
Perhelatan yang diadakan di padhepokan Gunung Jambu akhirnya berlangsung dengan meriah. Acara yang semula direncanakan dengan sederhana, ternyata dilaksanakan secara gemerlap. Meskipun tidak bisa datang menghadiri acara perayaan, keluarga Dananjaya mengirimkan mahar yang terdapat banyak barang mewah di dalamnya. Sambil menutup mulutnya, Parvati dan keluarga tidak mempercayai apa yang mereka lihat di depan mereka. Barang-barang dari kerajaan bumi Sriwijaya terlihat mewah, dan banyak didominasi warna emas, dikirimkan menuju ke padhepokan Gunung Jambu dengan dibawa oleh orang-orang yang memiliki banyak keahlian.
"Kang Danan... apa yang keluarga kakang lakukan.., kenapa kakang tidak menceritakan sebelumnya tentang hal ini kepada Nimas kakang..?" Parvati tidak percaya menatap ke mata Dananjaya. Gadis itu betul-betul tidak percaya dan merasa tidak diajak bicara oleh suaminya.
"Aku dan keluargaku tidak akan mempermainkan keluargamu Nimas.. hal ini merupakan bukti kecil dari keseriusanku untuk memintamu untuk menjadi pendampingku Nimas.. tidak akan ada tipuan, ataupun kebohongan antara kita di masa depan." sambil menggenggam tangan gadis itu, Dananjaya membalas tatapan Parvati. Dari tempat duduk bagian depan, Arya dan orang-orang dari bumi Sriwijaya lainnya menatap pasangan suami istri dengan senyum kebahagiaan.
"Keluargamu terlalu memandang tinggi keluargaku nak mas Arya.. dengan jarak sejauh itu, bagaimana keluargamu bisa menyiapkan. Bahkan dapat mengirimkan ke padhepokan dengan tepat waktu.." dengan mata berkaca-kaca karena kebahagiaan, Rengganis mengucapkan terima kasih pada Arya sebagai perwakilan keluarga dari pihak menantunya.
"Tidak perlu diambil hati Bibi.. itu hanya keseriusan dari pihak keluarga kami. Rayi Dananjaya betul-betul menginginkan Nimas Parvati untuk mendampingi hidupnya di masa depan, kami dari semua keluarga sangat mendukung keputusan itu. Nama paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis yang sangat harum, sampai tembus di bumi kami, menjadi juga faktor kebahagiaan dari keluarga kami untuk menyambut Nimas Parvati.." Arya dengan sikap santun menanggapi perkataan Rengganis.
Pasangan suami istri Wisanggeni dan Rengganis menyambut para tamu dari bumi Sriwijaya itu untuk beberapa saat. Setelah merasa tidak ada lagi hal penting yang akan mereka bicarakan, pasangan suami istri itu mendatangi keluarga Sekar Ratih yang juga didatangkan dari lereng gunung. Meskipun mereka dari keluarga yang kurang mampu, tetapi pasangan suami istri itu tetap memperlakukan keluarga besan mereka dengan sangat baik.
"Den bagus.. den ayu.. sungguh merasa terhormat keluarga kami bisa naik derajat seperti ini. Kami tidak percaya jika keluarga ini bisa menerima putri kami Nimas Sekar Ratih dengan sangat baik, bahkan sudah memperlakukannya seperti putri keluarga ini." ayahnda Sekar Ratih menyampaikan beberapa perkataan pada keluarga Wisanggeni.
__ADS_1
"Tidak bisa berbicara seperti itu kakang.. Saat ini kita adalah sederajat, tidak ada beda di antara kita. Hyang Widhi juga tidak membeda-bedakan siapa yang menjadi pengikutnya. Dan ini sedikit dari keluarga kami, dan dengan harapan keluarga kakang dapat menerimanya, dan tidak menilai dari barang yang kami berikan sebagai pihak pengantin laki-laki. Kami meminta Nimas Sekar Ratih untuk putra kami Chakra Ashanka.." Wisanggeni tetap menjalankan paugeran tata krama untuk meratukan menantu perempuan. Perhiasan diberikan oleh keluarga Wisanggeni sebagai tanda keseriusan mereka meminang Sekar Ratih.
"Kenapa keluarga ini terlalu berlebihan.. sudah sangat baik pada keluarga kami.." dengan air mata dan dada sesak, tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu, kedua orang tua Sekar Ratih menangis terisak.
Wisanggeni dan Rengganis tersenyum, kemudian merengkuh tubuh pasangan suami istri di depannya itu. Kedua kakang Sekar Ratih juga turut merasa haru, keduanya menatap rayi perempuannya bersanding dengan Chakra Ashanka di pelaminan dengan tidak percaya.
********
"Ayahnda.. ibunda.. Nimas Parvati dan rayi Dananjaya.. Ashan dan Nimas Ratih ijin untuk kembali ke kerajaan Logandheng. Tugas disana sudah menunggu untuk segera Ashan selesaikan.. untuk itu kami berdua mohon pamit untuk kembali.." dengan penuh haru, putra pertama pasangan Wisanggeni dan Rengganis berpamitan pada keluarganya.
"Pergilah putraku.. sebagai seorang laki-laki pantang untuk mengambil kembali janji yang pernah kamu ucapkan. Kamu sudah sempat berjanji untuk membantu Bhadra Arsyanendra memimpin kerajaan Logandheng. Untuk itu, tepatilah untuk beberapa warsa. Namun jika kejenuhan atau kebosanan sudah datang menghampirimu.., kembangkan dulu Logandheng, baru pamitlah dengan baik-baik." Wisanggeni menasehati putranya.
"Baik ayahnda.. doaku putra ayahnda dan ibunda Rengganis bisa manjalankan amanah dengan baik, dan tidak mengecewakan warga kerajaan Logandheng." dengan penuh takzim, Chakra Ashanka menyanggupi untuk melaksanakan pesan-pesan dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Jika kita meninggalkan sebuah tempat dengan sebuah kebaikan, maka nama kita akan dikenang dengan kebaikan pula. Namun sebaliknya.. jika hanya keburukan yang kita tinggalkan maka, hanya keburukan pulalah yang akan berkumandang. Ingatlah kisah tentang Gerombolan Alap-alap, karena kejahatannya dimanapun nama mereka menimbulkan ketakutan, dan juga membawa sebuah aura keburukan." Rengganis ikut menambahkan,
"Kami berdua akan selalu mengingatnya ibunda.. sebisa mungkin dengan semua jiwa raga Ashan dan juga Nimas Ratih, kami akan berjuang dalam kebaikan. Doa ayahnda dan ibunda, yang selalu Ashan dan Sekar Ratih nantikan. Kali ini kami benar-benar mohon pamit untuk undur diri." Chakra Ashanka memeluk kedua orang tuanya, kemudian mencium kedua tangan pasangan suami istri itu.
Di belakang laki-laki itu, Sekar Ratih yang sudah memiliki status baru sebagai istri dari Chakra Ashanka mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya. Dengan penih keharuan, Wisanggei dan Rengganis juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kepada putranya sendiri.
"Rayi Dananjaya.. aku titipkan Parvati adikku kepadamu Rayi.. Ambillah beban dan tugas untuk menjaga dan melindunginya, sama seperti yang selalu aku lakukan ketika gadis ini belum memiliki suami. Berjanjilah.. jangan sia-siakan rayiku. Jika terjadi sesuatu pada perkawinan kalian, dan antara kalian berdua tidak bisa mempertahankannya, kembalikan Nimas Parvati kepada keluargaku. Jangan sia-siakan dia.." dengan penuh haru, Chakra Ashanka memasrahkan Parvati pada Dananjaya.
"Yakinlah kang Ashan.. Dananjaya tidak akan pernah sedikitpun membuat kecewa Nimas Parvati. Dengan segenap jiwa dan raga, rayi akan menjaga istri Dananjaya." Dananjaya juga mengucap janji pada Chakra Ashanka.
Kedua anak muda itu saling berpelukan, dan air mata tampak mengalir deras di kelopak mata Rengganis dan Parvati. Selama ini mereka sering berpisah, namun tidak pernah terjadi hal yang mengharukan seperti ini. Tetapi perpisahan kali ini, seperti sangat sedih bagi mereka.
***********
__ADS_1