Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 180 Runtuh


__ADS_3

Melihat bagaimana Wisanggeni menghajar Gajahrosa tanpa terkena serangan sedikitpun, orang-orang yang berada di sekitar itu tidak ada yang berani untuk menganggunya. Akhirnya laki-laki itu bisa beristirahat dan menggunakan bulu-bulu lembut Singa Ulung  sebagai bantal untuk menghangatkan tubuhnya. Angin dingin tidak bisa dicegah terus berhembus, mengingat mereka saat ini berada di lereng sebuah bukit. Baru saja sesaat Wisanggeni memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara keras berdentum di seberang bukit.


"Sudah terbuka jalannya..." tiba-tiba suasana di sekitar menjadi ricuh, terdengar teriakan seseorang yang mengatakan jika jalan sudah terbuka. Tidak memahami maksud dari perkataan itu, Wisanggeni menoleh pada Sumpeno dan Santosa mencoba untuk mencari tahu. Tetapi ternyata kedua temannya itu juga tidak mengetahui apa yang terjadi, keduanya hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.


Melihat orang-orang yang ada di sekitar mereka berjalan menuju ke arah sumber suara, Wisanggeni dan dua orang temannya hanya memandang orang-orang itu dengan penuh tanda tanya. Tetapi Wisanggeni seperti merasakan satu firasat, jika dia seperti tidak diperkenankan mengikuti orang-orang tersebut. Laki-laki itu hanya terdiam, memandang orang-orang yang mulai berjalan meninggalkannya,.


"Bagaimana Wisang.., apakah kita akan mengikuti mereka, atau kita menunggu saja disini. Melihat banyaknya orang menuju ke pinggir bukit itu, kenapa ya, tiba-tiba aku menjadi ragu untuk menuju kesana." tiba-tiba Sumpeno juga merasakan hatinya kurang nyaman melihat banyak orang menyusuri pinggiran bukit.


"Kita akan melihat dulu saja.., akupun memiliki firasat yang sama Sumpeno. Seperti akan ada yang terjadi, dan aku tidak tahu apakah orang-orang itu akan bisa menyelamatkan diri mereka." Wisanggeni menanggapi perkataan Sumpeno, matanya yang tajam memandang orang-orang yang terus berjalan meninggalkan mereka.


Akhirnya mereka bertiga tetap berbaring di tempat mereka semula. Hanya saja kali ini.., mereka mengalihkan pandangan mereka dengan melihat orang-orang yang menaiki pinggiran bukit. Satu persatu.. orang yang ada di sekitar mereka, perlahan mulai habis. Mereka semua tertarik untuk melihat dan mendatangi ke sumber suara, mereka ingin melihat ada apa di balik suara keras yang berdentum itu.


"Sretttt..." tiba-tiba tanpa sengaja, Wisanggeni melihat sesuatu yang bergerak cepat menuju ke arah bukit. Saking cepatnya, Wisanggeni tidak bisa menduga, makhluk apa yang baru saja lewat di sampingnya. Ketika Wisanggeni melihat ke arah Sumpeno dan Santosa, ternyata mereka berdua tidak menyadarinya.


"Ada apa Wisang.., sepertinya kamu sedang berpikir sesuatu?" tiba-tiba melihat ekspresi penasaran Wisanggeni, Santosa bertanya pada laki-laki itu.

__ADS_1


"Tidak Santosa.., mungkin hanya perasaanku saja, Kita tetap berada disini dulu.., sepertinya tidak lama lagi, kita akan melihat sebuah pemandangan yang bisa kita tonton dari sini." tidak mau membuat kedua rekannya khawatir, Wisanggeni sengaja tidak menceritakan apa yang barusan dia saksikan. Ketiga orang itu kembali terdiam, dan mencoba untuk memejamkan matanya.


"Grubyakkk...., brukkk..." di tengah malam yang sepi, mereka kembali mendengar sesuatu yang ambrol dan runtuh, Wisanggeni dan kedua temannya itu, sontak membuka matanya dengan cepat. Mereka mengucek mata mereka, berusaha tidak mempercayai apa yang mereka lihat di depan mereka. Terlihat dengan jelas, jalanan di pinggir tebing ternyata tidak kuat menahan beban banyak orang yang menaiki bukit tersebut. Jalanan bersemak yang mereka lewati ternyata ambrol dan runtuh ke bawah. Banyak orang berjatuhan ke bawah, dan beberapa berpegangan dengan batu-batuan di pinggir tebing yang masih bisa mereka raih.


*********


Wisanggeni bersama dengan Sumpeno dan Santosa melihat reruntuhan tanah pinggiran tebing dengan hati yang tidak bisa digambarkan. Mereka menahan nafas, mereka berpikir bagaimana jika mereka tadi mengikuti orang-orang itu dengan cepat penasaran, dan langsung beramai-ramai menaiki bukit. Saat ini di tengah kegelapan, mereka hanya melihat orang-orang itu berjatuhan ke bawah.


"Apa yang harus kita lakukan Wisang?" bisik Santosa dengan nafas tersengal.


Sumpeno menganggukkan kepala menyetujui pendapat yang disampaikan Wisanggeni. Akhirnya mereka bertiga melanjutkan tidur mereka yang berkali-kali terganggu. Singa Ulung berjaga tidak melanjutkan tidurnya, karena binatang itu merasakan akan ada bahaya yang mengintai mereka di tempat itu.


******


Keesokan Hari

__ADS_1


Sinar matahari dari sela-sela dedaunan pohon-pohon besar, menyorot ke wajah tiga orang yang masih tertidur lelap dengan bersandar di batang pohon besar. Perlahan ketiga orang itu, serentak segera bangun dari tidurnya.


"Aku akan ke sungai dulu untuk membersihkan badan, baru kita akan melihat-lihat keadaan," Wisanggeni berbicara pada kedua temannya.


"Kita pergi bersama-sama saja Wisang.., kita hanya bertiga. Tidak baik jika kita saling meninggalkan dan terpisah satu dengan lainnya." Sumpeno berdiri, diikuti oleh Santosa. Mereka menatap bekas tanah yang ambrol, dan melihat kondisi yang ada di depannya, mereka merasa begidik menyaksikan orang-orang yang terhempas ke bawah.


"Tidak perlu kita lihat lagi, nanti kita memikirkan untuk mencari jalan lain untuk menuju ke puncak bukit. Mungkin ada maksud, kenapa tanah di pinggir tebing bisa ambrol." sambil berjalan, Wisanggeni segera mengajak Sumpeno dan Santosa untuk segera bergerak menuju ke sungai yang ada di bawah. Mereka berpikir untuk segera melanjutkan perjalanan, dan mencari jalan baru untuk menuju ke puncak bukit.


Melihat bening air di sungai, mereka segera menceburkan tubuh mereka. Seperti biasa, Wisanggeni sekaligus menangkap beberapa ekor ikan untuk mereka mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah mendapatkan beberapa ekor ikan, Wisanggeni segera menyiapkan perapian, dan mulai membuat api. Setelah beberapa saat, bau harum ikan bakar menggoda Sumpeno dan Santosa, kedua laki-laki itu segera naik ke atas sungai.


"Mungkin kita bisa melewati tebing di atas itu untuk naik ke atas, Sepertinya di dekat air terjun itu, kita bisa hati-hati memanjat lewat batu-batuan itu." Wisanggeni menunjuk ke arah sisi air terjun. Sumpeno dan Santosa menengok ke arah yang ditunjukkan oleh Wisanggeni. Mereka kemudian segera menghabiskan ikan yang sudah selesai mereka masak.


"Ayo Wisang, Santosa.., sebelum panas matahari turun dan menyengat. Mungkin kita akan mencoba untuk memanjat tebing itu. Semoga kita bisa melewatinya dengan selamat." Sumpeno segera berdiri dan mengajak Wisanggeni dan Santosa untuk segera berangkat.


*************

__ADS_1


__ADS_2