Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 283 Bersiap Meninggalkan Goa


__ADS_3

Wisanggeni secara perlahan memindahkan tubuh Chakra Ashanka yang sedang tertidur pulas ke dalam goa. Dengan hati-hati, laki-laki itu melihat ke arah putranya sekali lagi. Setelah membuka kunci rahasia kepis yang berada di dalam pinggang putranya, Wisanggeni melihat ke arah Singa Ulung.


"Ulung jaga dan awasi putraku.., aku akan membawa Singa Resti bersamaku. Meskipun sudah ada naga terbang yang menemani putraku pergi, tetapi kekuatan naga itu belum terlatih dengan benar." Wisanggeni mengusap kepala kucing berwarna putih yang ada di sampingnya. Kucing itu melihat ke arah Wisanggeni, dan segera menganggukkan kepalanya.


"Meong..., meong..." Singa Ulung seakan menanggapi perkataan yang disampaikan majikannya itu. Setelah kembali mengusap kepala binatang itu dengan lembut, Wisanggeni memasukkan binatang peliharaannya itu ke dalam kepis yang dimiliki Chakra Ashanka,


Setelah beberapa saat memandang kembali putra dan teman-temannya, perlahan Wisanggeni berjalan keluar dari dalam goa. Di depan goa, laki-laki itu memasang Tabir pelindung untuk memberi penjagaan pada putra dan semua yang ada di dalam goa tersebut. Setelah mempersiapkan semuanya., tangan Wisanggeni mengeluarkan Singa Resti dari dalam kepisnya.


"Resti.., kamu akan menggantikan tugas SInga Ulung untuk sementara waktu. Aku meminta bantuanmu untuk menemaniku mencari tempat untuk berlatih di dalam sebuah goa. Singa Ulung akan menjaga Chakra Ashanka, tanpa aku memberi tahu kepada putraku sebelumnya." dengan mengusap kepala binatang itu, Wisanggeni mengajak bicara kepadanya. Setelah menepuk tiga kali, Singa Resti berubah wujud menjadi Singa terbang dengan kedua sayap disisinya,


"Hap..." dengan lincah, tubuh Wisanggeni melompat ke atas punggung binatang itu, kemudian tanpa bicara apa-apa, Singa Resti segera terbang membubung tinggi di angkasa, pergi meninggalkan goa tersebut.


************


Di luar Goa..


Sekelompok orang yang masih penasaran dengan ketiga binatang naga yang baru terlahir, masih mengintai goa tempat Chakra Ashanka dan teman-teman yang lainnya bersembunyi. Mereka melihat bagaimana Wiisanggeni pergi meninggalkan goa dengan mengendarai singa terbang meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Orang yang memiliki kemampuan paling tinggi sudah pergi dari tempat itu. Tetapi terlihat jika orang itu tidak membawa naga kecil bersamanya." terdengar bisik-bisik di antara orang-orang itu yang memberi tahu tentang kepergian Wisanggeni.


"Iya.., aku juga melihatnya. Berarti menjadi peluang bagi kita untuk merebut binatang-binatang naga itu. Ayo kita dekati pintu goa tersebut, dan aku yakin saat ini mereka masih tertidur pulas. Kita akan merebut naga kecil itu dari perlindungan mereka. Ayolah...!" satu orang yang lain menyahuti temannya. Tanpa menunggu teman-temannya yang lain, orang itu berjalan meninggalkan mereka kemudian berjalan melangkah menuju ke arah pintu goa.


Beberapa orang sejumlah tujuh orang mengikuti di belakang orang itu. Mereka mengendap-endap menuju ke pintu goa yang terlihat jelas kosong tidak ada penjagaan di depannya. Mereka sudah menunggu kesempatan itu, akhirnya pada dini hari ini, mereka mendapatkan peluang tersebut. Pintu goa kosong tidak ada penjagaan sama sekali. Tidak lama kemudian, orang-orang itu akhirnya sampai di depan goa. Mereka tersenyum merasa penuh kemenangan, tetapi..


"Blam..., dukkk..." tiba-tiba dua orang yang mendahului mereka untuk menerobos masuk ke dalam goa, terpental kembali dan akhirnya terjatuh di tanah dengan sejumlah luka di tubuhnya.


"Kamu kenapa..., bukannya tidak ada orang di depan goa itu..?" melihat temannya kesakitan, salah satu dari mereka menanyakan sebab dirinya terlempar dan terjatuh di tanah,


"Hmm..., aneh.. Mungkin ada orang yang bersembunyi di sekitar sini yang akan bermain-main dengan kita disini. Cari mereka!" seseorang yang lebih tua berteriak memerintah teman-temannya yang lain. Empat orang berlari mengelilingi tempat itu, tetapi mereka tidak berhasil menemukan apapun, dan mereka kembali dengan tangan kosong.


Akhirnya, laki-laki yang lebih tua itu duduk bersila mengerahkan kemampuannya, kemudian mencoba mengirim serangan ke arah pintu goa.


"Blamm..., pyarr..., akh..." laki-laki tua itu berteriak kesakitan. Kiriman serangan yang diarahkannya ke pintu goa, ternyata dengan cepat berbalik arah memberi serangan kepada dirinya sendiri. Orang-orang yang lain, mereka merasa penasaran. Tanpa kata, keempat orang mencoba berjalan mendekat ke pintu goa, kemudian mencoba mengirimkan serangan kembali ke arah pintu goa tersebut. Tanpa peringatan serangan itu memantul kembali, dan menyerang mereka dengan tepat sasaran.


Ketujuh orang yang mencoba untuk memasuki goa, dan merampas binatang-binatang itu meringis kesakitan dengan luka-luka yang lumayan dalam. Bahkan beberapa di antaranya masih memuntahkan darah segar. Beberapa orang dari kelompok lain yang memutuskan untuk menunggu keluarnya orang-orang dari dalam goa, hanya memandang orang-orang itu dengan tersenyum licik. Kegagalan orang-orang itu memberi pelajaran bagi mereka untuk lebih berhati-hati.

__ADS_1


***********


Di dalam Goa


Beberapa saat kemudian, setelah mereka melakukan kontrak darah dengan binatang yang sudah berada di tangan mereka, terlihat naga-naga itu menjadi lebih penurut kepada mereka. Pangeran Abhiseka dan Widayat sebagai orang yang lebih tua di antara mereka, hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka. Saloka dan satu temannya terlihat dengan pandangan iri melihat pada teman-temannya.


"Saloka.., Saputra.., hilangkan perasaan iri di hati kalian. Naga-naga itu belum memiliki kemampuan apapun. Mereka harus berjuang keras untuk melatih dan merangsang agar kemampuan naga itu bisa muncul seperti naga terbang yang ada di tangan Chakra Ashanka, Masih panjang perjalanan kita, harapanku nanti, kalian juga akan dapat menemukan binatang kontrak seperti Sampana dan Widayati." melihat tatapan iri Saloka dan Saputra, Widayat memberi arahan pada kedua orang yang datang bersamanya,


"Baik kak..." mendapat perkataan itu, Saputra dan Sampana terlihat malu. Mereka menjawab dengan singkat perkataan dari Widayat.


"Sepertinya kita sudah cukup istirahat di tempat ini. Kita harus segera keluar untuk melanjutkan perjalanan, dan siapa tahu kita akan menemukan makanan untuk mengganjal perut kita. Tetapi kendalikan diri kalian, jangan terkejut ketika berada di luar pintu goa. Aku yakin Wisanggeni sebelum pergi sudah menaruh perlindungan di depan pintu goa untuk kita." seperti sudah hafal dengan sikap Wisanggeni, Pangeran Abhiseka memberi tahu kepada rombongan barunya itu.


"Baik Pangeran.., aku sudah bersiap untuk keluar dari goa ini. Ashan.., apakah kamu sudah siap juga?" Niken Kinanthi segera berdiri, kemudian bertanya pada Chakra Ashanka,


"Sudah siap sejak tadi Bibi. Mari.." Chakra Ashanka segera melompat dan berdiri. Orang-orang lainnya segera mengikuti apa yang mereka lakukan.


**********

__ADS_1


__ADS_2