
Wisanggeni menggenggam erat tangan Chakra Ashanka, sebagai isyarat agar anak muda itu mengabaikan orang yang bicara kasar kepadanya. Dalam pikiran laki-laki itu, lebih baik menghemat tenaga untuk dapat memasuki keajaiban yang disuguhkan oleh candi yang sudah terlihat di depan mata mereka. Untungnya Chakra Ashanka dengan cepat memahami apa yang dimaksud oleh ayahndanya. Kedua laki-laki itu segera berjalan lebih ke depan, untuk mendekati candi yang terlihat megah menjulang berdiri di depan mereka.
'Wisanggeni..., kamu berada disini juga rupanya..?" tiba-tiba Wisanggeni dan Chakra Ashanka dikejutkan oleh suara yang menyapa mereka dari belakang. Kedua laki-laki itu sontak menolehkan wajah mereka, dan keterkejutan menghampiri mereka.
"Pangeran Abhiseka.., Nimas Niken..., kalian berdua juga berada di tempat ini?" dengan muka cerah, Wisanggeni menyapa Pangeran Abhiseka dan perempuan yang berdiri di samping laki-laki tersebut.
Kedua laki-laki itu berpelukan seperti seorang saudara yang sudah lama tidak bertemu. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan tersebut dan melihat kepada Chakra Ashanka.
"Siapa laki-laki muda ini Wisang..., jangan katakan jika anak muda ini merupakan putramu Chakra Ashanka?" dengan mata bersinar Pangeran Abhiseka melihat kepada Chakra Ashanka.
"Iya Pangeran.., Bibi... kenalkan Chakra Ashanka putra dari ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis." dengan sopan, Chakra Ashanka mengenalkan dirinya pada kedua orang teman ayahndanya itu.
Pangeran Abhiseka dan Niken Kinanthi melihat anak muda itu sambil tersenyum lebar, dan Pangeran memeluk tubuh Chakra Ashanka dengan erat. Demikian juga dengan Niken Kinanthi juga melakukan hal yang sama.
"Tidak kukira.., terakhir kali kita bertemu, Ashan masih merah digendong Nimas Rengganis. Saat ini sudah menjadi seorang anak muda yang gagah, dan kamu sendiri terlihat lebih awet muda Wisang. Orang yang tidak mengerti, akan menyangka kalian seperti kakang dan rayi." Pangeran Abhiseka mengomentari Wisanggeni. Chakra Ashanka tersenyum mendengarnya.
"Ha.., ha..., ha..., bisa saja Pangeran berbicara. Oh ya Pangeran..., Nimas..., bagaimana kabar kalian..? Maafkan aku.., terakhir kali aku meninggalkan kerajaan tanpa berpamitan pada kalian berdua. Rengganis dan putraku Ashan membutuhkan aku, jadi kami harus kembali ke perguruan, dan tidak memiliki kesempatan untuk berpamitan kepada kalian semua." Wisanggeni menutupi kondisinya yang terluka parah waktu itu, Dengan alasan keluarganya membutuhkan, laki-laki itu menggunakannya sebagai alasan.
"Tidak masalah Wisanggeni..., hanya saja aku kecewa padamu. Kamu sedikitpun belum mendapatkan hadiah atau penghargaan atas bantuan kalian mempertahankan kerajaan Laksa." ucap Pangeran Abhiseka dengan perasaan kurang suka.
__ADS_1
"Pangeran Abhiseka tidak perlu memikirkan hal itu untukku. Aku sudah memiliki semua hal yang ada di dunia ini, dan sudah tidak membutuhkan lagi sesuatu yang bersifat duniawi." Wisanggeni tersenyum menenangkan Pangeran Abhiseka.,
"Oh ya..., bagaimana dengan kabar kalian berdua.., apakah sudah ada satu langkah lebih maju dalam kedekatan kalian?" tiba-tiba Wisanggeni menatap Niken Kinanthi dan Pangeran Abhiseka. Perempuan itu memerah mukan menundukkan kepala, dan Pangeran Abhiseka meraih pundaknya.
"Doakan dan restui kami Wisanggeni. Nimas Niken Kinanthi sudah menyatakan kesanggupannya untuk menerima lamaran dariku, dengan catatan setelah kami melakukan perjalanan untuk melihat keajaiban kuno. Saat ini, apa yang akan kita lakukan, sudah ada di depan mata." Pangeran Abhiseka menjawab pertanyaan Wisanggeni.,
"Ha..., ha.., ha..., aku turut merasa senang Pangeran, Nimas... Dengan bertemunya kita disini, kita akan dapat membentuk kelompok pencarian. Kita bisa memasuki wilayah keajaiban kuno itu secara bersama-sama." Wisanggeni menyampaikan gagasannya.
"Baiklah menarik sekali gagasanmu kawan... Tetapi sampai sekarang belum ada satupun yang berani untuk mencoba masuk ke dalam Wisang.. Apakah kita akan menunggu mereka, atau kita akan mencoba untuk masuk duluan..?" Pangeran Abhiseka bertanya pada Wisanggeni.
"Menurutku.. kenapa kita harus menunggu mereka..? Bukankah kita juga tidak mengenali mereka..?" tanya Wisanggeni. Kedua orang itu kemudian menganggukkan kepala.
********
"Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini Wisanggeni, sepertinya kamu sudah beberapa kali mendapatkan karomah dari warisan-warisan kuno. Tidak mungkin kan, jika kali ini kamu juga berharap mendapatkan warisan ini lagi?" dalam perjalanan mereka memasuki halaman candi, Pangeran Abhiseka bertanya pada Wisanggeni.
"Benar apa yang Pangeran katakan. Sebenarnya tujuanku ke hutan ini adalah untuk menemukan Goa yang pernah aku gunakan dengan Nimas Larasati untuk memperdalam kanuragan. Aku ingin menggunakannya untuk melakukan semedi, karena sudah saatnya aku mendalami ilmu kanuragan untuk membangkitkan energi dari Trah leluhur kami Trah Bhirawa. Tetapi dalam perjalananya, putraku Chakra Ashanka menyertaiku dalam perjalanan. Menjadi tugas seorang ayahnda untuk memberi pengalaman yang terbaik bagi putranya." dengan tersenyum, Wisanggeni menanggapi perkataan yang diucapkan Pangeran Abhiseka.
"Sudah kuduga kawan.., hal itu pula yang aku pikirkan tentangmu." ucap Pangeran Abhiseka pelan.
__ADS_1
"Kita sudah sampai tepat di pintu masuk candi ini. Apakah kita akan langsung masuk ke dalam, ataukah akan berkeliling ke tempat ini terlebih dahulu?" Niken Kinanthi berhenti, kemudian bertanya pada Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni.
"Tidak baik untuk membuang-buang waktu kita seperti seorang pecundang. Menurutku lebih baik kita segera masuk, dan kita akan segera tahu ada di dalam batu candi ini." ucap Wisanggeni sambil melangkahkan kaki ke dalam candi. Chakra Ashanka tanpa bicara, segera mengikuti jejak ayahndanya.
Niken Kinanthi menatap Pangeran Abhiseka, dan Pangeran langsung menganggukkan kepala. Kedua orang itu berjalan berdampingan memasuki candi mengikuti Wisanggeni dan Chakra Ashanka.
******
Di halaman luar
Beberapa orang merasa terkejut, melihat keberanian Wisanggeni dan rombongan, memasuki candi tanpa berpikir untuk menunggu beberapa saat terlebih dahulu. Bahkan para ahli yang lebih tua, memilih untuk mendalami situasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk langsung masuk ke areal tersebut.
"Betapa sombongnya keempat orang itu. Hanya untuk memberi pelajaran pada anak muda yang ada disana, mereka nekat masuk ke dalam candi tanpa menunggu terlebih dahulu." seseorang menanggapi Wisanggeni dan teman-temannya.
"Iya..., kita akan melihat mereka beberapa saat lagi. Aku yakin, candi itu akan kembali memuntahkan dan melemparkan mereka keluar dari wilayahnya." orang yang lain menyahuti perkataan orang tersebut.
Tetapi terlihat seorang sesepuh yang mengantarkan keturunannya, terlihat sedang menyuruh orang-orang yang bersama dengannya untuk segera memasuki bangunan candi.
"Apa yang kalian tunggu, apakah kalian ingin menunggu keajaiban kuno di dalam candi itu sudah diambil oleh orang-orang itu?" laki-laki sepuh itu meminta orang yang dibawanya untuk segera masuk.
__ADS_1
"Tetapi eyang sepuh..., apakah kita tidak perlu untuk melihat mereka terlebih dulu. Untuk meyakinkan apakah mereka selamat atau celaka.." satu anak muda mencoba menahan keinginan laki-laki tua itu.
***********