Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 362 Perempuan Gila


__ADS_3

Di kedai makan, Chakra Ashanka ditemani Sekar ratih memilih menu makanan untuk mereka bertiga. Tiga buah gelas besar berisi air legen juga sudah dipesan, dan diantarkan ke tempat mereka duduk. Terlihat Rengganis tersenyum dan langsung meneguk air legen yang dipesankan untuknya.


"Masih terasa segar, seperti pertama kali ibunda dan ayahndamu datang kesini Ashan.." terucap pujian keluar dari mulut Rengganis.


Mendengar hal itu, Chakra Ashanka dan Sekar Ratih muncul rasa penasarannya. Kedua orang itu segera mengambil gelas, kemudian meminum minuman itu. Setelah mereka merasakan tegukan pertamanya, tampak kepuasan tergambar dari reaksi yang ditunjukkannya.


"Benar bunda.., minuman ini sangat segar dan nikmat. Sangat cocok diminum di waktu siang seperti ini." Chakra Ashanka turut memuji rasa dari minuman legen ini. Sekar ratih juga menganggukkan kepala tanda menyetujui, dan kembali meneguk sisa minuman yang masih ada di cangkirnya.


"Minuman legen ini dibuat dari sari yang disebut sebagai Nira dari buah kelapa. Cairan bening yang keluar dari bunga kelapa, akan diambil dengan memanjat pohon kelapa, dan memotong batang muda dari bunga kelapa untuk diambil getahnya lalu dibiarkan semalaman. Nanti akan dari sana, sulur bunga kelapa yang akan menetes airnya, itu yang namanya nira. Biasanya akan ditampung di wadah terbuat dari bambu namanya bumbung." Rengganis menjelaskan proses pembuatan minuman legen itu.


"Rasanya manis ya bibi.." Sekar ratih menanggapi cerita Rengganis.


"Iya .., tetapi jika dibiarkan lama dalam ruangan, minuman menyegarkan ini akan berubah menjadi tuak, dan jika diminum akan memiliki akibat yang dapat membuat mabuk peminumnya." perempuan itu melanjutkan penjelasannya.


"Ternyata proses pembuatannya lumayan rumit juga, sedangkan kita saat ini tinggal meminumnya saja. Tetapi memang sangat menyegarkan minuman ini. Ashan jadi ingin tambah lagi.." anak muda itu meminum habis air legen dalam gelasnya, kemudian melihat gelasnya sudah kosong, dia berniat untuk menambahnya lagi.


"Ratih juga mau lagi kang.., apakah boleh?" dengan malu-malu, Sekar Ratih ingin menambah juga minumannya.


"Ayolah temani aku.." Chakra Ashanka menarik tangan Sekar ratih, mengajaknya untuk bersama-sama memesan minuman itu lagi. Rengganis hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat keduanya.

__ADS_1


***********


Di luar kedai makanan terdengar ada suara sedikit gaduh. Orang-orang yang berada dalam kedai menengok keluar, untuk melihat apa yang diributkan. Merasa bukan menjadi urusannya, Chakra Ashanka beserta ibundanya serta Sekar Ratih mengabaikan keributan tersebut. Sedikitpun tidak ada keinginan dalam hatinya, untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. Mereka malah semakin menikmati makanan yang sudah dihidangkan oleh pelayan di depan meja mereka.


"Keluar.., keluar.., sisakan tempat yang longgar untuk Den Ayu kami.." tiba-tiba masuk seseorang yang langsung berteriak-teriak di dalam. Orang-orang yang tadi melihat suasana di luar, bergegas menyingkirkan diri untuk menjauh dari tempat itu.


Chakra Ashanka sama sekali tidak bergeming, mereka bertiga tetap melanjutkan kegiatan makan siangnya tanpa merasa terganggu dengan keributan itu.


"Ki Sanak.., apakah Ki Sanak tidak merasa takut. Sebelum terlambat, ikuti kami untuk pindah keluar kedai.." pembeli yang berada di meja samping mereka bertiga, memberi tahu pada mereka untuk berpindah tempat.


"Masih nanggung paman.., kita tetap akan berada disini sampai selesai. Jika paman ingin pindah, silakan paman tinggalkan tempat ini, tetapi tidak untuk kami." Chakra Ashanka menolak ajakan laki-laki itu.


"Baiklah Ki Sanak, semoga kalian beruntung.." laki-laki paruh baya itu segera bergegas mengikuti orang-orang yang lain, berpindah tempat keluar ruangan.


*********


"Siapkan untuk Den Ayu kami semua menu masakan yang dihasilkan oleh kedai makanan ini. Segera hidangkan semuanya di atas meja.." pengawal terlihat memberi perintah pada penjual.


"Baik Ki Sanak, akan segera kami layani." penjual langsung memberikan pelayanan pada tamu yang baru datang itu, dan menunda pelayanan pada pengunjung yang lain.

__ADS_1


Chakra Ashanka hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya sambil tersenyum sinis, untung saja mereka sudah datang lebih dulu dan sudah mendapatkan pelayanan pula. Jika belum, maka dia tidak tahu, akan bisa dengan sabar tidak untuk mengendalikan dirinya,


"Hum.. rupanya kalian semua ada disini juga. Ternyata aku salah mengira tentang kalian semua, aku pikir kalian meninggalkan kios tadi karena tidak memiliki cukup koin, ternyata dugaanku sedikit meleset. Buktinya kalian mampu untuk membeli makanan di kedai ini.." dari meja sebelah, perempuan muda tadi berbicara dengan nada menyindir.


Chakra Ashanka dan ibundanya serta Sekar Ratih terdiam, mereka tidak tertarik dengan pembicaraan itu. Bahkan mereka pura-pura tidak tahu, jika perkataan itu ditujukan pada mereka.


"Apakah kalian ingin mencari masalah denganku, atau memang telinga kalian sudah tuli..?" tidak diduga, perempuan muda itu dengan kasar menendang kursi yang digunakan untuk duduk Chakra Ashanka.


Anak muda itu mengambil nafas, habis sudah kesabaran dari tadi menghadapi perempuan muda itu. Dengan tatapan marah, anak muda itu berdiri dari kursinya. Rengganis berusaha untuk mengendalikan putra laki-lakinya, tetapi kalah cepat dengan Chakra Ashanka.


"Sejak tadi, kami merasa jika keberadaanmu telah mengganggu kebebasan orang banyak. Kami hanya diam, tetapi untuk kali ini, karena kamu sudah melanggar batasku.. aku tidak dapat membiarkannya." dengan nada tinggi, anak muda itu menatap perempuan muda itu.


Perempuan muda itu sedikit tersentak, dia tidak mengira jika anak muda yang terlihat dingin itu ternyata memiliki nyali. Melihat tatapannya, hati perempuan muda itu sedikit tersentak.


"Kamu yang mulai lebih dulu, sejak tadi mengabaikan dan mengacuhkanku. Siapa yang mengikutimu, kamu saja yang merasa besar kepala." tidak diduga perempuan muda itu mengalihkan kesalahan.


"Aku tidak akan meladeni perempuan gila seperti kamu. Tidak tahu diri, dan sama sekali tidak memiliki hati. Memperlakukan semua orang disini layaknya pelayan, layaknya budak. Ingatlah itu.., tidak akan menunggu lama kamu pasti sudah akan menerima karmamu." setelah selesai berbicara, tanpa menunggu perempuan muda itu membalas perkataannya, Chakra Ashanka langsung berjalan ke tempat penjual. Anak muda itu meninggalkan beberapa keping uang di atas meja, kemudian berjalan keluar dari dalam kedai makan.


"Ki Sanak.., kepingnya sisa banyak Ki Sanak.." penjual itu berteriak ingin memberikan kembalian pada anak muda itu. Tetapi Chakra Ashanka mengangkat tangannya menolak kembalian itu.

__ADS_1


Rengganis dan Sekar ratih segera mengikuti anak muda itu, keduanya tanpa menolehh segera keluar dari dalam kedai makanan. Mendapatkan perlakuan seperti itu, perempuan muda itu naik darah. Makanan yang sudah dihidangkan oleh pelayan di atas meja, dihamburkannya ke lantai.


*******


__ADS_2