
Sesampainya di balik Gunung Api Purba, Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka saling berpandangan. Kedua laki-laki muda itu betul-betul tidak mengenali kota yang ada di depan mata. Seharusnya setelah berjalan beberapa kilometer dari hutan tersebut, mereka akan menemukan pintu masuk ke padhepokan di perbukitan Gunung Jambu. Tetapi saat ini, yang mereka lihat adalah sebuah kota kecil. Selain itu, terdapat beberapa bangunan berupa pondhok panjang, dan semua itu semakin membingungkan kedua laki-laki muda itu.
"Mohon maaf Pangeran.., apakah perlu saya dan Jatmiko untuk menyelidiki kota kecil di bawah sana?? Jika kami sudah memastikan jika kota itu aman untuk Pangeran dan Den Bagus, kami akan segera kembali menuju ke tempat ini untuk memberi tahu pada Pangeran." melihat tatapan kebingungan Pangeran dan Wisanggeni, Andhika menawarkan diri untuk menyelediki keberadaan kota kecil di bawah sana.
Pangeran Abhiseka mengambil nafas, kemudian menatap ke mata Wisanggeni. dan laki-laki itu menganggukkan kepala menyetujui usulan yang disampaikan oleh Andhika.
"Pergilah.., dan segera beri tahu pada kami informasinya." sambil menyandarkan tubuhnya di batang pohon, Pangeran Abhiseka mengijinkan Andhika dan Jatmiko untuk mencari informasi. Wisanggeni tidak menjawab, hanya melihat pada dua pengawal itu.
Setelah kedua pengawal itu pergi, Wisanggeni mengusap pelan dan menepuk paha atas sebelah kanan Singa Ulung. Dengan hanya menatap mata Wisanggeni, sepertinya binatang itu sudah mengetahui hal apa yang diinginkan oleh Wisanggeni.
"Auuummm.." setelah mengaum panjang, SInga Ulung segera mengepakkan sayapnya, kemudian pergi meninggalkan Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni.
"Sambil menunggu mereka kembali Pangeran.., marilah kita istirahat sejenak. Kita perlu untuk mengistirahatkan beberapa saat mata kita sebentar. Bermalam-malam menempuh perjalanan tanpa sedikitpun istirahat, itu semua membuat mataku perih." Wisanggeni mengajak Pangeran Abhiseka untuk istirahat. laki-laki itu segera naik ke dahan sebuah pohon, kemudian berselonjor kaki di atasnya dengan punggung disandarkan di batang pohon. Pangeran Abhiseka tidak menjawab, laki-laki itu hanya tersenyum kemudian mengikuti tindakan yang dilakukan Wisanggeni.
*******
__ADS_1
Andhika dan Jatmiko terpaku melihat keramaian di pinggir jalan. Meskipun kota kecil ini berada di tempat tersembunyi di balik sebuah bukit, tetapi keramaiannya hampir menyamai kota Laksa. Padahal jika dilihat, kota ini jauh dari wilayah kerajaan, bahkan bisa jadi belum masuk pada wilayah kerajaan manapun. Tetapi kota kecil ini bisa menjadi pusat ketertarikan sehingga orang-orang mendatangi tempat ini.
"Sebentar Paman..., apakah kami berdua bisa menanyakan beberapa informasi?" tanpa diminta, Jatmiko mencegat seorang laki-laki paruh baya yang sedang melintas di depan mereka. Laki-laki tua itu menatap ke wajah Jatmiko, dan akhirnya menganggukkan kepala setelah memastikan jika Jatmiko bukan orang yang berbahaya.
"Apa yang bisa paman bantu Ki Sanak?" orang tua itu balik mengajukan pertanyaan pada Jatmiko.
"Paman.., beberapa warsa yang lalu, saya pernah berkelana ke wilayah ini. Tetapi beberapa warsa lalu, belum ada kota kecil yang seramai ini. Kota apakah ini, dan apakah paman bisa memberikan sedikit penjelasan kepada kami berdua?" dengan sopan, Jatmiko bertanya pada laki-laki paruh baya itu.
Laki-laki paruh baya itu tersenyum, kemudian...
"Benar apa yang Ki Sanak katakan. Kota kecil ini namanya Gempol Ki Sanak, dan belum lama kota kecil ini terbentuk. Hal ini karena banyak orang yang berbondong-bondong untuk mengikutkan anak mereka untuk menuntut ilmu kanuragan di padhepokan di perbukitan Gunung Jambu. Saking banyaknya orang, akhirnya beberapa pedagang memanfaatkan keramaian ini, dan beberapa membangun pemukiman di tempat ini. Akhirnya kota kecil Gempol ini terbentuk Ki Sanak." dengan ramah paman tersebut menjelaskan asal-usul kota Gempol.
"Tidak hanya masih berjalan Ki Sanak..., lihatlah beberapa bangunan pondhok panjang yang ada di ujung jalan. Padhepokan itu malah membangun beberapa pondhok tambahan untuk menampung banyaknya murid yang ingin berlatih di padhepokan itu. Pondhok-pondhok itu untuk menampung murid-murid baru, dan yang akan mengikuti proses seleksi untuk menuntut ilmu di padhepokan tersebut." dengan jelas, paman tersebut melanjutkan ceritanya.
"Terima kasih paman atas penjelasannya, kami akan melanjutkan tujuan ke perjalanan kami." setelah mendapatkan penjelasan, Andhika dan Jatmiko berpamitan pada laki-laki paruh baya tersebut. Dua pengawal Pangeran Abhiseka itu dengan segera kembali menuju ke tempat Pangeran Abhiseka.
__ADS_1
***********
Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka segera berjalan menuju ke arah pintu masuk perbukitan Gunung Jambu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba ada sekelompok anak muda yang mendatangi mereka. Tanpa bertanya, keempat orang itu hanya menatap pada anak-anak muda yang menghampiri mereka. Wisanggeni sama sekali tidak mengenali mereka, dan sepertinya anak-anak muda itu merupakan orang baru.
"Berhenti..., apakah kalian tahu arah mana yang akan kalian tuju?" salah satu dari empat anak muda itu bertanya pada Wisanggeni dan rombongannya. Dengan sopan Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Jika begitu.., batalkan niat kalian. Padhepokan kami tidak sembarangan menerima tamu. Melaporlah dulu pada pos penjagaan di depan sana, dan jika tujuan kalian adalah untuk menjadi murid di padhepokan itu, kalian harus melewati beberapa tahapan sampai bisa diterima disini. Itupun tidak menjamin jika kalian akan langsung bisa masuk ke padhepokan, bisa jadi kalian harus berlatih dulu di tempat pelatihan yang ada di luaran sini." salah satu anak muda itu menjelaskan pada Wisanggeni. Melihat kesopanan mereka dalam menerima tamu, Wisanggeni tersenyum puas, dan mengagumi cara kerja Rengganis dalam menerima mereka untuk berlatih di perguruan ini.
"Terima kasih atas penjelasan yang kamu berikan anak muda. Bisakah kalian membantu kami, untuk memanggilkan salah satu kakak perguruan kalian, yang sudah berada di perguruan ini lebih dari dua warsa." dengan tersenyum, Wisanggeni mengajukan permintaan bantuan pada anak-anak muda itu.
Beberapa anak muda itu saling berpandangan, tetapi kemudian menganggukkan kepala setelah mendengar permintaan dari Wisanggeni. Pangeran Abhiseka datang dan berdiri di samping Wisanggeni.
"Tunggulah disini dulu Ki Sanak.., aku akan memanggilkan pemimpin yang menbawahi kelompok kami." dengan sopan, salah satu dari anak muda itu menyanggupi permintaan dari Wisanggeni. Setelah melihat Wisanggeni menganggukkan kepala, anak muda itu kemudian berlari dan melompat meninggalkan mereka. Melihat bagaimana Wisanggeni memperlakukan murid-murid di perguruan itu dengan sangat baik dan sopan, Pangeran Abhiseka semakin mengagumi laki-laki muda itu.
"Kamu terlalu baik dan sopan Wisang.., bagaimanapun mereka juga murid-muridmu. Tetapi kamu tidak memaksakan kehendak untuk menerobos masuk ke perbukitan Gunung Jambu." ucap Pangeran Abhiseka lirih.
__ADS_1
Wisanggeni tidak menjawab, laki-laki itu hanya tersenyum dan mengedarkan pandangan ke sekitar.
***********