Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 374 Dia Memiliki Kepuasan


__ADS_3

Dengan senyuman Chakra Ashanka mendatangi ketiga perempuan yang menunggunya di bawah pohon, di tangan kanan anak muda itu terlihat keping join yang ditenteng di tangannya. Ayodya Putri bergegas berdiri dan menghampiri anak muda itu, kemudian mengambil alih tentengan keping koin itu. Kedua orang berjalan menghampiri Rengganis danĀ  Sekar ratih yang menunggunya.


"Ha.., ha.., ha.. ternyata tebakan Bibi Rengganis memang tepat kang Ashan, sekali putaran permainan saja, kakang bisa memenangkan undian itu. Banyak lagi keping koin yang kakang dapatkan.." sambil tertawa, Sekar Ratih memuji keberuntungan anak muda itu,


"Iya Nimas Ratih.., kebetulan aku beruntung kali ini. Bagaimana ibunda.. apakah jadi semua keping koin ini Ashan berikan pada orang-orang di sana?" Chakra Ashanka menunjuk pada beberapa pengemis yang menengadahkan tangan, meminta belas kasih orang-orang yang lalu lalang di depannya,


"Jadi putraku.., kita tidak boleh membawa keping koin itu ke rumah. Jika kita tetap melanggarnya, maka hanya akan ada celaka yang menimpa kita. Keping koin seperti itu tidak diijinkan untuk kita simpan, berikan saja pada mereka yang berhak untuk menerimanya." Rengganis menjawab pertanyaan putra laki-lakinya.


"Baik bunda.., ayo Nimas Ratih, Nimas Putri.. temanilah aku. Kita akan membagikan keping koin ini pada pihak-pihak yang memang membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya." anak muda itu segera mengajak kedua gadis itu untuk ikut bersamanya.


Ketiga anak muda itu segera berjalan meninggalkan Rengganis, yang tetap duduk sambil memperhatikan mereka. Perempuan itu tersenyum, dan merasa jika perjalanannya kali ini sekaligus untuk memberikan pelajaran bagi anak-anak muda itu. Sudah terlalu lama, mereka hanya berada di padhepokan Perguruan Gunung Jambu, sehingga jarang berinteraksi dengan orang lain di luaran.


Beberapa saat ketiga anak muda itu berjalan, mereka sudah akan sampai di tempat pengemis berada. Namun, tanpa mereka sadari tiba-tiba ada orang yang merampas keping koin yang dibawa Ayodya Putri, kemudian membawanya berlari. Secara reflek, gadis muda itu melompat dan berlari mengejar orang yang mengambil bungkusan keping koin dari tangannya.


"Srett.." hembusan angin menerpa Chakra Ashanka, ketika gadis muda itu berlari meninggalkannya. Anak muda itu tersenyum, sambil memandang punggung Ayodya Putri.

__ADS_1


"Kang Ashan.. Nimas Putri berlari meninggalkan kita, Sepertinya gadis itu mengejar orang yang merampas keping koin di tangannya. AYo kita bantu gadis itu kakang... kasihan.." dengan panik, Sekar Ratih mengajak Chakra Ashanka untuk mengejar gadis muda itu.


Tetapi anak muda itu tidak bergeming, Chakra Ashanka malah berdiri sambil bersedekap, dan masih melihat ke arah Ayodya Putri berlari mengejar penjambret bungkusannya, Sekar Ratih menjadi diam dan heran melihat reaksi yang ditunjukkan oleh anak muda itu.


"Kang... kasihan Putri, kenapa kita tidak memberi bantuan kepadanya." dengan perasaan polos, Sekar Ratih bertanya pada anak muda itu.


"Biarkan Ratih.. lihatlah sebentar lagi. Putri memiliki kekuatan yang lumayan besar, hanya saja gadis itu menyembunyikannya. Aku dapat melihatnya, dari terpaan angin karena larinya gadis itu mengejar penjambret." tangan Chakra Ashanka memberhentikan Sekar Ratih yang sudah akan ikut berlari mengejar Ayodya Putri. Dengan tatapan bingung, Sekar Ratih menatap Chakra Ashanka.


"Kita tunggu saja disini beberapa saat, tidak lama lagi Nimas Putri pasti akan segera kembali ke tempat ini." sambil tersenyum, anak muda itu kembali meyakinkan gadis kecil itu.


********


"Sudah kepalang tanggung, aku tidak mungkin lagi untuk menekan kekuatanku. Aku harus segera menyelesaikan urusan ini, dan mengembalikan bungkusan keping koin kepada kang Ashan.." sambil berlari mengejar, gadis muda itu berpikir keras.


"Srett.. tap.." akhirnya dengan sekali lompat ke depan, tangan Ayodya Putri bisa menjangkau punggung laki-laki yang merampas bungkusannya.

__ADS_1


"Pak.. dukk... krekk.. akh.." dengan sekali putar, tangan gadis muda itu menangkap tangan laki-laki itu, kemudian memelintirnya cepat. Tidak menunggu waktu lama, laki-laki itu sudah tidak berkutik di tangan gadis muda itu.


"Serahkan bungkusan itu kembali padaku..., atau akan aku patahkan tangan dan kakimu." dengan nada mengancam, Ayodya Putri meminta penjambret itu mengembalikan barang yang telah dia rampas.


"Ha.., ha..., ha... berhentilah untuk berpikir naif gadis binal.. Tidak akan pernah ada yang bisa lepas dari tanganku, jika sesuatu sudah lekat dan berada dalam genggamanku. Apalagi bungkusan ini, dan jangan kamu pikir hanya karena kamu memelintir tanganku, aku sudah jatuh lemah dan tertunduk di hadapanmu. Itu sama saja dengan mimpimu yang terlalu tinggi. Cih..." dengan tertawa terbahak, penjambret itu menolak untuk memberikan barang yang sudah dia rampas.


"Mmm.. begitu ya.. aku akan ladeni apa keinginanmu manusia rendah. Aku hanya inginkan bungkusan di tanganmu itu, kamu kembalikan kepadaku, karena barang itu bukanlah kepunyaanmu." Ayodya Putri masih menanggapi obrolan itu dengan nada tinggi.


"Ha.., ha..., ha... bermimpilah.." laki-laki itu kembali tertawa keras, dan tidak diduga, dengan sekali hentak laki-laki itu bisa melepaskan diri dari cengkeraman gadis itu. Mata Ayodya Putri terbelalak, tapi gadis itu tetap mencoba untuk bersabar. Tatapan matanya dengan tajam menatap laki-laki yang berdiri di depannya dengan pandangan meremehkan.


"Kamu sudah menguji kesabaranku manusia kotor.. Tunggulah.." sambil mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, Ayodya Putri memundurkan kakinya satu langkah ke belakang. Seperti gerakan orang menari, tiba-tiba tubuh gadis itu melompat ke atas dan melambung tinggi.


"Hekh.. ho.ek...brukk.." tiba-tiba tendangan keras dari Ayodya Putri bersarang keras di punggung laki-laki itu. Tanpa penjagaan, laki-laki itu terhuyung dan akhirnya jatuh tersungkur ke depan. Dengan cepat laki-laki itu terbangun, satu sikunya mengusap darah yang menetes dari satu sudut bibirnya.


"Sundal juga kamu ternyata... Terimalah Ajian Jari Membengkak... dariku..." begitu laki-laki itu selesai mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba jari-jari tangannya membesar dan berwarna merah. Dengan senyum sinis dan merasa puas melihat keadaan jarinya yang sudah mengembang, laki-laki itu melangkah mendekati Ayodya Putri.

__ADS_1


"Bang..., bang... plasshh..." laki-laki itu mengayunkan jari-jarinya ke depan, dan berbenturan dengan kaki Ayodya Putri. Tubuh gadis itu terhuyung ke belakang merasakan benturan itu, namun dengan cepat Ayodya Putri menstabilkan kembali berdirinya. Dengan sudut matanya, gadis itu melirik laki-laki itu, yang terus mengayun-ayunkan kepalan tangannya untuk mengancam Ayodya Putri,


**********


__ADS_2