
Rengganis tersenyum sambil menggenggam erat tangan Wisanggeni, saat dari kejauhan melihat kedekatan Niken Kinanthi dengan Pangeran Abhiseka. Meskipun perempuan muda itu sudah berhasil menjadikan Wisanggeni sebagai suami, dan sudah memiliki seorang putra dari suaminya itu, tetapi hatinya terkadang masih sering diliputi rasa cemburu. Apalagi di masa lalu, Niken Kinanthi pernah tanpa mereka sadari memiliki hubungan kedekatan emosional dengan Wisanggeni, yang meskipun secara sepihak sudah diakhiri. Tetapi melihat Niken kinanthi yang seperti setangkai bunga mawar yang sedang mekar, dan menunggu untuk dipetik seseorang, terkadang memunculkan kekhawatiran di hatinya.
"Apa yang kamu lihat Nimas.., sepertinya dari wajahmu, bisa kulihat ada kebahagiaan disana?" Wisanggeni yang belum menyadari apa yang terjadi, bertanya dengan lembut pada Rengganis.
"Tengoklah ke sisi sebelah timur Kang Wisang..., sepertinya Pangeran Abhiseka memiliki ketertarikan dengan Nimas Niken kinanthi. Bagaimana menurutmu kang, apakah ada kecocokan diantara mereka?" Rengganis menjawab pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
Wisanggeni tersenyum mendengar pertanyaan itu. Laki-laki itu bisa merasakan kegundahan dan kekhawatiran di nada bicara istrinya itu. Wisanggeni mengangkat tangan Rengganis ke atas, kemudian memberi ciuman di punggung tangan perempuan muda itu.
"Meskipun Nimas Niken KInanthi tidak secantik istri yang ada di sampingku saat ini, tetapi gadis itu masih memiliki kecocokan untuk bersanding dengan Pangeran Abhiseka. Kita doakan saja Nimas.., semoga mereka berdua bisa berjodoh. Jadi aku tidak perlu dicurigai dan diawasi terus oleh istri cantikku ini." tanpa sadar, nada bicara Wisanggeni menyindir Rengganis.
"Sebegitunya Kang Wisang menilaiku. Apakah sikap Nimas pada Kang Wisang.., bisa terlihat dan mengisyaratkan isi hatiku?" dengan polosnya, Rengganis bertanya tentang isi hati pada suaminya itu. Wisanggeni tersenyum kemudian mendekap lebih dekat pada istrinya. Sebuah ciuman di pucuk kepala Rengganis, diberikan oleh Wisanggeni. Perlakuan lembut dari suaminya itu, betul-betul melelehkan hati Rengganis, dan menambahkan keyakinan jika suaminya tidak akan berpaling lagi darinya.
"Sebenarnya hanya memilikimu saja, hatiku sudah sangat berbahagia Nimas. Kamu tahu sendiri kan kenapa aku dapat menjadikan Nimas Maharani sebagai istriku?" seperti mengingatkan pada Rengganis, bagaimana akhirnya dia dapat menikahi Maharani.
__ADS_1
"Iya kang.., Nimas sangat mempercayaimu. Maaf, jika terkadang tanpa disadari, muncul keraguan dalam hatiku. Semua terjadi karena Nimas sangat menyayangi kang Wisang." tanpa sadar, Rengganis mengutarakan perasaannya. Wisanggeni tersenyum, kemudian semakin erat memeluk tubuh Rengganis.
************
Di ujung padhepokan
Pangeran Abhiseka dan Niken Kinanthi akhirnya terlihat berbicara berdua sambil melihat cakrawala di ujung senja. Melihat wajah gadis yang tampak kesepian, dan seperti merindukan sebuah rengkuhan itu mengisyaratkan pada Pangeran ABhiseka untuk berbuat sesuatu bagi gadis itu. Perlahan Pangeran Abhiseka berjalan dan mendekatkan jarak antara dirinya dengan Niken Kinanthi.
"Nimas Niken.., bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" dengan menatap ke mata Niken, Abhiseka bertanya pada gadis itu dengan suara pelan. Niken Kinanthi mengangkat wajahnya, dan keduanya akhirnya saling berpandangan. Dengan penuh tanda tanya, tatapan gadis itu seperti mengandung pertanyaan. Melihat hal itu, Pangeran Abhiseka tersenyum kemudian meraih jari-jari tangan Niken Kinanthi.
"Maksud Pangeran..., jangan membuat hatiku penasaran?" Niken Kinanthi ingin mempertegas apa yang dimaksud oleh Pangeran Abhiseka. Perempuan muda itu tidak mau menebak apa yang diinginkan oleh laki-laki itu.
"Sudah cukup lama aku mengamatimu Nimas.. Bahkan aku juga mengumpulkan banyak tentang ceritamu di masa lalu dengan Wisanggeni. Semua sudah berlalu Nimas.., dan itu sudah terjadi di masa yang sangat lama. Tetapi meskipun demikian, tidak semudah yang kita pikir dan bayangkan. Sampai kapanpun, Wisanggeni tidak akan melanggar sumpahnya Nimas. Laki-laki itu tidak akan pernah menjadikanmu kembali ke hatinya, setelah kejadian beberapa warsa yang lalu." perkataan yang diucapkan Pangeran Abhiseka, seperti sebuah palu yang memukul hati Niken Kinanthi. Sejenak, tanpa berkata-kata, air mata tampak mengalir dari sudut mata gadis muda itu.
__ADS_1
Tanpa diduga, menggunakan jari-jari tangannya, Pangeran Abhiseka menghapus air mata itu. Kemudian jari tangan itu mengangkat dagu Niken Kinanthi, dan mengarahkan tatapan matanya untuk bertemu.
"Pangeran sudah membuka aib yang selalu ingin aku tutup dari dalam hatiku. Kejadian itu sudah sangat berlalu, dan saat itu aku masih belum berpikiran dewasa. Tetapi rupanya, kejadian itu sangat menyakiti kang Wisang dan juga keluarga paman Mahesa. Padahal perasaanku sekarang Pangeran.., aku tidak bisa dengan mudah untuk melupakan kang Wisang. Semakin aku berusaha untuk melupakan dan menghapuskannya, nama Wisanggeni semakin menancap dalam hatiku. Perasaan ini sangat menyiksaku Pangeran." Niken Kinanthi mengungkapkan perasaan yang selalu dia sembunyikan di sudut hatinya itu. Tidak bisa dipungkiri, jika kedatangannya kembali ke padhepokan ini, bukan semata-mata ingin mengabdikan hidupnya di tempat ini, tetapi tersirat harapan untuk mengabdikan hidupnya pada laki-laki yang pernah dicampakkannya di masa lalu.
Pangeran Abhiseka tersenyum, laki-laki itu memiliki niat untuk menghapuskan nama Wisanggeni dari hati perempuan muda itu. Dia ingin mengisi namanya di dalam hati Niken Kinanthi.
"Ijinkan aku Nimas..., terimalah aku. Kita akan melalui masa ini bersama-sama, dan pelan-pelan menghapuskan nama Wisanggeni dari harapan indahmu. Kita tempatkan nama Wisanggeni sebagai salah satu nama saudara kita. Bisakah Nimas.., kamu menerimaku?" tanpa ditutupi lagi, Pangeran Abhiseka dengan jelas mengungkapkan perasaanya pada perempuan muda itu.
"Tidakkah Pangeran akan menyesali tindakan ini?? Tidak akan mudah menghilangkan nama kang Wisang dari hatiku Pangeran. Aku mohon, Pangeran mencabut kembali kata-kata itu, aku tidak ingin Pangeran terluka akan kata-kata dan sikapku." Niken Kinanthi berkata lirih, dia menolak dengan sangat halus ajakan dari Paneran Abhiseka.
"Tidak akan ada penyesalan Nimas..., percayalah padaku!! Asalkan Nimas berjanji untuk membuka hati untukku, aku akan menerima semua sikap dan kata-kata yang terucap dari bibir Nimas Niken Kinanthi. Bersama-sama kita akan saling memperbaiki diri, secara perlahan kita buang kenangan-kenangan buruk dalam hidup kita. Bersama kita wujudkan mimpi indah untuk hari depan kita." tanpa pantang menyerah, Pangeran Abhiseka terus berusaha melunakkan hati gadis muda itu.
Niken Kinanthi tidak sanggup lagi berkata-kata. Dia tidak memiliki cara untuk menggagalkan perasaan yang diungkapkan Pangeran Abhiseka kepadanya. Sedangkan, Pangeran Abhiseka masih menatapnya dengan penuh harap.
__ADS_1
"Pangeran, maaf aku belum bisa memberi jawaban saat ini. Aku masih membutuhkan sedikit waktu untuk menerima atau menolak harapan yang Pangeran berikan untuk Nimas." akhirnya dengan suara lirih, Niken Kinanthi meminta waktu untuk mengungkapkan jawaban pada Pangeran Abhiseka.
**********