
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, dan seperti membentuk sebuah pusaran badai. Angin tersebut mengarah pada pohon-pohon di hutan, sehingga banyak terjadi pohon-pohon bertumbangan, Karena tempat berteduh mereka terbawa pusaran angin, Pangeran Abhiseka memberi isyarat pada dua pengawal dan Singa Ulung untuk turut berteduh di gua yang digunakan Wisanggeni untuk mengolah obat. Sebelum mereka mencapai ke tengah ruangan gua, Pangeran Abhiseka merentangkan kedua tangannya menahan kedua pengawal untuk masuk ke dalam. Laki-laki itu tidak mau mengganggu fokus dan konsentrasi Wisanggeni.
"Duduklah dulu sementara disini, jangan membuat keributan. Kita harus memastikan bahwa Wisanggeni dapat menyelesaikan pembuatan obat untuk keturunannya." Pangeran Abhiseka mengucap lirih. Kedua pengawal itu mengikuti apa yang dikatakan oleh Pangeran, kemudian keduanya duduk berjejer di samping laki-laki itu. Singa Ulung berdiri di depan gua, sambil matanya terarah pada pusaran badai yang tidak kunjung berhenti.
Beberapa saat mereka duduk terdiam, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan perilaku yang ditunjukkan Singa Ulung. Seperti ketakutan, binatang itu tiba-tiba lari masuk ke dalam gua, kemudian merapatkan tubuhnya ke dinding gua yang terbuat dari batu hitam. Belum sempat Pangeran Abhiseka dan kedua pengawal menyadarinya, pusaran badai tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam gua. Ketiga orang itu berpegangan erat pada batu-batuan gua yang banyak terdapat di pinggir dinding gua. Tetapi keanehan terjadi, tidak satupun batu-batuan, bahkan yang berukuran kecil yang terseret oleh pusaran badai tersebut. Pusaran badai itu terlihat hanya menumpang untuk melewati tempat itu, sama sekali tidak merubah suasana di dalam gua.
Menyaksikan hal tersebut, ketiga orang itu saling berpandangan, dan melihat ke mata Singa Ulung yang terlihat masih tampak ketakutan. Tiba-tiba terdengar suara di tempat Wisanggeni melakukan pengolahan obat,.. tetapi mereka tanpa ada panggilan dari Wisanggeni mereka tidak berani untuk melakukan tindakan apapun. Mereka hanya saling berpegangan untuk saling menguatkan.
**********
Di ruang Tengah Gua
Wisanggeni masih memfokuskan pandangan dan gerakan tangannya untuk mengolah ramuan obat yang sudah dia persiapkan dari tadi. Tangannya terus berputar-putar, dan terkadang membentuk sebuah simbol untuk meningkatkan efek obat yang sedang dia olah. Tiba-tiba dari bibir laki-laki itu membentuk sebuah senyuman, tatkala matanya menatap sekejap ke arah pintu gua karena mendengar suara badai yang mengamuk. Ternyata tanpa dia sadari, pembuatan obat untuk penguat keturunannya bisa mendatangkan amukan badai seperti itu. Dengan cepat badai itu menerjang masuk ke dalam gua.., dan..
__ADS_1
"Krosakk..., bruuumm.." tiba-tiba pusaran badai melesat masuk ke tempat pembuatan obat, dan berpadu dengan esensi naga perak dan bahan-bahan lainnya. Kencangnya pusaran badai tersebut sampai membuat tubuh Wisanggeni terpental ke belakang. Untungnya laki-laki itu tetap waspada, sehingga meskipun tubuhnya terpental ke belakang, pandangan mata dan fokus aura kebatinannya tetap terarah pada pembuatan obatnya.
"Ufftt..., hops...." Wisanggeni mengambil nafas dalam, perlahan laki-laki itu bergerak maju ke depan dan duduk kembali di tempat semula. Matanya menyipit melihat pusaran badai berputar-putar mengelilingi wadah untuk membuat obat tersebut.
"Klak.." tiba-tiba pengaduk ramuan itu terpental keluar, dan sebelum jatuh ke tanah, tangan Wisanggeni langsung meraihnya dengan cepat. Pusaran angin yang semula berputar dengan perlahan, tiba-tiba berubah menjadi sangat cepat sampai akan menerbangkan olahan ramuan tersebut.
"Siuuuwww...., hap.." dengan cepat Wisanggeni mengeluarkan tenaga dalamnya. Aura perak bercampur warna ungun dan keemasan membentuk sebuah kabut, dan dengan cepat menyelimuti wadah pengolahan obat. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, sampai laki-laki itu hampir kehabisan nafas pil belum juga terbentuk.
*********
Keesokan Paginya
Wisanggeni masih berada dalam proses pengolahan obat. Tetapi pusaran badai yang mengacaukan pengolahannya sudah hilang. Saat ini laki-laki itu hanya mengikuti putaran di dalam wadahnya. Lambat laun, beberapa butir pil sudah mulai tampak terlihat. Hanya saja, pil itu masih berwujud barang kasar, yang belum bisa untuk disebut sebagai sebuah pil. Masih membutuhkan waktu untuk menyempurnakan ramuan itu menjadi sebuah pil yang halus.
__ADS_1
Seperti yang sudah diperkirakan Wisanggeni sebelumnya, aroma pembuatan pil ternyata menyebar ke berbagai pelosok hutan. Di luar gua, mulai banyak berdatangan para ahli persilatan dari berbagai perguruan. Tetapi melihat Singa Ulung yang dengan tatapan garang menghadang mereka di pintu masuk menuju gua, membuat beberapa orang itu hanya mengamati dari kejauhan. Mereka datang ke wilayah ini, karena diundang oleh rasa penasaran yang mereka miliki. Sudah beberapa waktu, mereka tidak melihat secara langsung ada pendekar yang sedang memurnikan sebuah pil, kali ini mereka bisa mencium aroma harum itu dari kejauhan.
Pangeran Abhiseka dan kedua pengawal berjalan keluar dan berdiri di samping Singa Ulung. Mata tajamnya diedarkan ke sekeliling gua, mencoba untuk menembus di sela-sela pohon-pohon yang telah tumbang. Melihat beberapa orang yang seperti sedang bersembunyi, laki-laki itu tersenyum sinis. Perlahan Pangeran Abhiseka menurunkan kakinya ke depan gua, dan berdiri dengan gagah di depan gua tersebut.
"Bang.., bang..." baru berdiri di depan gua beberapa saat, tiba-tiba sebuah serangan dikirimkan seseorang ke arah Pangeran Abhiseka. Andhika dan Jatmiko segera mengambil langkah siaga, mereka melompat mencoba untuk mengamankan Pangeran Abhiseka.
"Keluarlah.., jangan menjadi seorang pecundang, hanya berani bermain di belakang." suara tegas Pangeran Abhiseka terdengar menggaung di sela-sela pepohonan. Matanya dengan tajam melirik ke arah tempat berasalnya serangan yang dikirimkan kepadanya. Tetapi sesaat tidak ada Pangeran Abhiseka tidak merasakan ada pergerakan di sekitar tempat itu.
"Baik.., jika kalian memilih untuk menjadi pecundang, maka aku tidak akan segan untuk bertindak kasar kepada kalian. Sekali lagi aku melihat ada yang mengirim serangan kepadaku, maka tidak akan ada ampun bagi kalian semua." karena tetap tidak ada respon apapun, setelah membuat sebuah pernyataan, Pangeran Abhiseka segera kembali masuk ke dalam gua.
"Ha.., ha..., ha..., seorang anak kemarin sore, mencoba untuk memberi gertakan pada kami." tiba-tiba terdengar suara laki-laki tua yang tertawa terbahak-bahak. Laki-laki itu tiba-tiba muncul dan melompat ke depan gua.
**********
__ADS_1