Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 448 Menyerap Energi


__ADS_3

Anak-anak muda yang kemudian disusul oleh warga kampung yang tua berlarian menuju ke padang rumput. Mereka hanya berani berdiri di tepian padang rumput, dan tidak memiliki kekuatan untuk masuk ke dalam padang rumput tersebut. Dari kejauhan, mereka melihat ada sinar terang yang bergolak dari dalam goa, dan teriakan-teriakan dari sesepuh mereka yang ditawan di dalam goa terdengar sangat mistis dan mengerikan.


"Gendhon..., apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kekuatan kuno itu sedang mengamuk Gendhon, yang akan bisa menghancurkan perkampungan kita.." salah satu anak muda bertanya dengan cemas pada Sukendro.


"Jaga bicaramu Gogor.. pasangan suami istri itu, Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis akan membebaskan kampung kita dari kutukan. Mereka sedang berusaha, dan aku yakin saat ini keduanya sedang berada di dalam goa tempat leluhur kita ditawan. Kita harus bersabar, dan mendoakan agar mereka berhasil membebaskan para sesepuh desa kita ini." Sukendro yang masih berpikiran positif, mencoba menenangkan teman-temannya. Anak muda itu memiliki keyakinan jika pasangan suami istri yang dibawanya itu, akan berhasil membebaskan kampung mereka dari bayang-bayang kekejaman kekuatan kuno Gerombolan Alap-alap.


"Baik gendhon.. semoga harapan kita untuk membebaskan para leluhur kita segera terkabul," anak muda itu kembali diam, dan berdiri di samping Sukendro,


Dari pinggir padang rumput, warga Alas Kedathon yang sudah berhasil berkumpul di tempat tersebut, meskipun tengah malam melihat pergolakan yang terjadi di dalam goa. Mereka tidak memiliki cukup kekuatan energi untuk dapat masuk ke dalam. Jadilah.. mereka hanya dapat melihat dari kejauhan, dan berharap semoga permasalahan yang selalu menyelimuti kampung mereka segera pergi dan hilang.


Ki Sancoko dan beberapa sesepuh kampung berjalan memasuki padang rumput. mereka sudah menyadari jika Wisanggeni dan Rengganis saat ini tengah berada di salah satu goa tersebut. Mereka berencana untuk membantu menyalurkan energi mereka menghadapi kekuatan hitam tersebut. Tetapi belum sampai mereka di mulut goa, sebuah angin panas menghempas mereka ke belakang. Beberapa sesepuh segera mencari pegangan untuk bertahan, sekaligus mengeluarkan kekuatannya untuk melindungi diri mereka dari terjangan angin panas tersebut.


"Aaaaakhh... panas sekali..." teriak salah satu sesepuh. Tubuh sesepuh Alas Kedhaton itu terhuyung ke belakang dengan cepat. Rupanya, ketika para sesepuh yang lain mendapatkan batu besar untuk berpegangan, laki-laki itu kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Ki Sancoko segera melompat, kemudian menyalurkan energi untuk menetralisir serangan angin panas itu. Sesepuh itu akhirnya dengan susah payah berhasil kembali menguasai keseimbangannya. Semakin lama orang-orang itu berada disitu, dan ketika akan mencoba memasuki goa, kembali angin kencang dengan udara panas menghantam ke tubuh mereka. Akhirnya mereka hanya menelan ludah, sambil terus mengamati keadaan di dalam goa tersebut.


"Kita buang dulu keinginan kita memasuki goa, kekuatan hitam terlalu besar untuk dapat kita hadapi dengan kekuatan kita. Pasangan suami istri itu memiliki kekuatan energi yang luar biasa, mereka sanggup melakukan meditasi di dalam goa tersebut. Padahal lihatlah.. kekuatan hitam tampak terus menyerang mereka berdua.." melihat semacam nyala api besar yang berusaha memasuki tubuh pasangan suami istri itu, Ki Sancoko hanya bisa berdoa dan berharap.


Akhirnya para sesepuh warga kampung hanya menunggu di luar goa. Mereka segera duduk bersila, dan melakukan meditasi seperti yang dilakukan Wisanggeni dan Rengganis.


********


Dalam meditasinya, Rengganis menggunakan telepati mengajak suaminya Wisanggeni berbicara. Mata kedua orang itu terpejam, tetapi hati mereka melakukan pembicaraan tentang apa yang akan mereka lakukan. Kekuatan yang saat ini mereka hadapi, betul-betul memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk dapat mereka kendalikan. Karena kekuatan itu seperti dikendalikan oleh sesuatu yang tidak nampak.


"Bersabarlah dulu Nimas... kita masih harus menyesuaikan dulu tubuh kita dengan energi pekat di dalam goa ini. Saking lamanya kekuatan hitam ini berada di dalam goa ini, ternyata menjadikan kekuatan ini menjadi semakin kuat, kakang masih berpikir bagaimana kita akan menanganinya." sahut Wisanggeni.


Wisanggeni merasakan banyak energi polos dari luar goa yang tertarik masuk ke dalam, energi itu berasal dari warga kampung Alas Kedhaton yang tanpa mereka sadari telah diserap oleh kekuatan hitam di dalam goa ini. Tetapi dengan keadaannya saat ini, tidak mungkin Wisanggeni akan memberi tahu dan memperingatkan orang-orang itu.

__ADS_1


"Apakah kita perlu menggabungkan kekuatan kuno dari trah Jagadklana dengan kekuatan kuno dari Eyang Widjananrko kakang.. Menurut Nimas, hanya itulah satu-satunya cara untuk dapat menghancurkan kekuatan hitam di hutan ini.." tiba-tiba Rengganis memiliki sebuah usulan.


Wisanggeni terdiam dengan usulan itu. Memang mereka bisa saja mengeluarkan kekuatan kuno yang mereka warisi dari masing-masing leluhur mereka, tetapi akan ada dampak yang akan sangat merugikan bagi mereka. Bahkan apapun dampaknya, Wisanggeni sendiri belum bisa mengukur dan mengetahuinya.


"Bagaimana Kakang... Nimas semakin tidak bisa menahan diri untuk kembali mencoba menyerap dan memusnahkan kekuatan hitam ini." Rengganis terus berusaha mempengaruhi suaminya.


"Nimas... tenanglah dulu, Beri kakang waktu untuk berpikir, tidak akan baik dampaknya jika kita memaksakan kekuatan kuno yang kita miliki, karena akan membawa akibat yang sangat mengerikan. Tunggulah sebentar.. sepertinya kakang sudah mulai bisa mengenali sifat dari kekuatan hitam ini." Wisanggeni masih meminta istrinya untuk bersabar.


Rengganis diam, perempuan muda itu kembali mengeluarkan energi yang dimilikinya. Sangat jelas terlihat oleh mata, kabut putih yang mengelilingi tubuh Rengganis membuat batas atau jarak dari kekuatan hitam dari kekuatan kuno Gerombolan Alap-alap. Kedua energi itu saling bertabrakan, dan tanpa sadar energi Rengganis terserap masuk pada energi hitam tersebut.


Seperti tersentak, Wisanggeni tiba-tiba membuka matanya dengan cepat. Laki-laki itu merasakan pergolakan di samping tempatnya duduk, dan juga merasakan energi istrinya perlahan-lahan mulai melemah.


"Hmmm... apa yang kamu lakukan Nimas.. kamu bisa menghabisi energimu sendiri. Kekuatan hitam ini tidak bisa kita remehkan, kita harus lebih berhati-hati." dari samping Wisanggeni bergumam. Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala melihat ketidak sabaran Rengganis.

__ADS_1


Wisanggeni kemudian mengangkat kedua tangannya, kemudian menangkupkan keduanya dan meletakkan di depan dadanya. TidakĀ  lama kemudian, tampak energi mengalir keluar dari tangan laki-laki itu, kemudian Wisanggeni meletakkan telapak tangan kanannya ke punggu Rengganis. Aliran energi hangat mengurangi rasa sesak yang dirasakan oleh Rengganis. keduanya melakukan hal itu untuk waktu yang lama, dan akhirnya energi kekuatan hitam yang menempel pada kekuatan Rengganis terlepas.


**********


__ADS_2