Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 179 Sombong dan Arogan


__ADS_3

Wisanggeni merasa gerah melihat sikap dan perilaku dari laki-laki yang bernama Gajahrosa itu. Matanya menyipit, tetapi dia masih berusaha untuk menahan diri, sesuai dengan perkataan yang sudah dia ucapkan tadi. Laki-laki yang terkena serangan itu dan Gajahrosa masih terus bertarung, dan setelah beberapa saat pertarungan berlangsung, tiba-tiba..


"Bukk.." laki-laki yang bertarung dengan Gajahrosa terlempar dan terjatuh di depan Wisanggeni. Sumpeno dan Santosa dengan geram menatap laki-laki yang bernama Gajahrosa itu, kemudian mengalihkan tatapannya pada Wisanggeni. Dengan senyuman sinis, mata Wisanggeni terpejam sebentar. Setelah beberapa saat, laki-laki itu membuka kembali matanya.


Mata Wisanggeni melihat laki-laki yang terlempar di depannya kesakitan, dan Wisanggeni tidak bisa berdiam diri. Nuraninya berkata lain, dengan cepat tangannya meraih lengan laki-laki itu kemudian menarik dan mengembalikan posisi tulangnya ke tempat semula.


"Aaaaawww.." terdengar jerit kesakitan dari laki-laki yang tulangnya dibetulkan letak posisinya oleh Wisanggeni. Tidak lama kemudian, senyuman mulai menghiasi bibir laki-laki tersebut, dia sudah bisa menggerakkan kembali lengannya. Wisanggeni mengulurkan sebuah pil dan memaksakan untuk masuk ke mulut laki-laki itu.


"Untuk menyembuhkan luka  dalammu.., luka luar mudah diobati. Tetapi luka di dalam tubuh, dan tidak terlihat oleh mata, akan berakibat fatal untuk kesehatanmu di masa depan." tidak menunggu laki-laki itu bertanya, Wisanggeni dengan jelas menjelaskannya pada laki-laki itu/.


"Terima kasih Ki Sanak.., ternyata masih ada orang baik disini. Tidak semua sama jahatnya dengan laki-laki yang bernama Gajahrosa itu." ucap laki-laki itu mengucapkan terima kasih pada Wisanggeni. Melihat orang yang baru saja diserangnya kembali pulih, tiba-tiba tidak ada yang menduga, Gajahrosa mengirimkan serangan kembali dan diarahkan pada Wisanggeni. Tanpa melihat ke arah penyerang, tangan Wisanggeni bergerak cepat, laki-laki itu menghalau serangan dengan sangat mudah.

__ADS_1


"Kurang ajar.., ternyata kamu juga ingin bermain-main denganku. Ayo.., aku tantang kamu untuk bertarung denganku." teriak Gajahrosa dengan mata merah, dia berusaha memanas-manasi Wisanggeni agar mau bertarung dengannya. Wisanggeni tidak mau melihat ke arah laki-laki sombong itu, dia malah kembali memejamkan matanya pura-pura beristirahat. Sumpeno dan Santosa yang sudah terlihat geram, melihat Wisanggeni sedikitpun tidak terpancing, akhirnya mereka berdua berusaha menenangkan dirinya kembali. Kedua laki-laki itu mengikuti apa yang dilakukan Wisanggeni, mereka memejamkan mata dan mengembalikan kekuatan batinnya.


"Bang..., bang..." tidak diduga, Gajahrosa mengirimkan serangan ke depan Wisanggeni. Laki-laki itu membuka matanya, dia tersenyum sinis menatap balik tatapan Gajahrosa yang berusaha membangkitkan emosinya dari tadi.


"Apa yang kamu mau...?? Saat ini ada baiknya kita beristirahat.., sehingga besok pagi kita bisa melanjutkan kembali aktivitas kita dengan badan segar, Tidak ada untungnya berusaha memancing keributan di tempat seperti ini." dengan tegas, Wisanggeni berusaha mengajak bicara Gajahrosa. Tetapi ternyata hal itu tidak disambut baik oleh laki-laki sombong tersebut.


"Katakan sekali lagi.., aku ingin mendengarnya kembali. Jika kamu tahu anak muda... di tengah hutan seperti ini, hanya kekuatan yang akan berbicara. Buktikan jika kamu memang layak untuk menjadi lawanku.., ayo lawanlah aku!" dengan congkak dan sombong, Gajahrosa terus mengejek Wisanggeni. Laki-laki dari Klan Bhirawa itu tersenyum kecut, dia masih berusaha untuk menahan dirinya.


"Bang.., bang.." sebuah bola api meluncur ke arah Wisanggeni, dan melihat Gajahrosa belum berhenti untuk membuat masalah, Wisanggeni langsung berdiri. Matanya dengan tegas menatap ke arah laki-laki yang dari tadi membuat ulah itu, perlahan tangan kanannya membentuk simbol-simbol.., dan tidak lama kemudian,,


"Hmmm.., ya..., ya..., ternyata kekuatan tenaga dalammu besar juga anak muda. Tapi jangan sebut namaku Gajahrosa.., jika aku tidak bisa mengalahkanmu kurang dari lima serangan." tidak mau mengakui kekalahan, Gajahrosa masih berteriak sombong. Laki-laki itu kembali komat-kamit mulutnya merapalkan mantera untuk membuat serangan. Mata laki-laki itu tiba-tiba berubah menjadi berwarna putih, tetapi dengan cepat berubah lagi menjadi warna merah. Lingkaran api yang lebih besar kembali muncul di tangannya, dan dengan cepat.., Gajahrosa kembali mengirimkan serangan ke arah Wisanggeni.

__ADS_1


Melihat jika laki-laki di depannya itu tidak memiliki sikap hanya bermain-main, dengan cepat Wisanggeni melompat ke samping. Api yang dikirimkan oleh Gajahrosa menyambar pohon yang berdiri di belakang Wisanggeni, dan segera pohon itu tumbang jatuh ke belakang.


"Brakk.., krekk.., baaam." sudut mata Wisanggeni melirik kobaran api yang langsung membakar batang pohon itu dengan cepat. Melihat jika batang pohon itu masih hidup sebelumnya, dan saat ini dengan cepat berubah menjadi bar api karena serangan dari Gajahrosa, Wisanggeni jadi berpikir. Laki-laki bertubuh besar di depannya itu memang memiliki keinginan untuk menghabisi lawan-lawan bertarungnya. Wisanggeni tidak akan membiarkan kekejaman laki-laki itu, menakuti orang-orang yang berada di situ.


"Kekuatan Pasupati..., pelemah kekuatan... bergabunglah.. Blarrr... blarrr.." tanpa menunggu kesiapan dari Gajahrosa, Wisanggeni berpikir cepat bagaimana dia akan membuat kapok laki-laki itu. Serangan dengan menggabungkan dua kekuatan meluncur keluar dari tangan Wisanggeni.


Terkena serangan itu, tubuh Gajahrosa terpental ke belakang. Tubuhnya melambung tinggi, dan tanpa menunggu tubuh Gajahrosa terjatuh, Wisanggeni kembali meluncurkan serangan tambahan ke arah laki-laki itu. Semua orang yang berada disitu menahan nafas, dalam hati mereka bersyukur ada orang yang memberi pelajaran pada laki-laki sombong itu. Tetapi mereka juga berpikir bagaimana nasib dari Gajahrosa selanjutnya.


"Bukk..." setelah beberapa saat, tubuh Gajahrosa kembali terjatuh. Laki-laki itu langsung pingsan terbaring di atas tanah. Kerasnya suara badannya terjatuh, sambil membuat cekungan tanah yang ada di bawah tubuhnya. Semua orang terdiam, tidak ada yang menawarkan diri untuk memberi pertolongan pada laki-laki sombong itu. Bahkan teman-temannya yang semula berada dalam satu rombongan dengan Gajahrosa, perlahan mereka berjalan menyingkir dan menjauh dari orang-orang itu. Mereka berpikir dua kali untuk menolong Gajahrosa, khawatir akan mendapatkan lawan yang sepadan atau bahkan berada lebih tinggi di atasnya.


Sumpeno dan Santosa saling berpandangan, kemudian setelah melihat suasana sudah terkendali, mereka melangkah menghampiri Wisanggeni berdiri.

__ADS_1


"Istirahatlah dulu Wisang.., besok kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Masih banyak yang akan kita temui nanti.., banyak orang-orang yang berusaha untuk menindas orang lain di atas nanti." Sumpeno memegang lengan Wisanggeni, dia mengajak laki-laki itu untuk kembali duduk dan beristirahat. Tidak lama kemudian, kesunyian kembali berada di tempat itu. Orang-orang sudah mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.


************


__ADS_2