan  sebuah kunci untuk memasuki kamar yang dipesannya. Dengan meletakkan dua keping coin emas, Kinara meninggalkan meja petugas jaga.


"Nimas.., tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan coin kembalian untukmu." seru laki-laki tua itu pada Kinara.


"Ambil saja paman kembaliannya. Anak istri paman lebih membutuhka koin itu daripada  saya." Kinara menjawab laki-laki tua itu tanpa menoleh ke belakang.


Wijanarko tersenyum melihat kerja cepat dan kerja cerdas yang dilakukan istrinya. Laki-laki itu menyambut kedatangan Kinara, dan langsung merangkul serta membawanya menuju kamar yang sudah mereka sewa. Para laki-laki yang tadi rela memberikan antrian pada Kinara, terlihat geram melihat Kinara berjalan meninggalkan mereka lebih dulu dengan dirangkul oleh seorang laki-laki.


"Sialan..., kita semua sudah terkecoh oleh penampilan memelas perempuan cantik tadi." celetuk satu dari sekian banyak laki-laki tadi.


"He.., he.., he.., tapi juga bukan salah perempuan tadi. Kita  saja yang suka matanya menjadi merah, jika melihat ada perempuan molek sedikit saja." sahut yang lain.


**************

__ADS_1


__ADS_2