Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 127 Dia Sudah Pergi


__ADS_3

Merasa malu dengan apa yang sudah dilakukan tadi malam, Maharani dengan cepat mendorong Wisanggeni dengan mengerahkan semua kekuatannya. Tubuh Wisanggeni dengan cepat terdorong ke depan mengejar teman-temannya yang lain. Sepeninggalan Wisanggeni, senyuman samar muncul di bibir Maharani, dan dengan cepat tubuhnya berubah bentuk menjadi seekor naga, dan segera menyelusup pergi.


"Terima kasih Paduka.., Maharani tidak akan mengganggu lagi kehidupan Paduka dan Nimas Rengganis." ucap pelan manusia ular itu, tampak kesedihan samar di wajahnya yang sudah berubah bentuk menjadi kepala naga.


"Semoga kita masih bisa ditakdirkan untuk bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda." ketika kebimbangan muncul, apakah akan mengikuti rombongan keluar atau mencari jalan keluar yang berbeda, akhirnya dengan mantap Maharani mengambil jalan yang lain.


***********


Beberapa waktu, Wisanggeni masih berdiri di depan terowongan jiwa. Mereka sudah berhasil menembus terowongan tersebut, dan sudah kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Bahkan Rengganis yang masih menunggunya, menatap suaminya dengan pandangan yang berbeda. Terlihat suaminya tampak gelisah, melihat ke dalam terowongan jiwa yang masih terbuka.


"Tutuplah terowongan jiwa ini muridku.., jika tidak akan bisa mendatangkan celaka bagi manusia lainnya!" perlahan Cokro Negoro menepuk pelan punggung Wisanggeni, saat melihat anak laki-laki itu masih berdiri dengan keraguan melihat ke dalam terowongan jiwa. Masih jelas terlihat pusaran angin yang tampak dari dalam, tetapi sedikitpun dia tidak bisa mendeteksi bahkan baunya dari Maharani.


"Sudah tidak ada lagi kehidupan di dalamnya, apakah kamu menunggu Maharani?" kembali Cokro Negoro dengan suara lirih bertanya padanya.


Wisanggeni menatap mata Cokro Negoro.., kemudian perlahan laki-laki itu menganggukkan kepala.


"Maharani sudah pergi, jangan kamu khawatirkan gadis itu. Manusia dari suku ular itu memiliki banyak cara untuk dapat membebaskan dirinya. Menurutku, mungkin gadis itu merasa malu dengan kita, sehingga dia memutuskan untuk berpisah dan meninggalkan kita." kalimat terakhir yang diucapkan gurunya, seperti menotok hati Wisanggeni. Bagaimanapun, dia sudah mengambil keuntungan dari gadis itu. Tidak akan bijak, jika kemudian dia mencampakkannya begitu saja.


"Guru.., bagaimanapun Maharani. Gadis itu sudah menjadi istri Wisang.., sama sejajar dengan Nimas Rengganis. Wisanggeni tidak bisa berlaku tidak adil dengannya. Ijinkan sebentar lagi, Wisang menunggunya Guru!" dengan suara lirih, Wisanggeni meminta waktu untuk menunggu Maharani.

__ADS_1


Cokro Negoro tersenyum.., kemudian laki-laki tua itu memberi tepukan di punggung Wisanggeni kemudian berjalan meninggalkan laki-laki itu sendiri. Cokro Negoro mengarahkan langkahnya ke hadapan Rengganis, terlihat jelas di matanya jika gadis itu sedang menitikkan air mata. Meskipun Rengganis berusaha keras untuk menyembunyikannya, tetapi mata tuanya bisa melihatnya dengan jelas.


"Bagaimana kang Wisang .. Guru? Apakah masih ada yang dia tunggu?" tanya Rengganis pelan.


"Temani suamimu Nimas.., sedikitpun jangan salahkan dia! Menjadi kewajiban bagi Wisanggeni untuk bisa berlaku adil denganmu dan Maharani. Mereka sudah terikat dengan janji suci, temanilah dia!" dengan lembut dan senyuman yang tersungging, Cokro Negoro berpesan pada Rengganis.


"Baik Guru.., Nimas akan menerima semuanya dengan hati lapang." meskipun ada rasa pedih dalam perasaanya, Rengganis tersenyum dan meyakinkan Cokro Negoro.


"Kamu juga tidak perlu khawatir Nimas.., Maharani sudah pergi. Sampai kapanpun Wisanggeni menunggunya, gadis itu tidak akan pernah keluar dari terowongan jiwa itu," ucap Cokro Negoro kemudian meninggalkan Rengganis sendiri.


***********


"Nimas.., kamu masih menungguku?" dengan tatapan bersalah, Wisanggeni terkejut saat Rengganis menghampirinya.


"Akang.., Nimas adalah istri Akang. Sampai kapanpun, dan dalam keadaan apapun, Nimas tidak akan meninggalkan Kang Wisang sendiri. Nimas sangat memahami perasaan kang Wisang.., tapi sampai kapan Akang bertahan disini." dengan lembut, Rengganis berbicara dengan Wisanggeni.


Mendengar kalimat yang terucap dari bibir Rengganis, sontak membuat Wisanggeni terkejut. Perlahan laki-laki itu menatap pada mata Rengganis.


"Maafkan Akang Nimas.., Akang hanya mencoba untuk berlaku adil. Tetapi Akang lupa, jika disini Akang menyakiti hatimu Nimas." perlahan jari Wisanggeni mengusap pipi, dan genangan air mata di kelopak mata Rengganis.

__ADS_1


"Akang tidak salah.., Maharani sekarang ini sudah menjadi istri Akang. Gadis itu juga memiliki hak yang sama denganku, hak untuk mendapatkan perlakuan dari Akang. Tapi.., sepertinya Maharani sudah memilih jalan lain Akang. Mungkin dia memiliki jalan pikirannya sendiri.., tetapi Nimas yakin jika suatu saat kita pasti akan dipertemukan dengannya kembali." ucapan Rengganis menyadarkan Wisanggeni. Mata batinnya sebenarnya sudah mengatakan jika sudah tidak lagi kehidupan di dalam terowongan, tetapi dia berusaha untuk menyangkalnya.


"Baiklah Nimas..., mundurlah sebentar! Akang menutup kembali terowongan jiwa ini, hanya kekuatan akang yang bisa digunakan untuk menutupnya." Wisanggeni meminta Rengganis untuk mengambil jarak darinya.


"Tapi.., Nimas ingin membantu Akang.." Rengganis berusaha menolaknya. Tetapi Wisanggeni segera mendekatinya kemudian membawanya sedikit menjauh dari pusaran terowongan jiwa itu.


"Tugasmu saat ini lebih berat Nimas.., kamu harus memastikan bahwa anak kita akan baik-baik saja." Wisanggeni mengusap perut Rengganis perlahan, kemudian memberikan ciuman di atasnya. Setelah melihat istrinya tenang, laki-laki itu kemudian berjalan meninggalkannya.


Di depan terowongan jiwa, Wisanggeni kembali mengeluarkan simbol-simbol dengan menggunakan jari-jari tangannya. Perlahan bola matanya berubah menjadi warna ungu, dan tarikan nafasnya pun juga mengeluarkan sulur-sulur berwarna ungu.


"Swooshh.., pfuuuff.." tangan laki-laki itu berputar-putar membentuk lingkaran energi yang berupa angin. Perlahan energi yang sudah terbentuk di tangannya, dia arahkan pada lingkaran di depan terowongan jiwa. Kejadian seperti itu dia lakukan secara berulang-ulang, sampai perlahan-lahan energinya berkurang. Keringat Wisanggeni tampak mulai mengalir membasahi bajunya, tetapi laki-laki itu tetap berusaha untuk menutup terowongan jiwa itu.


"Aakkh.. Kekuatan Pasupati... blummm.." dengan menggunakan kekuatan Pasupati, Wisanggeni mendorong dengan kencang lingkaran energi yang terbantuk tadi. Perlahan..., gelombang jiwa itu mulai menutup. Laki-laki itu menyipitkan matanya, dan dengan kekuatan penuh membuat gerakan dengan kembali memutar gerakan tangannya. Sebuah energi yang terlihat mengerikan muncul di tangannya, dan memiliki kekuatan membunuh.


"Emmm... blooommm.." sebuah ledakan terdengar saat energi yang besar itu dia kirimkan pada terowongan jiwa yang sudah menutup. Tidak berapa lama, terowongan jiwa itu perlahan menghilang. Dan menghilangnya terowongan itu, dibarengi dengan ambruknya tubuh Wisanggeni ke belakang.


"Akang..." dengan menjerit, Rengganis yang membawa perut besarnya segera menghampiri suaminya yang terbaring di atas tanah. Perempuan itu langsung meraih pergelangan tangan suaminya,..


"Terlalu banyak energi yang dikeluarkan Kang Wisang. Aku harus membantunya untuk memulihkan kembali."

__ADS_1


*****************


__ADS_2