Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 348 Kristal Mustika


__ADS_3

Akhirnya Raja Adhyaksa memberi waktu pada Bhadra Aesyanendra untuk memikirkan kembali keinginannya menjadikan Chakra Ashanka sebagai Patih kerajaan Logandheng. Meskipun bocah laki-laki itu tetap berpendirian keras, namun sambil menunggu tanggapan dan persetujuan dari Bibi Rengganis, maka bocah itu menerima keputusan raja Adhyaksa. Pagi itu juga, Bhadra Arsyanendra menemani Chakra Ashanka bersiap-siap untuk kembali pulang ke perguruan Gunung Jambu. Sebenarnya Raja Adhyaksa melarang kepergian bocah itu untuk kembali ke perguruan, namun Bhadra Arsyanendra tetap memaksa untuk turut serta.


"Berhentilah marah kepadaku kakang Ashan..., Bhadra betul-betul membutuhkan bantuan kakangmas, Hanya dengan kakangmas, Bhadra merasa tenang, dan akan banyak belajar dari kakangmas." Bhadra Arsyanendra masih berusaha merayu Chakra Ashanka.


Anak muda putra perguruan Gunung Jambu itu menatap mata Bhadra Arsyanendra. Terlihat kejengkelan tersirat dalam tatapannya, tetapi akhirnya Chakra Ashanka hanya menghela nafas.


"Raden Bhadra.., aku tidak marah hanya sedikit merasa kesal kepadamu, Tanpa kamu sengaja, kamu telah menghempaskan harapan dan mimpi-mimpiku di masa depan hanya untuk menuruti keinginan bodohmu itu. Jujur Raden.., aku menyesal telah menuruti keinginan Ibunda.. mengantarmu kembali ke istana kerajaan Logandheng." dengan sikap kesal, Chakra Ashanka menanggapi perkataan Bhadra Arsyanendra.


"Lupakan kakang Ashan..., Bhadra akan mengikuti kakangmas kembali ke perguruan. Bhadra juga akan mengajukan permohonan pada Bibi Rengganis, dan akan menunggu sampai paman Wisanggeni kembali ke perguruan. Kepada beliau berdua, Bhadra akan meminta doa dan restunya kakangmas. Jangan membuat jawaban untuk saat ini." mendengar perkataan yang diucapkan Bhadra Arsyanendra terakhir, membuat Chakra Ashanka terdiam. Anak muda itu melanjutkan kesibukannya membereskan semua perlengkapan, kemudian memasukkannya ke dalam kepis.


Bhadra Arsyanendra kemudian melakukan hal yang sama. Meskipun pamannya Raja Adhyaksa tidak mengijinkannya untuk kembali ke perguruan Gunung Jambu, tetapi hanya di tempat itu yang dapat memberikan ketenangan pada dirinya. Akhirnya meskipun pamannya keberatan, bocah itu tetap memutuskan untuk mengikuti Chakra Ashanka.


************


Di Kerajaan Ular


Upacara adat dilakukan oleh keluarga manusia ular, untuk menempatkan tubuh ular Maharani ke mbelik mata air yang ada di kerajaan tersebut. Dengan penuh kesedihan dan isak tangis, sesepuh manusia ular memimpin upacara tersebut. Wisanggeni dan Parvati mengikuti semua prosesi dengan hati yang sedih, Beberapa saat kemudian..

__ADS_1


"Putraku Wisanggeni.., meskipun istrimu sudah meninggalkanmu, sesepuh kerajaan ular tetap akan memanggilmu dengan sebutan putra menantu kerajaan ular. Aku harap, kamu dan putrimu Parvati menuju ke sekar kedhaton.., kita akan berbincang sejenak untuk membicarakan masalah Parvati." beberapa sesepuh mendekati Wisanggeni, dan memintanya untuk bertemu dengan mereka.


"Baik Eyang..., secepatnya saya dan Parvati akan menuju Sekar kedhaton. Kami berdua akan siap untuk mengemban dhawuh yang diberikan oleh sesepuh kerajaan Ular. Dan secara pribadi, saya juga tidak keberatan untuk mendapat kehormatan panggilan itu dari para Sesepuh." Wisanggeni menyanggupi perihal yang disampaikan para sesepuh itu.


Laki-laki itu kemudian menggandeng Parvati dan mengajaknya menuju Sekar kedhaton. Meskipun baru pertama kali Parvati berada di kerajaan ular, tetapi bocah kecil itu tidak takut dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Secara insting, dan darah yang mengalir di tubuhnya, Parvati sedikitpun tidak merasa takut dengan penampakan berbagai wujud manusia ular, naga yang berseliweran di sekelilingnya. Keberadaan ayahndanya Wisanggeni di sampingnya sangat membantu gadis kecil itu untuk membiasakan diri di tempat seperti itu.


"Putriku Parvati.., kamu sudah mendengar sendiri ajakan Eyang Sepuh. Kita akan menuju Sekar kedhaton, sebelum bersiap untuk kembali ke perguruan Gunung Jambu. Kasihan ibunda Rengganis, yang sudah terlalu sering ayahnda tinggalkan sendiri memimpin perguruan." Wisanggeni memberi pengertian pada gadis kecil itu.


"Baik ayahnda.., semua tidak menjadi masalah untuk Parvati. Ibunda Rengganis pasti juga sudah menantikan kepulangan Parvati, pelukan hangat ibunda saat ini sudah Parvati rindukan." Wisanggeni memeluk erat tubuh putri kecilnya, kemudian membawanya menuju Sekar kedhaton.


***********


Beberapa sesepuh sudah menunggu Wisanggeni dan Parvati. Mereka duduk mengitari sebuah meja. Begitu melihat kedatangan putra menantu, dan keturunan Maharani para sesepuh meminta keduanya segera duduk di dekat mereka.


"Bagaimana keadaanmu cucuku Parvati...? Kamu sudah bertambah besar, dan kecantikan ibundamu menurun di wajahmu.." salah satu sesepuh mendudukkan Parvati, dan mengusap wajah gadis kecil itu.


"Terima kasih Eyang Sepuh, ijin Parvati menyampaikan salam dan hormat kepada pihak yang lebih tua." dengan suara kecilnya, Parvati menanggapi pujian yang diberikan sesepuh kepadanya.,

__ADS_1


"Baiklah cucuku.. putraku Wisanggeni. Ada beberapa hal yang akan kami sampaikan kepada kalian berdua. Terimalah ini cucuku Parvati..., " seorang sesepuh memberikan kotak kecil pada Parvati. Gadis kecil itu melihat pada ayahndanya Wisanggeni, sebelum menerima pemberian itu. Setelah melihat ayahndanya mengangguk tanda menyetujui, gadis itu baru berani untuk menerima kotak itu.


"Bukalah cucuku..." sesepuh meminta Parvati untuk membukanya.


Dengan gugup, Parvati membuka kota yang sudah berada di tangannya itu. Perlahan tangan Parvati membuka kunci pengait, dan melihat ada tiga butiran seperti kristal terpancar dari dalam kotak tersebut. Tangan kecil gadis kecil itu memegang kristal tersebut, kemudian mengamatinya perlahan.


"Benda apakah ini Eyang.., dan apakah parvati pantas untuk menerimanya..?" tanya Parvati pelan. Matanya mengerjap menatap pada para sesepuh yang berada di dekatnya.


Para sesepuh tersenyum, dan mereka menganggukkan kepala.


"Cucuku.., seharusnya benda kristal itu menjadi milik Maharani. Tetapi kami para sesepuh belum sempat memberikan pada gadis itu, dan terlanjur Maharani sudah berwujud menjadi seekor ular kembali. Kali ini, kamulah yang pantas untuk mewarisinya cucuku, kristal kerajaan ular itu menjadi milikmu. Suatu saat, kami yakin jika kamu akan memerlukan dan menggunakannya sebagai senjata pamungkasmu." dengan hati-hati, para sesepuh meyakinkan Parvati.


"Simpanlah putriku.., tidak baik menolak pemberian dari pihak yang lebih tua. Suatu saat, ayahnda yakin, kamu akan membutuhkan dan akan menggunakannya." terdengar suara Wisanggeni yang turut meyakinkan Parvati. Mendengar perkataan ayahndanya, tanpa ragu-tagu sedikitpun, Parvati menerima kotak pemberian para sesepuh itu kemudian menyimpan dalam kepisnya,


"Selanjutnya padamu putraku Wisanggeni. Meskipun Maharani istrimu, sudah tidak dapat kamu jumpai lagi dalam perwujudan manusia, kami harap kamu sebagai suaminya tidak kemudian serta merta melupakannya. Beberapa warsa sekali, kami harap bersama dengan putrimu, kamu tetap datang ke kerajaan ular ini untuk menengoknya. Dan yang perlu kamu ingat Wisanggeni.., kamu tetap menjadi raja di kerajaan ini. Sampai kapanpun, dan jangan tolak takdirmu. Jika kali ini.., kami bisa menahan Parvati untuk tetap berada di kerajaan ini, maka kami akan melakukannya.." mendengar perkataan para sesepuh, Parvati langsung menggeser tempat duduknya. Dengan erat, gadis kecil itu berpegangan pada lengan Wisanggeni.


"Parvati tidak mau ayahnda.., Parvati akan bersama dengan ibunda Rengganis.." terdengar rengekan keluar dari bibir gadis kecil itu.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang memisahkanmu dari ibunda Rengganis Parvati.. tenanglah. Jaga sikapmu.." perkataan Wisanggeni akhirnya menenangkan perasaan gadis kecil itu.


**********


__ADS_2