
Rengganis melihat suaminya yang tampak tidak fokus beristirahat. Dengan mata berlinang, Rengganis memahami beban berat yang dirasakan oleh suaminya. Perlahan gadis muda yang sedang mengandung itu mengusap pelan wajah Wisanggeni, kemudian perlahan meninggalkannya tidur sendiri. Di kegelapan malam, tubuh Rengganis menyelinap pergi.
"Maharani.., bangunlah! Ini aku Rengganis." tanpa ada yang menduga, tidak lama kemudian, Rengganis sudah berada disamping Maharani tidur.
"Aku sudah bangun Nimas Rengganis.., karena aku memiliki firasat jika Nimas akan menemuiku. Malam ini aku menunggumu, dan akan menerima titah darimu." perlahan, Maharani segera bangun dari tidurnya. Perempuan itu segera duduk di depan Rengganis, keduanya duduk saling bertatapan.
Rengganis melihat ke mata Maharani, meskipun setiap hari manusia dari suku ular itu terlihat mengabaikannya, tetapi tidak sedikitpun tampak sinar kelicikan di matanya yang redup. Melihat dengan seksama ke wajah Maharani.., Rengganis baru menyadari jika perempuan itu memiliki kecantikan yang memikat. Pengabdian dan kepasrahan Maharani untuk suaminya Wisanggeni, terkadang membuat sesak dan rasa cemburu di hati Rengganis. Tetapi melihat peliknya masalah yang harus mereka hadapi di tempat itu saat ini, Rengganis memutuskan untuk mengambil sikap.
"Apa yang kamu titahkan padaku Nimas? Bicaralah.., tanpa pikir panjang aku akan menyetujuinya. Bagaimanapun aku juga menyadari, jika hati dan perasaan Paduka hanya untukmu Nimas Rengganis." ucap Maharani perlahan. Perempuan itu mencoba menyembunyikan perasaannya.
Rengganis menarik bahu Maharani dengan menggunakan kedua tangannya., tiba-tiba Rengganis memeluk Maharani dengan erat.
"Aku tidak akan egois Maharani.., berbagilah Kang Wisang denganku!" kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Rengganis sangat mengejutkan Maharani. Perempuan dari suku Ular itu langsung menaikkan kembali tubuhnya dari pelukan Rengganis. Matanya tidak percaya, dia menatap ke wajah Rengganis.
Sinar mata perih tampak di wajah Rengganis, tetapi gadis muda istri Wisanggeni mencoba berusaha untuk tersenyum padanya.
"Apakah kamu menganggapku orang gila Nimas..? Aku bisa menyayangi Paduka, yang aku tahu jika Paduka sudah menjalin ikatan suci denganmu." dengan lirih..., Maharani bertanya pada Rengganis.
"Tidak Maharani.., suamiku memang memiliki sesuatu, yang bisa membuat setiap gadis yang pernah bersamanya akan terjerat. Aku menyadarinya sekarang.., dan akan terlalu egois jika aku akan memilikinya sendiri." ucap Rengganis. Kedua tangan Rengganis, tiba-tiba dia letakkan diatas bahu Maharani.
__ADS_1
"Aku melamarmu untuk suamiku Maharani.. Aku rela berbagi kang Wisang denganmu.., ikatkanlah janji sucimu untuk Kang Wisang." perlahan dengan suara bergetar, Rengganis meminta Maharani untuk menjadi pasangan untuk suaminya. Maharani terkejut dengan ketegaran Rengganis memintanya untuk berbagi suami dengannya.
"Tidak Nimas... Apa yang kamu bicarakan.., kembalilah ke tempat dimana Paduka saat ini berada. Jangan menjadikan aku menjadi seorang perempuan yang merebut hati pasanganmu." tidak diduga oleh Rengganis, Maharani menolak tawaran darinya. Tetapi jika, ikatan antara Maharani dan suaminya tidak segera dilakukan, maka mereka masih akan terkurung di tempat ini. Entah sampai kapan.
Rengganis kembali memeluk erat tubuh Maharani.., telapak tangannya mengusap punggung Maharani dengan lembut.
"Lakukanlah Maharani.., jika selama ini kamu bisa menahan perasaanmu, saat melihatku dan Kang Wisang bersama, aku juga akan mencobanya." bisik Rengganis di telinga Maharani. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Maharani.
"Berjanjilah untukku Maharani.., kita sama-sama berkorban untuk satu tujuan. Kita harus dapat terbebas dari tempat ini sesegera mungkin." kembali Rengganis mengajak Maharani untuk berjanji.
Melihat keteguhan Rengganis untuk meyakinkannya, Maharani melepaskan pelukan kembali. Matanya kembali melihat ke arah mata Rengganis, dan istri Wisanggeni itu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Akhirnya, Maharani turut menganggukkan kepala dan kembali keduanya berpelukan. Air mata kembali menetes di pipi Rengganis.
**********
"Masuklah Kang Wisang.., Nimas tahu jika saat ini Akang ada diluar." terdengar suara Rengganis meminta Wisanggeni untuk masuk ke dalam.
Dengan lesu, laki-laki muda itu menurut pada Rengganis. Perlahan kakinya mulai masuk ke tempat istirahat Maharani. Tampak istrinya duduk di samping Maharani, tetapi gadis dari suku ular tidak berani untuk menatap matanya.
"Maharani mengucapkan salam Paduka.." dengan suara lirih, Maharani mengucapkan salam pada Wisanggeni. Tetapi laki-laki itu diam, dia tidak membalas salam yang diberikan oleh Maharani.
__ADS_1
Tiba-tiba sambil tersenyum kecut, Rengganis meraih telapak tangan Wisanggeni dan Maharani, dan meletakkan di atas satu tangannya. Perlahan Rengganis menautkan kedua telapak tangan itu menjadi satu.
"Kang Wisang.., Nimas sudah menanyakan dan berbicara dengan Maharani." ucap Rengganis memcah kesunyian.
"Apa yang sudah kalian bicarakan Nimas?" dengan tatapan penuh kelembutan, Wisanggeni bertanya pada Rengganis. Tangan Wisanggeni menyibakkan rambut yang menutupi wajah Rengganis.
"Maharani sudah bersedia untuk menjalin ikatan suci denganmu Akang. Barusan Nimas menanyainya." seakan tanpa beban, Rengganis menyampaikan kabar untuk Wisanggeni.
Wisanggeni terdiam, dia hanya terus memandangi wajah istrinya. Meskipun Rengganis berusaha keras untuk menutupi rasa tertekannya, tetapi Wisanggeni dapat menemukannya. Perlahan Wisanggeni memeluk Rengganis, dan memberikan kecupan di kening Rengganis. Maharani menyaksikan itu dengan hati yang perih.
"Besok pagi.., Rengganis akan menyampaikan pada Guru kang Wisang untuk menghentikan sementara penyempurnaan terowongan jiwa. Kita akan menyelenggarakan upacara untuk mengikatkan Kang Wisang dengan Maharani." tanpa menunggu tanggapan dari Wisanggeni, Rengganis sudah membuat sebuah pengaturan. Maharani tidak mampu menatap Wisanggeni. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
"Kamu atur saja Nimas.., tapi yang perlu kalian berdua ingat. Ikatan janji ini bukan berasal dariku, jikalau di kemudian hari, akan muncul kekacauan karena hal ini. Jangan salahkan Akang! Apakah kalian berdua sanggup berjanji?" mengingat keukeuhnya Rengganis jika sudah mengambil sebuah keputusan, Wisanggeni membuat penegasan.
"Nimas akan mengingatnya Akang. Ikatan janji besok pagi terjadi karena keinginanku, tanpa adanya pengaruh dari Kang Wisang. Untuk itu, Nimas sendiri yang akan menyampaikan hal ini pada para sesepuh." kata Rengganis tegas. Wisanggeni tidak menanggapi perkataan itu. Ketiga orang itu kembali terdiam. Setelah beberapa saat, ...
"Baiklah.., hari sudah malam. Istirahatlah.." setelah menyampaikan perkataan ini, Wisanggeni langsung mengangkat tubuh Rengganis dan membawanya keluar. Dalam kegelapan malam, keduanya kembali menghilang.
Sepeninggalan Wisanggeni yang besok pagi akan mengikatkan janji dengannya dan Rengganis, Maharani menatap kepergian mereka dengan hati sesak.
__ADS_1
"Inikah takdir yang harus aku jalani Sang Hyang Widhi?" rintih Maharani dalam kesunyian. Perlahan Maharani kembali membaringkan tubuh dan mencoba memejamkan matanya.
***************