Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 427 Permintaan Maaf


__ADS_3

Orang-orang yang mengerubungi pemilik penginapan merasa terkejut, mereka melihat ada dua telapak tangan tercetak di pipi majikan mereka. Merasa malu dengan sikap keras yang ditunjukkan Rengganis, laki-laki itu melompat dan berdiri di depan Rengganis. Tatapan mata laki-laki itu berwarna merah, dia merasa malu karena ditampar oleh seorang perempuan di depan anak buahnya.


"Lancang sekali sikapmu perempuan.. untung saja statusmu bisa mneyelamatkanmu dari amarahku. Apabila kamu ini laki-laki aku tidak segan untuk membalas perbuatanmu padaku. Tetapi karena kamu merupakan perempuan yang berwajah cantik, aku masih memiliki maaf padamu, asalkan kamu mau memenuhi keinginanku.." laki-laki itu masih merayu Rengganis.


Rengganis menatap laki-laki bermata merah itu dengan memberikan cibiran padanya. Senyumannya terlihat meremehkan, dan seakan menganggap laki-laki itu bukan apa-apa di depannya. Wisanggeni mengajak putrinya Parvati mundur ke belakang, untuk melihat bagaimana kemampuan laki-laki itu menghadapi istrinya Rengganis.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku cantik.." sambil tersenyum mesum, laki-laki pemilik penginapan itu mengangkat tangan kanannya ke atas, dan akan digunakan untuk mencolek dagu Rengganis. Namun, belum sampai tangan itu menyentuh dagu perempuan itu, tiba-tiba..


"Aaaawww... lepaskan tanganku.." laki-laki pemilik penginapan itu berteriak kesakitan. Dengan cepat, Rengganis memegang tangan laki-laki itu kemudian memutarnya, dan pemilik penginapan itu tidak mampu melepaskannya.


"Huh.. hanya gerakan lembut dari seorang perempuan cantik saja, kamu sudah berteriak kesakitan.. Apakah kamu ingin merasakan kekuatanku yang lain.." dengan mencibir, Rengganis mengejek laki-laki itu.


Dengan cepat dan kekuatan penuh, laki-laki itu menarik tangannya dari Rengganis, kemudian setelah berhasil terlepas, pemilik penginapan melompat ke belakang. Laki-laki itu terlihat memasang kuda-kuda.., dan tampak tangannya membentuk sebuah formasi. Rengganis tersenyum menatapnya, tidak sedikitpun terlihat ada rasa ketakutan melihat sikap yang dilakukan oleh laki-laki yang berdiri di depannya itu.


"Roda bergerigi Iblis... datanglah.." sebuah teriakan terlontar dari mulut laki-laki itu. Tangan yang semula membentuk formasi itu, tiba-tiba berputar cepat dan lama kelamaan terlihat seperti sebuah roda berwarna api merah membara.


Rengganis tersenyum, satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Sebuah senyuman sinis terlihat di bibir perempuan cantik itu,.. Tiba-tiba laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Rengganis, sambil tersenyum mesum kepadanya.. Orang-orang yang semula melihat ke arah mereka, satu persatu berlari ke pinggir untuk menyelamatkan diri. Pemilik penginapan itu memang sering menggunakan ajian yang saat ini digunakannya untuk menindas dan menakut-nakuti warga desa.

__ADS_1


"Brrrr..., trap.. trap..." suara menderu muncul dari roda bergerigi di tangan pemilik penginapan itu. Angin panas menyebar ke sekitar tempat dilangsungkannya pertarungan.


"Apakah hanya permainan anak kecil saja yang bisa kamu tunjukkan kepadaku manusia berhati serakah.." Rengganis bertanya dengan mencibir. Tangan kanannya masuk ke dalam kepis, dan sebuah selendang kecil ditariknya keluar dari dalam kepis tersebut.


"Swush... bluarrr.." angin kencang keluar dari selendang yang ada di tangan kanan Rengganis, Angin itu seperti membentuk sebuah pola serangan, dan udara dingin bercampur air embun menyeruak keluar dari selendang tersebut.


Mata laki-laki pemilik itu terbelalak, ketika dengan cepat angin dingin menyentak roda bergerigi di tangan laki-laki itu. Dengan sekuat tenaga, pemilik penginapan menahan gerusan angin dingin yang seakan mengalir terus menerus dari selendang Rengganis.


"Jueglarr... aaaawww..." suara ledakan keras terdengar ketika Rengganis menggerakkan selendangnya ke atas. Roda api bergerigi di tangan laki-laki itu tiba-tiba menghilang, dan pemilik penginapan itu menjerit kesakitan.


Laki-laki itu merasa tangannya mati rasa, tangannya terlihat gosong. Api yang dimaksudkan untuk menyerang Rengganis, terlihat malah membakar tangannya sendiri. Rengganis melangkahkan kakinya lebih mendekat ke arah laki-laki itu..


"Iya.. iya.. aku sadar saat ini. Sekarang bantu sembuhkan tanganku.. aku masih membutuhkan kedua tangan ini.. Jangan ambil tanganku.. tolonglah Nimas.." pemilik penginapan itu meratap, memohon pertolongan pada Rengganis.


"Hmmm... merupakan hal yang mudah. Asal kamu mau memahami dan mematuhi persyaratannya.. Itupun kalau kamu mau dan bersedia menjalankannya. Namun jika tidak.. jangan salahkan aku.. hukum karma dan hukum alam akan berlaku pada dirimu." Rengganis mencibir pemilik penginapan itu.


"Baik.. baiklah.. aku akan mendengar dan mentaati semua persyaratanmu. Katakan padaku... cepatlah. Aku sudah tidak bisa menahan lebih lama rasa sakit ini.." pemilik penginapan terus menghiba, sambil mengibas-ibaskan tangannya sendiri.

__ADS_1


Rengganis tersenyum, ternyata hal semudah itu untuk mempengaruhi laki-laki paruh baya di depannya itu.


"Kamu harus mencabut apa yang sudah kamu umumkan pada orang-orang di kota ini. Biarkan orang-orang disini bebas berusaha tanpa ada tekanan darimu. Jika aku masih mendengar ada keluhan dari warga masyarakat, dan itu semua ada kaitannya dengan sikap dan kesombonganmu pada mereka, maka dengan mudah aku akan mencabut nyawamu." Rengganis berbicara dengan nada tinggi.


Laki-laki itu terdiam dan tampak berpikir sejenak. Tetapi karena merasa, panas di tangannya tidak bisa dia kendalikan sendiri, akhirnya..


"Aku akan melaksanakannya Nimas.. dan kamu bisa memegang janjiku ini.. Jika kamu masih mendengar ada warga yang tertindas karena ulahku.. kamu bisa memberikan hukuman kepadaku. Cepatlah Nimas.." laki-laki paruh baya itu kembali meratap.


Rengganis menoleh ke belakang, matanya mencari paman tua pemilik penginapan tempat dia menginap beserta keluarganya. Tangan Rengganis melambai, memanggil laki-laki itu lebih mendekat kepadanya.


"Ada apa Nimas memanggil paman kesini..?" laki-laki itu dengan penuh ketakutan mendekat pada Rengganis.


"Kemarilah paman.. kamu harus mendengar sendiri permintaan maaf dari laki-laki yang penuh kesombongan itu. Jika di lain waktu, laki-laki itu kembali menindasmu atau melakukannya pada warga masyarakat yang lain, maka sampaikan kepadaku. Aku tidak akan segan mengirimnya pada Dewa Kematian.." Rengganis berbicara dengan sadis.


"Baik.. terima kasih Nimas.." pemilik penginapan itu menjawab perkataan Rengganis.


"Cepat.. minta maaflah pada laki-laki ini, yang selama ini sudah kamu tindas dan kamu perlakukan buruk.." kembali Rengganis berteriak.

__ADS_1


"Badri.. aku janji tidak akan pernah lagi mengganggumu. Aku sudah menyadari kesalahanku, tolong maafkan aku, dan juga sampaikan pada warga masyarakat mengenai permintaan maafku ini." pemilik penginapan yang sombong segera meminta maaf pada pemilik penginapan tempat Rengganis menginap.


*********


__ADS_2