Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 417 Doa Restu


__ADS_3

Karena sudah tidak ada lagi kesalah pahaman, pengukuhan Chakra Ashanka untuk menjadi Patih kerajaan Logandheng akhirnya dilakukan malam itu juga. Raja Bhadra Arsyanendra tidak mau membuat penundaan lagi, karena ada kekhawatiran akan ada lagi yang menghambat upacara ini. Apalagi melihat kehadiran anggota keluarga anak muda itu, menjadikan Raja Bhadra Arsyanendra semakin menginginkan untuk segera dikukuhkan.


Sekar Ratih terpana melihat ketampanan Chakra Ashanka dengan pakaian kebesaran seorang pejabat kerajaan. Mata jernih gadis itu, sejak tadi tidak beralih dengan diam-diam menatap dan mengakui ketampanan anak muda itu. Dari tempat duduknya, Parvati menyadari jika teman bermainnya itu mengagumi dan terpukau dengan ketampanan kakaknya. Gadis itu berjalan mendekati Sekar Ratih untuk memastikannya.


"Mmmm sepertinya ada yang terkagum-kagum dengan ketampanan kakakku ini.." Sekar Ratih tergagap mendengar godaan yang dilontarkan Parvati kepadanya. Wajah gadis itu bersemburat merah, tidak sempat menyembunyikan rasa malunya.


"Nimas Parvati.. sejak dulu kamu selalu begitu. Suka sekali menggodaku.. kebetulan saja aku menatap kang Ashan, tidak ada unsur kesengajaan.." Sekar Ratih menolak mengakui apa yang dilakukannya. Ada rasa malu dan rendah diri untuk mengakui perasaannya pada anak muda itu. Gadis itu cukup tahu diri, darimana dia berasal, dan bagaimana keluarganya di lereng gunung. Tidak ada keberanian di dalam hatinya, untuk menyukai anak muda yang seperti bumi dan langit dengannya.


"Ratih.. aku tahu bagaimana perasaanmu untuk kang Ashan.. Tidak perlu kamu berlagak menutupinya Ratih, banyak gadis muda yang juga mengincar kakakku. Lihat saja gadis cantik dan kaya yang selalu bersamamu, aku tidak bisa dibohongi. Ayodya Putri sangat terlihat jika tertarik dengan kakangku, dan selalu berusaha menarik perhatian dari Kang Wisang.. Tapi yakinlah Ratih.. perhatian kang Ashan hanya untukmu.." Parvati terus menggoda Sekar Ratih, bahkan terkesan memanas-manasi gadis itu.


Sekar Ratih hanya tersenyum kecut menanggapinya. Lagi-lagi latar belakang dan asal usulnya, seakan mengendalai gadis itu untuk lebih berani mengungkapkan rasa ketertarikannya pada Chakra Ashanka. Menempatkan dirinya di dekat laki-laki itu, dengan membantu memenuhi kebutuhannya sudah menimbulkan rasa bahagia dan dibutuhkan.


"Ratih lihatlah.. apakah kamu tidak akan ikut berjalan ke depan. Lihatlah mbakyu Putri.. gadis itu sudah berjalan mendekati kakangku.." tiba-tiba Parvati menolehkan wajah Sekar Ratih untuk melihat ke depan. Tampak Ayodya Putri berjalan ke depan untuk mendekati Chakra Ashanka, padahal kedua orangĀ  tuanya Wisanggeni dan Rengganis masih duduk di kursi yang disiapkan untuk mereka.

__ADS_1


"Biarlah Nimas Parvati.. aku cukup tahu diri dan tidak akan besar kepala. Semuanya... Nimas Putri memiliki semua yang dibanggakan untuk dapat merebut hati kang Ashan.." akhirnya Sekar Ratih mengeluarkan pernyataannya, dengan senyum kecut melihat ke arah Ayodya Putri yang berjalan mendekati Chakra Ashanka.


"Apa maksudmu Ratih.. apakah kamu begitu meragukan dan merendahkan keluargaku. Ayahnda, ibunda, dan juga kakang Ashan tidak pernah memandang orang hanya dengan melihat latar belakangnya. Jangan pernah merasa rendah diri di hadapan kita, tidak ada yang berbeda. Tidak ada kasta, tidak ada pembedaan status dalam kehidupan kami." Parvati berbicara dengan sedikit jengkel pada Sekar Ratih.


Namun Sekar Ratih tetap tidak bergeming, rupanya gadis itu tetap merasa rendah diri dan menyadari bagaimana statusnya. Parvati semakin gemas melihatnya, padahal jika Sekar Ratih sedikit saja dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, akan banyak gadis muda bertekuk lutut padanya.


"Tetaplah seperti itu Ratih, dan jangan salahkan siapapun, jika suatu saat kang Ashan akan pergi meninggalkanmu. Buka hatimu sedikit saja untuk kang Ashan, bukan untuk laki-laki lain, aku yakin kamulah yang paling cocok untuk bersama dengan kang Ashan. Tidak ada gadis yang lain.." ucap Parvati sewot, namun Sekar Ratih tetap tidak mau beranjak.


********


"Ayahnda.. ibunda.. ijin putra kalian menyampaikan salam, dan memohon doa restu dari ayah dan bunda berdua." Chakra Ashanka bersimpuh di depan pasangan suami istri itu. Air mata haru ketika bersimpuh di depan ibundanya, tidak dapat dikendalikan oleh anak muda itu.


"Doa restu ayah dan bunda selalu menyertaimu putraku.. Tetaplah menjadi laki-laki yang lembah manah, berpihak dan berikan perlindungan selalu pada pihak yang lebih lemah." Rengganis menanggapi perkataan putra laki-lakinya itu, jari tangan perempuan itu mengusap air mata yang menggenang di kelopak mata Chakra Ashanka. Perempuan itu memberikan kecupan di kening anak muda itu, kemudian mereka berpelukan beberapa saat.

__ADS_1


Setelah bersimpuh di depan ibundanya, Chakra Ashanka berpindah ke depan Wisanggeni, dan anak muda itu kembali bersimpuh di depan laki-laki itu. Wisanggeni menepuk dan mengusap punggung putranya itu. Banyak harapan yang tidak terucap mengalir untuk putranya itu. Dari belakang anak muda itu, terlihat Ayodya Putri memandang interaksi itu dengan penuh perasaan.


"Bangunlah putraku.. kamu tidak bisa hanya menghabiskan waktumu disini bersama kami. Pergilah.. temuilah para pangadeg keraton lainnya. Kamu tidak mungkin hanya disini bersama dengan kami. " Wisanggeni mengangkat pundak Chakra Ashanka ke atas. Chakra Ashanka segera berdiri, dan Wisanggeni mencium kening putranya itu.


"Terima kasih ayahnda.." ucap Chakra Ashanka pelan.


Anak muda itu berdiri, namun sebelum melangkah untuk menghampiri para pangadeg kraton lainnya, terlihat seperti ada yang ditunggu oleh Chakra Ashanka. Rengganis tersenyum dan menyenggol lengan suaminya, kemudian..


"Siapa yang kamu tunggu Ashan.. apakah kamu menunggu Sekar Ratih untuk datang menemuimu saat ini. Gadis itu tidak akan memiliki keberanian sebesar itu putraku.. Datangilah jika kamu memang peduli akan ijin dan restu dari gadis itu, saat ini Sekar Ratih sedang berbincang dengan Parvati adikmu.." Rengganis seperti menebak dengan tepat apa yang ingin ditemukan oleh putranya.


Chakra Ashanka tersenyum malu, setelah menganggukkan kepala, anak muda itu segera mendatangi tempat yang sudah ditunjukkan oleh ibundanya. Di belakang anak muda itu, Ayodya Putri merasa terhenyak dan seperti tersadarkan jika bukan dirinya yang ada di hati anak muda itu. Sudah sejak tadi Ayodya Putri berdiri dan berjalan mengikuti kemana langkah Chakra Ashanka, ternyata malah Sekar Ratih yang dicari-cari anak muda itu. Gadis itu tersenyum pias, dan hanya memandang punggung anak muda itu yang berjalan meninggalkannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2