
Setelah membantu putranya, Wisanggeni segera berdiri di depan pintu goa, matanya menatap mengamati putranya yang sedang dibantu oleh teman-temannya bertarung melawan para tokoh dunia persilatan itu. Laki-laki itu ingin mengukur bagaimana kemampuan yang dimilikinya putranya, sehingga pada saatnya Wisanggeni akan siap untuk meninggalkannya sendiri.
"Tap..., tap..., tap..." sebuah batu yang dilapisi bijih besi melesat cepat keluar dari ketapel yang dibawa Pangeran Abhiseka. Ternyata laki-laki itu masih memanfaatkan mainan anak-anak dan merubahnya sebagai senjata yang mematikan.
"Jeglarr...., bluar..." suara ledakan karena benturan kekuatan juga terjadi di sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba sudut mata Wisanggeni menangkap pergerakan laki-laki yang lebih tua sedang mengendap-endap mendekati tempatnya berdiri saat ini. Tidak mau kecolongan, Wisanggeni mengibaskan tangannya ke arah laki-laki itu.
"Bang.., bang.." serangan bercampur pukulan keras melayang kencang dari tangan Wisanggeni.
Laki-laki itu langsung terjungkal ke belakang. Tetapi dengan cepat, laki-laki itu bangkit dan menatap pada Wisanggeni dengan tatapan kemarahan. Tiba-tiba aura warna merah hitam keluar dari tubuh laki-laki itu, kemudian tangannya membentuk sebuah formasi.
"Blam..., blam.. bluarr.." sebuah serangan dikirim laki-laki itu ke arah Wisanggeni, dan dengan cepat putra Ki Mahesa itu menghadang serangan itu dengan telapak tangannya. Suara ledakan kembali terdengar menggetarkan tempat tersebut.
Wisanggeni melirik ke belakang. Perlahan tabir pelindung yang dipasang Chakra Ashanka mulai memudar. Untuk melindungi goa yang ada di belakangnya, Wisanggeni segera melompat ke depan. Salah satu tangannya masuk ke dalam kepis, dan mengeluarkan Singa Resti dari dalam kepis tersebut. Binatang itu langsung berubah wujud menjadi seekor singa besar, dan dengan tatapan kelaparan berdiri di depan pintu masuk ke arah goa.
"Lindungi goa ini Resti.., ada kehidupan di dalamnya. Kita harus menjaga dan memastikan keselamatannya." Wisanggeni langsung memberi perintah pada binatang itu.
"Roarrr...., auuuummm." Auman panjang Singa Resti menjawab permintaan Wisanggeni. Mendengar suara itu, Wisanggeni tersenyum kemudian melompat ke arah samping. Laki-laki itu mengejarnya, dan akhirnya mereka bertemu di samping goa.
Tempat yang semula terlihat rimbun oleh pohon-pohon, saat ini sudah sebagian terlihat terang terkena sinar matahari. Pertarungan yang terjadi di antara orang-orang itu, sudah menimbulkan kekacauan di sekitarnya. Pohon-pohon bertumbangan, dan terlihat sangat kacau balau. Setiap orang sudah memiliki lawannya masing-masing.
Beberapa korban sudah banyak timbul dari kubu lawan. Dengan cekatan dan Trengginas, orang-orang dari kelompok yang dipimpin Wisanggeni menghabisi orang-orang serakah itu. Untung saja mereka datang tepat pada waktunya, sehingga bisa memberikan bantuan pada Chakra Ashanka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, orang-orang banyak yang melarikan diri dari tempat itu. Mereka merasa tidak dapat melawan sembilan orang dengan tiga binatang magic yang memiliki Kanuragan yang tinggi. Akhirnya lama kelamaan pertarungan itu berakhir dengan kondisi menyedihkan. Chakra Ashanka mengambil nafas, menatap alam yang sudah berubah menjadi porak poranda. Tatapan anak muda itu mengandung kesedihan.
"Lupakan Ashan.., hal yang wajar terjadi seperti ini. Inilah pertarungan, ketika bertarung terkadang kita tidak menyadari jika pertarungannya kita akan membuat kerusakan di dalamnya." terdengar suara Widayati mengajak bicara Chakra Ashanka.
Anak muda itu menoleh pada gadis itu, kemudian tersenyum kecut.
"Keserakahan kaum kita yang mengakibatkan kerusakan pada alam ini. Aku betul-betul tidak menyangka hanya untuk mendapatkan naga-naga itu, mereka tega membuat kekacauan seperti ini.
*******
Di dalam goa
Semua orang berkumpul di tengah ruangan goa, dengan tiga bayi naga berada di tengah-tengah mereka. Terlihat bayi itu sedang menyesap air yang disediakan oleh Chakra Ashanka. Naga terbang turut berada di samping binatang-binatang kecil itu.
Anak muda itu menggelengkan kepala, dia sendiri juga tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada ketiga Bayi naga itu. Semua mata menatap ke arah binatang itu.
"Kamu tidak mungkin meninggalkannya disini, induk ketiga bayi naga ini sudah tidak ada. Tetapi kamu juga tidak mungkin untuk membawanya kemana-mana. Lihatlah satu naga terbang juga sudah akan mengikuti kemana-mana." Wisanggeni melanjutkan perkataannya.
"Iya Ayahnda..., Ashan juga bingung dengan keadaan seperti ini. Tetapi juga tidak mungkin jika putra ayahnda tetap berada di tempat ini untuk merawat mereka. Bagaimana jika paman dan bibi membantah Ashan untuk merawat binatang-binatang ini?" tidak diduga, Chakra Ashanka menawarkan ketiga bayi naga itu pada orang-orang yang turut bersamanya.
"Benarkah yang kamu katakan Ashan.., jika apa.yang kamu katakan benar adanya, aku akan sangat senang Ashan. Kak.Widayat.., bolehkan aku membawa satu bayi naga ini untukku?" Widayati langsung memberikan respon atas perkataan Chakra Ashanka.
"Ambillah.., kamu bisa menggunakan binatang magic ini sebagai peliharaan. Kamu juga bisa melatih dan mengajaknya untuk bersemedi untuk meningkatkan kekuatannya." dengan suara pelan, Widayat berbicara pada adiknya.
__ADS_1
"Terima kasih kak Widayat.." ucap Widayati. Perempuan itu langsung bergerak ke depan kemudian mengambil satu ekor naga kecil dan menggendong si tangannya.
"Sepertinya aku juga mau. Bolehkah Pangeran..?" Niken Kinanti bertanya pada Pangeran Abhiseka.
"Ambillah!" ucap Pangeran Abhiseka singkat sambil tersenyum. Niken Kinanti juga dengan segera membawa satu binatang itu. Akhirnya masih teringat satu bayi naga. Widayat melihat ke arah Pangeran Abhiseka, tetapi laki-laki itu menolak secara langsung dengan mengangkat kedua tangan di depan dadanya.
"Masih ada satu binatang naga. Tinggal kalian bertiga, tentukan siapa satu di antar kita yang akan merawat binatang ini." Widayat menawarkan satu binatang tersisa pada ketiga rekannya.
Sejenak keributan terdengar di antara mereka bertiga. Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka.
"Kenapa paman-paman malah meributkan hal ini. Bukankah paman bertiga bisa melakukan hom Pi pah untuk menentukan pemenangnya." melihat ke-tiga orang itu berdebat, Chakra Ashanka memotong perdebatan mereka.
"Iya lakukanlah. Perjalanan kita belum berakhir, di depan kita masih bisa mendapatkan kejutan-kejutan yang lain dari hutan ini." ucap Wisanggeni menengahi mereka.
Setelah mempertimbangkan perkataan orang-orang tersebut, ketiga orang itu melakukan hom pi pah, dan dalam sekali putaran telapak tangan yang berbeda jatuh di tangan Sampana.
"Ha.., ha.., ha... ternyata akulah yang beruntung di antara kita bertiga." Sampana berteriak bahagia melihat tangannya yang paling berbeda. Orang itu langsung mengambil naga kecil kemudian menggendongnya.
"Ya.., itu baru keberuntunganmu Sampana. Ambillah.." akhirnya kedua teman lainnya tersenyum kecut melihat Sampana bahagia menghendaki binatang itu di tangannya.
Merasa lelah, akhirnya sembilan orang itu memutuskan untuk beristirahat di goa tersebut.
*******
__ADS_1