
Terlihat Sekar Ratih dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, kembali membalurkan ramuan herbal yang sudah ditumbuk ke tubuh Wisanggeni dan Rengganis. Chakra Ashanka melihatnya sambil tersenyum. Setelah melihat gadis muda itu sudah selesai menutup seluruh bagian tubuh orang tuanya, perlahan anak muda itu mendekat kepadanya,
"Apakah sudah selesai Nimas.." tanpa melihat ke wajah Sekar Ratih, Chakra Ashanka bertanya pada gadis muda itu. Tangannya ikut meratakan ramuan yang terlihat kurang rata.
"Sudah kang Ashan.. apakah kakang akan melakukannya lagi. Jika iya, Nimas akan memanggil Raden Bhadra untuk membantu kang Ashan meminjamkan kekuatan energinya untuk membuat paman Wisang dan Bibi Rengganis agar segera sadar kakang.." melihat Chakra Ashanka yang tampak duduk bersila di samping Wisanggeni dan Rengganis yang masih terbaring pingsan, Sekar Ratih bertanya kepadanya.
"Tidak perlu Nimas Ratih.. temani kakang saja disini. Raden Bhadra dan Nimas Putri tidak memiliki kewajiban untuk merawat ayahnda dan ibundaku. Mereka sudah terlalu banyak mengeluarkan energi dan kekuatannya untuk membantu ayahnda dan ibunda.. Biarkan mereka beristirahat sekarang.." ucap Chakra Ashanka menolak tawaran yang diusulkan Sekar Ratih.
Sekar Ratih terdiam, gadis muda itu sibuk menuangkan madu yang dibawakan oleh Ki Bawono, ketika laki-laki yang akan didatangi oleh WIsanggeni dan Rengganis itu datang. madu itu selalu dicampurkan oleh Sekar Ratih ketika membuat baluran ramuan untuk dioleskan di tubuh pasangan suami istri itu. Dengan adanya madu tersebut, baluran ramuan tidak menjadi terlalu keras, tetapi menjadi lebih memiliki tarik ulur untuk bisa digerakkan, anggota tubuh Wisanggeni dan Rengganis.
"Minumlah sedikit madu ini kakang.. untuk menambah stamina dan kekuatan kang Ashan.." Sekar Ratih mengulurkan sedikit madu pada Chakra Ashanka.
"Terima kasih Nimas.., kamupun juga memerlukannya. Minumlah juga.." anak muda itu mengambil madu yang disiapkan oleh Sekar Ratih, kemudian dengan sekali tegukan, Chakra Ashanka menelannya,
Beberapa saat kemudian.. laki-laki itu sudah masuk pada posisi semedinya. Satu telapak tangannya diarahkan di dada ayahndanya, dan satunya lagi menempel di dadanya sendiri. Dari samping, Sekar Ratih hanya melihat pada laki-laki di sampingnya itu. Sesekali gadis muda itu akan menghapus keringat yang terlihat berada di kening laki-laki muda itu.
__ADS_1
********
Bhadra Arsyanendra tersenyum melihat Ayodya Putri yang tampak mengendalikan perasaannya. Laki-laki muda itu tahu dan mengerti, jika gadis muda itu sangat cemburu melihat kedekatan antara Sekar ratih dan Chakra Ashanka. Tetapi Bhadra Arsyanendra juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Chakra Ashanka melakukan hal itu, karena sudah sejak lama hubungannya dengan Sekar Ratih memang sudah dekat, sebelum Ayodya Putri datang dan masuk dalam kehidupan mereka.
"Nimas Putri.. kenapa tidak mencari buah-buahan atau membuat makanan untuk kita menikmati makan siang saja.." untuk memberikan hiburan pada gadis muda itu, Bhadra Arsyanendra mengalihkan perhatian Ayodya Putri.
gadis muda itu menoleh ke arah Bhadra Arsyanendra, dan bertanya dengan mengisyaratkan pada wajahnya. Untungnya anak muda itu memahami apa yang dimaksudkan oleh Ayodya Putri.
"Maksudku begini Nimas.. temanilah aku. Kita akan turun sedikit ke bawah bukit, kita akan mencari makanan untuk kita berempat. Karena tidak ada yang dapat untuk kita lakukan membantu mereka. Lihatlah. Chakra Ashanka sudah menyalurkan energi kekuatannya pada paman Wisang dan Bibi Rengganis. Sedangkan Sekar Ratih, gadis itu juga membantu laki-laki itu. Dari pada kita tidak memiliki kegiatan, bagaimana jika kita berdua turun dan mencari bahan makanan." dengan cepat dan merasa khawatir jika gadis muda itu tersinggung dengan perkataannya, Bhadra Arsyanendra segera memberikan penjelasan.
Ayodya Putri terdiam sejenak, namun kemudian gadis itu melihat ke wajah laki-laki yang berada di dekatnya itu,
Dari tempatnya duduk, Bhadra Arsyanendra tersenyum melihap sikap perempuan muda itu. Namun tidak ada yang dilakukannya, selain berjalan mengikuti gadis muda itu dari belakang.
************
__ADS_1
Arya dan Dananjaya terkejut melihat kecepatan dan kesigapan Parvati. Berada di belakangnya untuk memberikan pengawalan pada gadis muda yang baru saja mereka kenal itu, membuat mereka hampir beberapa kali kehilangan jejak gadis muda itu. Untungnya beberapa kali juga, Parvati harus berhenti untuk menunggu mereka.
"Tidak bisakah kalian berdua berjalan mengikutiku dengan lebih cepat. Beberapa kali, kalian sampai harus kehilangan jejakku bukan.." merasa sudah beberapa kali, Arya dan Dananjaya kehilangan dirinya, Parvati berhenti dan bertanya pada dua laki-laki muda itu.
"Kecepatanmu sangat trengginas Nimas.. kami berdua sampai tidak sanggup untuk mengejarmu. Ada baiknya Nimas mengurangi kecepatan, agar kita tetap bisa berjalan dan berlari secara bersama-sama. Bukankah hal itu juga akan membuat kita menjadi lebih aman Nimas.." sambil tersenyum kecut, dan nafas yang masih ngos-ngosan, Arya menanggapi perkataan parvati.
"Kang Arya.. perjalanan kali ini bukan hanya untuk kita bermain-main kakang.. Nimas ingin segera bertemu dan mengetahui keadaan ayahnda Wisanggeni, dan juga kabar ibunda Rengganis. Sehingga kita tidak bisa hanya membuang-buang waktu saja.." namun Parvati terlihat kurang menyetujui dengan usulan yang disampaikan oleh Arya,
"Iya kang Arya.. perkataan Nimas Parvati ada benarnya juga. Mungkin kita saja yang kurang berusaha untuk mengerahkan kemampuan kita. Jika sebagai seorang gadis saja, Nimas Parvati bisa berlari lebih cepat, Danan yakin kita sebagai laki-laki juga tidak akan kesulitan untuk mengimbanginya.." Dananjaya ikut berbicara. Mendengar perkataan adik laki-lakinya, Arya tersenyum kecut. Tidak ada lagi pilihan bagi dirinya, selain mengikuti perkataan dua anak muda itu.
"Hmm... baiklah Nimas Parvati, rayi Dananjaya. Benar perkataan kalian.. mungkin upayaku saja yang masih kurang untuk mengimbangi kalian berdua. Baiklah.. tidak perlu dilanjutkan lagi, aku akan mencobanya. Bagaimana.. apakah kita akan melanjutkannya sekarang.. atau kita butuh untuk lebih banyak beristirahat dulu.." akhirnya dengan nada sarkasme, Arya menyetujui perkataan dua anak muda di depannya itu.
Dananjaya tersenyum dan merasa kurang nyaman dengan perkataan kakangmasnya. Tetapi dengan isyarat di matanya, laki-laki itu memohon maaf pada kakangmasnya.
"Baiklah jika semua sudah setuju, sepertinya benar apa yang dikatakan kang Danan.. Kita sudah cukup untuk istirahat di tempat ini, sudah saatnya kita untuk melanjutkan perjalanan. Firasatku mengatakan tidak akan lama lagi, kita sudah akan sampai di tempat yang akan kita tuju. Tinggal satu bukit lagi di depan.." Parvati mengutarakan firasat yang sudah diterimanya.
__ADS_1
Kedua anak muda itu segera mensejajarkan diri dengan Parvati. Setelah ketiganya sepakat, mereka kemudian saling menganggukkan kepala. Merasa tidak ada lagi yang mereka tunggu, ketiga anak muda itu segera berlompat dan berlari meninggalkan tempat tersebut.
************