
Sesuai dengan kesepakatan, pada dini hari Tarjono, Sayogyo dan Prastowo sudah menunggu di depan penginapan. Mereka tidak mau terlambat, sehingga sebelum tengah malam, mereka sudah menyanggongi munculnya Chakra Ashanka dari dalam penginapan. Tiba-tiba dari dalam penginapan, seorang pelayan mengantarkan Chakra Ashanka keluar dari dalam penginapan. Tanpa melihat sekitar terlebih dahulu, anak muda itu bergegas turun ke halaman. Melihat kemunculan anak muda itu, ketiga teman Chakra Ashanka bergegas mendatangi anak muda itu.
"Terima kasih paman.., kembalilah ke dalam! Cukup paman mengantarkan saya sampai disini saja." Chakra Ashanka menghentikan pelayan yang akan mengikutinya. pelayan itu sudah mendapat pesanan dari pemilik penginapan, untuk melayani anak muda itu.
"Baik anak muda..., paman akan kembali ke dalam. Semoga perjalanan anak muda bisa sampai di perguruan kembali dengan selamat, tidak ada aral melintang di jalan." pelayan itu membungkukkan badan, dan Chakra Ashanka memberi laki-laki itu sebuah bungkusan kecil.
"Apa ini anak muda..?" laki-laki itu menanyakan isi dari bungkusan yang diberikan anak muda itu.
"Sedikit paman.., gunakan untuk membeli keperluan keluarga paman di rumah. Sekali lagi terima kasih.." Chakra Ashanka kemudian berjalan meninggalkan laki-laki tersebut. Dengan penuh rasa haru, laki-laki itu menyimpan bungkusan yang diberikan oleh Chakra Ashanka, kemudian berbalik dan masuk ke dalam penginapan kembali.
"Ashan..., kami disini.." terdengar suara yang memanggil anak muda itu. Chakra Ashanka melihat ke arah panggilan itu berasal, kemudian mendatangi ketiga teman yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Kalian sudah ada disini. Baiklah.., kita segera berangkat. Mumpung masih dini hari, tidak akan banyak yang menghalang kita di jalan. Nanti jika jalanan mulai ramai, kita bisa mencari penginapan untuk mengistirahatkan badan kita." ucap Chakra Ashanka menjawab perkataan ketiga rekannya itu.
Tanpa beristirahat, keempat laki-laki itu kemudian berjalan pelan. Mereka sengaja berjalan pelan, di tempat itu. Setelah sampai di hutan, baru mereka akan berlari cepat. Beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di perbatasan kota tersebut. Terlihat beberapa penjaga masih berjaga memperhatikan orang yang beberapa masih melewati tempat tersebut.
"Mau kemana kalian..?" seorang penjaga mendatangi mereka berempat, kemudian menanyakan tujuan mereka.
__ADS_1
"Maaf paman.., kami akan menuju wilayah Timur.." dengan sopan Sayogyo mewakili rombongan menjawab pertanyaan dari penjaga.
"Tidak bisakah kalian menunggu hari telah terang terlebih dahulu..? Kalian tahu bagaimana keadaan hutan, banyak binatang buas yang akan datang menghampiri kalian.." penjaga itu menasehati Sayogyo, agar mereka menunda keberangkatan mereka untuk memasuki hutan lebat di depan mata mereka.
"Sudah menjadi tekad kami paman.., kami ingin menghemat waktu perjalanan kami. Dengan menempuh perjalanan di malam hari, kita akan jarang bertemu dengan keramaian, sehingga dapat lekas sampai untuk menuju ke tempat yang menjadi tujuan kami." Sayogyo membuat alasan. Laki-laki itu memandang pada keempat anak muda yang berdiri di depannya itu. Chakra Ashanka dan yang lain tersenyum sambil menganggukkan kepala,
"Baiklah.., yang penting aku sudah menasehati kalian. Jaga diri kalian..," akhirnya paman itu membukakan pintu gerbang sebagai jalan untuk keluar keempat anak muda itu. Tanpa menunggu lagi, Chakra Ashanka dan ketiga temannya langsung berjalan keluar. Sesampainya di pinggir hutan.., Chakra Ashanka mengajak ketiga temannya untuk melompat menembus kegelapan, dengan dia berada paling belakang mengawal mereka.
********
Beberapa hari perjalanan, akhirnya Singa Resti menghentikan terbangnya dan mulai menukik turun. Gerbang penyambutan awal untuk masuk ke perguruan Gunung Jambu sudah terlihat di depan mata. Sebenarnya tanpa melewati pemeriksaan di gerbang pertama, Wisanggeni dan Rengganis bisa memasuki gerbang karena mereka bisa membuka tabir yang menutupi jalan untuk masuk ke padhepokan. Tetapi, untuk melatih semua orang yang berkepentingan pada perguruan tersebut, Wisanggeni selalu memberi contoh yang baik.
"Auuuummm.." suara auman panjang menjawab perkataan Wisanggeni. Orang-orang yang berada di bawah terkejut mendengar suara auman harimau. Tetapi begitu melihat binatang peliharaan pemiliki perguruan Gunung Jambu, mereka merasa lega. Sudah sangat lama, mereka tidak melihat kemunculan Wisanggeni dan Rengganis di tempat itu. Kali ini, seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan, mereka bisa bertemu dengan pemilik dan pengasuh perguruan tersebut.
"Kang Wisang yang berjalan di depan, Nimas mengikut di belakang Akang saja." Rengganis memegang punggung Wisanggeni. Laki-laki itu tersenyum kemudian menepuk paha Singa Resti, dan perlahan binatang itu berubah bentuk menjadi seekor kucing yang lucu. Dengan manja Singa Resti melompat ke tangan laki-laki itu, dan setelah mengusap lembut kepala kucing tersebut, Wisanggeni memasukkan Singa Resti ke dalam kepis yang ada di pinggangnya.
"Singa betina ini sekarang sangat manja Kang.., suka menikmati elusan dan usapan.." Rengganis memberi komentar tentang binatang itu.
__ADS_1
"Iya Nimas..., Akang juga merasakannya. Mungkinkan binatang ini sedang hamil...?" tiba-tiba Wisanggeni menanyakan sesuatu yang mengejutkan Wisanggeni. Rengganis menatap manik mata hitam milik Wisanggeni, dan laki-laki itu tersenyum..
"Mungkin saja.., tapi tadi aku hanya asal bicara saja. Ayo kita segera menuju pos penjagaan, sekaligus menanyakan keadaan mereka." Wisanggeni segera meraih tangan Rengganis, kemudian mengajak istrinya berjalan di sampingnya.
Beberapa orang membungkukkan badan saat berpapasan dengan Wisanggeni dan Rengganis, bahkan beberapa mereka mengajaknya untuk berjabat tangan. Melihat kerumunan banyak orang, murid yang bertugas menjaga gerbang pertama masuk ke perguruan.., berlari melihat-lihat.
"Guru..., guru sudah datang...?" dengan muka bersinar, seorang laki-laki muda menyambut kedatangan Wisanggeni dan Rengganis. Mendengar perkataan temannya, murid lain yang sedang berada di dalam pos penjagaan berlari keluar ikut mendatangi Wisanggeni.
*****************
Di tempat peristirahatan
Para murid yang berada di wilayah perbatasan menyambut kedatangan Wisanggeni dan Rengganis dengan suka cita. Mereka tidak mengijinkan kedua orang itu untuk meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Beberapa murid menyiapkan jamuan, kemudian menghidangkan di atas lincak bambu yang ada di ruang peristirahatan tersebut.
"Mari Guru.., Nyai..., mari cicipi masakan kami..!" seorang murid menyilakan kedua orang petinggi di perguruan tersebut. Tanpa bicara Wisanggeni diikuti Rengganis segera mengambil cangkir, dan mulai menikmati minuman hangat yang disajikan untuk mereka.
"Oh iya Guru..., menurut kabar dari para murid, sepertinya Nyai Maharani sudah melahirkan seorang bayi perempuan. Tetapi.., kami belum bisa menengok bagaimana keadaan Nyai Guru dan bayinya..." tiba-tiba salah satu murid membawa kabar yang mengejutkan Wisanggeni dan Rengganis. Tetapi untungnya Rengganis segera bisa menguasai keadaan hati dan perasaannya. Sedangkan Wisanggeni yang sudah lama tidak mendengar kabar tentang istri keduanya itu, terlihat kaget. laki-laki itu melirik ke wajah Rengganis.
__ADS_1
***************