Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 270 Pergi Berdua


__ADS_3

Untuk memberi latihan bagaimana bertahan hidup di luar perguruan pada putranya, akhirnya Wisanggeni mengajak putranya untuk menemaninya mencari tempat untuk melakukan semedi. Dengan berat hati, Rengganis melepas kedua orang yang berarti dalam hidupnya itu dengan senyuman terpaksa. Begitu juga dengan Maharani, dengan menggendong Parvati, perempuan itu juga menghantarkan kepergian mereka. Kedua laki-laki itu sengaja menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, sambil menyapa warga masyarakat tempat mereka menginjakkan kaki.


"Dimana kita akan beristirahat ayah..?" Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni, mereka sudah berjalan kaki sekian lama dalam perjalanan. Anak laki-laki itu mensejajarkan langkahnya pada Wisanggeni.


"Di tengah hutan, kita akan melakukan istirahat putraku. Apakah kamu keberatan, dan ingin kita menginap di penginapan?" tanya Wisanggeni sambil tersenyum, ingin menguji kekuatan mental dari putra laki-lakinya itu. Di luar dugaan Wisanggeni, Chakra Ashanka tidak seperti yang ada dalam pemikirannya saat ini.


"Tidak masalah ayahnda.., tidak baik jika kita berdua beristirahat di penginapan. Kita bisa tidur di atas pohon, untuk sarana Ashan berlatih mengenal lingkungan hutan, dan beraneka binatang disana. Terakhir kali tatkala Ashan dan ketiga teman yaitu Sayogyo, Tarjono, dan Prastowo ingin menginap di sebuah goa, malah berakhir dengan dibawa pulang oleh SInga Ulung." ucap Chakra Ashankan sambil tersenyum kecut. Mendengar jawaban dari putranya itu, Wisanggeni tersenyum..


"Baiklah.., ayahnda akan memenuhi keinginanmu kali ini. Ayah akan pastikan jika malam ini, kita akan menginap di pinggir sungai. Setiap pagi dan sore, akan banyak binatang mencari minum di dekat mata air, jadi kamu bisa berlatih untuk mendekati binatang-binatang itu. Siapa tahu kamu bisa menemukan binatang peliharaan seperti Singa Ulung dan Singa Resti." Wisanggeni menanggapi perkataan putranya.


Kedua laki-laki itu kemudian tanpa bicara lagi, segera berlari menerobos kegelapan dan rindangnya hutan. Karena kecepatan mereka, tidak ada binatang yang berani menghadang mereka dalam memasuki hutan. Merasa malu dengan kekuatan yang dimiliki ayahndanya, Chakra Ashanka menahan rasa lelah dalam mengikuti kecepatan Wiisanggeni.


Tiba-tiba Wisanggeni memperlambat larinya, di kejauhan sayup-sayup telinganya menangkap suara orang yang sedang melangkah. Laki-laki itu menoleh ke belakang, untuk memberi kode kepada Chakra Ashanka untuk diam menahan gerakannya. Untungnya, anak muda itu memahami yang diinginkan oleh Wisanggeni.

__ADS_1


"Bagaimanapun juga kita harus dapat mencapai kota Laksa secepatnya. Kita harus segera melaporkan pada Pangeran Abhiseka tentang informasi ini." samar-samar terdengar orang-orang itu menyebut nama Abhiseka. Wisanggeni mengerutkan dahinya, bayangan wajah sahabatnya yang sedang tersenyum itu melintas di wajahnya. Kemudian laki-laki itu lebih menajamkan lagi pendengarannya.


"Tetapi tugas untuk mengantarkan pesan menuju perbukitan Gunung Jambu bagaimana, kita juga harus menyampaikannya kepada sahabat Pangeran Abhiseka yang bernama den bagus Wisanggeni. Apakah tidak akan menjadi masalah, jika kita mengabaikan tugas itu dengan mengutamakan informasi ini. Berita tentang munculnya fenomena alam ini sangat menarik, dan orang yang berhasil menemukannya akan dapat memiliki kemampuan yang sangat tinggi." kembali orang-orang itu melanjutkan pembicaraan.


Wisanggeni tersenyum mendengar nama dan perguruannya disebut oleh orang-orang itu. Tetapi Wisanggeni tidak kemudian menampakkan dirinya, laki-laki itu hanya menguping pembicaraan mereka. Tiba-tiba dia tertarik untuk mendapatkan informasi berita yang dibahas oleh orang-orang itu, terutama ingin memberi pengalaman pada Chakra Ashanka. Menggandeng tangan Chakra Ashanka, Wisanggeni lebih mendekat ke arah orang-orang itu.


"Menurutku tidak akan menjadi masalah. Apalagi selain kita, Yang mulia juga mengirimkan merpati untuk menyampaikan berita ke perguruan itu. Ayo kita percepat langkah kita.., karena fenomena alam itu akan muncul tiga hari dari sekarang." salah satu orang itu menanggapi perkataan temannya. Beberapa orang itu berembug, kemudian beberapa saat kemudian orang-orang itu segera berlari ke arah keluar dari dalam hutan.


************


"Apakah yang kamu dengar tidak jauh dari sini putraku?" tiba-tiba Wisanggeni bertanya pada putranya. Anak laki-laki itu terdiam, berusaha memaknai pertanyaan yang diucapkan Wisanggeni. Tetapi anak itu kemudian menajamkan pendengarannya.


"Ashan tidak mendapatkan apapun ayah. Hanya tidak jauh dari sini, terdengar seperti ada air terjun." dengan penuh tanda tanya, anak laki-laki itu mencoba menjawab pertanyaan laki-laki itu.

__ADS_1


Wisanggeni tersenyum, dan merasa puas dengan jawaban putranya, Kemampuan untuk mengenali dan mendapatkan sumber kehidupan sangat penting untuk melintasi perjalanan di hutan. Laki-laki itu tidak menanggapi perkataan putranya, tetapi mengajak putranya untuk menuju ke suara yang berhasil ditemukan oleh Chakra Ashanka.


Begitu mendekati tempat mata air dengan air terjun yang mengalir dari atas tebing, Wisanggeni terkejut. Ternyata terdapat beberapa orang yang menginap di pinggiran mata air tersebut. Tidak bermaksud untuk mengganggu mereka, Wisanggeni dan Chakra Ashanka langsung menuju ke mata air tersebut.


"Hei anak muda..., siapa kamu beraninya lewat di depan kami tidak meminta ijin kepada kami?" tiba-tiba terdengar teriakan keras seseorang pada mereka berdua. Wisanggeni berhenti dengan diiikuti Chakra Ashanka, wajah anak laki-laki putra Wisanggeni sudah merah padam menahan marah..


"Kita tidak saling mengenal, kami sudah memberi senyum pada kalian. Apakah perlu bagi kami untuk meminta ijin pada kalian karena ingin mencari air bersih." dengan nada sedikit protes, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan orang-orang itu. Wisanggeni tersenyum dan membiarkan putranya meladeni orang-orang itu.


"Tajam sekali mulutmu anak kecil. Apakah itu ajaran kedua orang tuamu padamu..., tidak menghargai orang yang lebih tua." dengan nada keras, seorang laki-laki dewasa berdiri dan melihat Chakra Ashanka dengan berkacak pinggang. Tidak diduga, tidak ada ketakutan yang terlihat dari sikap anak kecil itu. Dengan mata tajamnya, Chakra Ashanka menatap laki-laki dewasa yang menatapnya.


"Paman.., bisa tidak untuk tidak menyebut kedua orang tuaku. Hal itu sangat tidak enak terdengar di telingaku." Chakra Ashanka menanggapi ucapan yang dilontarkan laki-laki dewasa itu.


"Kebanyakan bicara kamu anak kecil... Blammm..." laki-laki dewasa itu rupanya tidak sabar meladeni bersilat lidah dengan Chakra Ashanka, sebuah pukulan jarak jauh dikirimkan oleh laki-laki itu pada putra Wisanggeni itu.

__ADS_1


Tidak diduga, Chakra Ashanka mengangkat tangannya menolak serangan yang dikirim kepadanya. Suara keras terdengar ketika terjadi benturan dua kekuatan itu. Laki-laki dewasa yang mengirimkan serangan itu terkejut dengan kekuatan anak laki-laki itu, dan sampai memundurkan langkahnya ke belakang,


**********


__ADS_2