Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 423 Mencari Masalah


__ADS_3

Rengganis menatap wajah Parvati yang ternyata sudah terbangun. Perempuan itu tersenyum menatap putrinya, yang terlihat menahan rasa bingung. Gadis itu kemudian duduk, di samping Rengganis kemudian menyandarkan kepala di bahu perempuan itu.


"Ibunda.. apakah bunda juga mendengarnya. Sejak tadi Parvati tidak bisa memejamkan mata bunda.. sepertinya ada orang di atas genteng kamar ini. Apa yang mereka lakukan bunda.. apakah mereka memiliki niat jahat kepada kita..?" Parvati ternyata juga merasa dan mendengarkan pergerakan orang-orang di atas genteng penginapan.


Rengganis tersenyum kemudian mengusap kening, dan memasukkan anak rambut Parvati dengan menjepitnya di daun telinganya.


"Tidurlah kembali putriku.., pejamkan matamu. Ayahndamu tidak mungkin akan membiarkan orang-orang jahat untuk menyakiti kita, percayalah. Mereka pasti hanya ingin membuat masalah dengan pemilik penginapan, dengan berpura menakut-nakuti tamu yang menginap di penginapan ini. Ini merupakan cara yang sudah lama dan basi, namun masih banyak orang yang percaya dan terjebak di dalamnya." dengan suara lirih, Rengganis meminta Parvati untuk sedikit tenang.


"Benarkan ibunda.." Parvati mencoba mencari penegasan.


"Percayalah putriku.. sepertinya pengalamanmu untuk menjelajah tlatah di luar perguruan kurang begitu lama Nimas.. Kamu perlu untuk mencari pengalaman sendiri, untuk meningkatkan pengetahuanmu. Ada banyak jenis orang di alam ini, ada yang baik ada yang buruk, ada yang tulus, namun juga ada yang culas.." Rengganis terus memberi nasehat pada Parvati.


"Hmm.. apakah ayahnda akan mengijinkan Parvati ibunda.. Jika Parvati memiliki keinginan untuk menjelajah sendiri, mencoba hidup sendiri terpisah dengan ayahnda dan ibunda." seperti mendapatkan angin segar dari perkataan Rengganis, dengan cepat Parvati memanfaatkan kesempatan itu.


Rengganis tersenyum, dan kembali perempuan itu menganggukkan kepala.


"Lain waktu kamu bisa mencobanya putriku.. Mintalah ijin dengan baik-baik pada ayahndamu, nanti ibunda akan mencoba meyakinkan ayahndamu agar membolehkan dan mengijinkanmu." Rengganis melegakan hati gadis itu. perlahan mata Parvati terpejam, dan dengan hati-hati, Rengganis membaringkan kepala dan badan gadis itu di atas ranjang. Setelah memastikannya gadis itu tertidur, perlahan Rengganis menyelimuti tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Hmmm... kamu sudah mulai beranjak dewasa nimas Parvati. Pada saat seusiamu, ibunda sudah meninggalkan jauh Jagadklana, dan memutuskan mengikuti perintah ayahnda waktu itu dengan berlatih di Trah Bhirawa., Di tempat itulah, ibundamu ini bertemu dengan ayahndamu Wisanggeni." Rengganis berbicara pelan sendiri.


"Klotak.. brakk.." tiba-tiba telinga Rengganis menangkap suara ribut dari atas genteng kamarnya itu.


"Sial.. aku harus memberi pelajaran pada orang-orang itu. Jika tidak, putriku pasti akan terbangun, dan tidak dapat tidur lagi sampai besok pagi." merasa khawatir dengan Parvati, Rengganis berbicara kasar.


Perempuan itu berdiri, kemudian mendekati jendela kamar. Setelah membuka jendela kamar, Rengganis mengedarkan pandangan keluar, namun tidak menemukan siapapun di luar kamarnya. Sejenak Rengganis ingat, jika memang tidak ada pengunjung lain di penginapan itu, selain mereka. Dan pastinya, pemilik penginapan tidak memiliki banyak uang untuk membayar penjaga.agar dapat memastikan keamanan pengunjung.


Sesaat di luar kamar, Rengganis berjalan agak ke tengah halaman, kemudian matanya mengintai ke atas genteng. Terlihat di atas genteng kamarnya ada tiga orang yang sedang mengintip dari sela-sela genteng.


"Kurang ajar sekali mereka, beraninya membuat ulah di atas kamarku." Rengganis bergumam sendiri. Wajah perempuan itu tampak kesal, dan tanpa memberi tahu suaminya, perempuan itu segera mengambil tiga buah batu kerikil. Setelah batu kerikil ada di tangannya, perempuan itu tersenyum sendiri.


"Pletak... aaaaww..." terdengar jeritan dari ketiga orang yang ada di atas genteng. Mereka kehilangan keseimbangan, tanpa bisa mencari pegangan ketiganya meluncur deras ke bawah atap.


"Bukkk... aaaw..." ketiga laki-laki itu terjatuh di depan kaki Rengganis, yang menatapnya dengan seringai di bibirnya.


Melihat ada yang berdiri di belakang mereka, ketiga laki-laki itu terkejut dan menatap wajah Rengganis dengan ketakutan. Namun melihat hanya seorang perempuan cantik yang berdiri di belakangnya, ketiga laki-laki itu tersenyum licik. Mereka segera melompat bangun dari posisinya saat ini sambil mengusap-usap pinggangnya yang terkena lemparan batu kerikil.

__ADS_1


"Hmmm.. memang rejeki nomplok kita malam ini Somad. Sakit karena terjatuh tidak seberapa, kita sudah disambut dengan bidadari cantik di bawah. Memang kalau sudah rejeki, tidak akan salah untuk menemui sasarannya." salah satu dari laki-laki itu memberi tahu temannya.


"Benar katamu Tarjo.. lumayan bisa menjadi penghangat kita malam ini. Kita bisa membawa perempuan ini ke pondok kita, dan hmmm... alangkah menyenangkan malam kita nantinya.." dengan penuh naf**su, laki-laki yang disebut dengan panggilan Somad menanggapi perkataan temannya,.


"Uhuuuu.. memang betul-betul keberuntungan kita malam ini." satu laki-laki yang lain juga memandang Rengganis dengan penuh minat. Mereka berdiri mengelilingi Rengganis sambil tersenyum licik, dan perempuan itu tampak sinis melihat ke arah mereka.


"Tikus-tikus dan cecurut bau.. sudah menampakkan siapa dirinya yang sebenarnya. Tingkah laku kalian marupakan cerminan siapa diri kalian sebenarnya." dengan kata-kata pedas, Rengganis memberikan sindiran pada ketiga laki-laki yang mengelilingi perempuan itu.


Ketiga laki-laki itu tidak tersinggung, mereka malah semakin berminat menatap tubuh Rengganis dari ujung kaki sambil ujung kepala. Melihat tatapan menjijikkan dari ketiga laki-laki itu, Rengganis merasa jijik dan ingin muntah melihatnya. Tanpa mereka sadari, Rengganis menarik keluar selendang dari dalam kepisnya.


"Sreekkk... srettt..." selendang yang semula lembut dan tampak berkibar itu, tiba-tiba berubah menjadi sebilah pedang yang tampak keras di tangan perempuan itu. Rengganis mengacungkan bilah pedang itu ke tangannya, kemudian menatap bilah itu dengan tatapan mata tajam.


Melihat hal yang dilakukan Rengganis, salah satu dari laki-laki itu merasakan sebuah firasat buruk. Tetapi kedua teman laki-lakinya mengabaikan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Kedua laki-laki itu tetap berani maju mendekati Rengganis, namun laki-laki yang satu berlari kencang keluar dari penginapan itu.


"Kilatan selendangmu menambah keanggunan dan kecantikan wajahmu Cah Ayu.., janganlah bersikap galak seperti itu. Hal itu menjadikan kami semakin bergairah melihatmu.." kedua laki-laki itu menatap dengan pandangan mesum ke arah Rengganis.


Melihat sikap kekurang ajaran dua laki-laki di depannya itu, Rengganis tersenyum miris. Tiba-tiba, perempuan itu mengangkat tangannya ke atas, kemudian tanpa ampun...

__ADS_1


"Sretttt.... aaaawww...." tanpa ampun, selendang Rengganis yang sudah menjadi sebilah pedang itu memberikan sabetan beruntun pada dua laki-laki itu. Bau amis darah menyeruak masuk ke indera penciuman Rengganis. Namun tatapan Rengganis tidak sedikitpun ada belas kasihan di dalamnya.


***********


__ADS_2