Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 320 Bhadra Arsyanendra


__ADS_3

Pasangan suami istri itu terlihat semakin pucat, mereka menundukkan kepala tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat ke wajah Rengganis. Jatmiko yang masih menunggu di tempat itu, menjadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi di depannya. Beberapa saat Rengganis terdiam, seperti sengaja membiarkan pasangan suami isteri itu untuk berpikir.


"Apakah kalian tidak sedikitpun memiliki niat untuk memberi tahukan kepadaku?? Jika kalian sengaja menyembunyikan sesuatu,. dan akan berdampak buruk pada perguruan ini, maka aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan mengorbankan ratusan murid yang menuntut ilmu di tempat ini, hanya untuk melindungi pembohong seperti kalian berdua." Rengganis sengaja mengeraskan suaranya. Pasangan itu bertambah gugup.


"Paman.., bibi.. Den Ayu Rengganis bertanya pada kalian berdua. Jawablah... ceritakan jika memang kalian menyimpan sesuatu. Tetapi jika tidak ada yang sengaja kamu tutupi, jawablah jika tidak ada. Tetapi melihat bagaimana sikap kalian mendengarkan pertanyaan dari Den Ayu.., sepertinya kalian memang sengaja menutup suatu masalah." Jatmiko merasa tidak sabar, akhirnya laki-laki muda itu ikut bertanya pada pasangan suami istri itu.


"Ampuni kami Den Ayu..., sebenarnya tidak ada sedikitpun maksud kami untuk menutup masalah ini dari Den Ayu. Hanya saja, kami bingung harus bagaimana. Sebenarnya..." laki-laki paruh baya itu memulai perkataann.


"Pakne.., apakah sudah kamu pikirkan masak-masak.." tiba-tiba pihak perempuan memotong pembicaraan laki-laki itu. Laki-laki itu mengangkat tangannya, kemudian menepuk pelan bahu istrinya di depan Jatmiko dan Rengganis.


"Sepertinya tidak masalah mbokne.., daripada Den Ayu akan tahu dengan sendirinya, kita malah akan diusir dari perguruan ini." laki-laki itu mengajak bicara istrinya. Beberapa saat kemudian, perempuan itu terlihat pasrah, dan akhirnya dengan berat menganggukkan kepala, sambil menatap mata suaminya.


"Den Ayu..., apakah Den Ayu mau berjanji untuk tidak mengusir kami, jika kami berbicara jujur, dan memberi tahukan semuanya pada Den Ayu.." tiba-tiba sebelum kembali menyampaikan jawaban, laki-laki itu meminta kepastian dari Rengganis. Melihat sinar kebaikan di mata pasangan suami istri itu, akhirnya Rengganis menganggukkan kepala juga.


"Terima kasih Den Ayu.. Sebenarnya kami berdua adalah pengasuh dari putra raja Logandheng yang sudah mangkat beberapa waktu yang lalu. Kemudian..." kembali laki-laki itu seperti ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.,

__ADS_1


"Kemudian apa.. paman.. Lanjutkan perkataanmu, agar aku bisa membantu untuk memecahkan permasalahanmu. semampu kami.." menunggu beberapa saat, tetap tidak ada lanjutan dari perkataan laki-laki itu, akhirnya Rengganis meminta pasangan itu untuk melanjutkan ceritanya.


"Untuk mencegah penindasan pada keturunan dari raja Logandheng, kami membawa pergi Raden Bhadra Arsyanendra. Tidak ada maksud apa-apa Den Ayu.., hanya untuk menyelamatkan keturunan dari raja Logandheng." dengan suara lirih, perempuan paruh baya itu melanjutkan perkataan dari pihak laki-laki.


Mendengar jawaban itu, Rengganis menjadi terhenyak, nafasnya tiba-tiba terasa sesak. Perempuan itu memundurkan duduknya dan bersandar di soko yang terbuat dari kayu jati itu. Terbayang bagaimana perguruan Gunung Jambu akan menjadi sasaran dari orang-orang dari kerajaan Logandheng, jika mereka tahu bahwa putra mahkota raja Logandheng bersembunyi di perguruan itu. Melihat bagaimana sikap yang ditunjukkan perempuan itu, pasangan suami istri semakin pucat. Butiran keringat muncul di dahi mereka.


"Ampuni kami Den Ayu.., jangan usir kami. Hanya tempat ini yang menurut kami, bisa memberikan perlindungan untuk Raden Bhadra Arsyanendra." pasangan suami istri bersimpuh di depan Rengganis. Air mata tampak membasahi kedua mata mereka.


***********


"Raden Bhadra.., untuk sementara aku akan membawamu untuk mengungsi di tempat lain. Akan sangat berbahaya membiarkanmu berkeliaran di tempat ini." setelah diperkenalkan dengan Bhadra Arsyanendra, Rengganis segera memanggil bocah itu untuk bertemu dengannya.


"Apakah Den Ayu akan mengusir saya dari perguruan ini..?" tanpa sedikitpun rasa takut, bocah itu bertanya pada pemimpin perguruan Gunung Jambu saat ini.


"Jangan salah paham, dan keliru memaknai apa yang aku katakan kepadamu. Aku akan membawamu untuk mengungsi, untuk menyembunyikan keberadaanmu. Hanya dengan melihatmu saja, akan menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang yang melihatnya. Hal itu akan mengundang mara bahaya untukmu. Aku akan mengamankanmu, akan membawamu untuk bersembunyi bersama dengan putriku Parvati.." untuk tidak menimbulkan kesalah pahaman, akhirnya Rengganis menjelaskan pada bocah kecil itu.

__ADS_1


Bhadra Arsyanendra menatap pada kedua pengasuhnya, dan pasangan suami istri itu kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah merasa yakin, bocah kecil itu kembali mengarahkan pandangan matanya pada Rengganis.


"Baiklah Den Ayu.., sebagai tamu yang tidak diundang, dan atas kebesaran dan kebaikan hati dari orang-orang perguruan, saya akan mengikuti apa yang sudah diarahkan untuk Den Ayu," akhirnya Bhadra Arsyanendra menyetujui permintaan yang diutarakan Rengganis.


"Paman.., karena kamu laki-laki, kamu harus ikut berjaga di perbatasan. Kamu tidak bisa menyertai bocah kecil ini untuk datang ke pengungsian. Sedangkan kamu Bibi.., aku ijinkan kamu untuk melayani Raden Bhadra Arsyanendra." Rengganis membuat sebuah keputusan.


"Tunggu Den Ayu.., saya merasa untuk menjaga diri saya sendiri. Aku perintahkan pada Bibi untuk membantu para murid di tapal batas ini, untuk membantu menyediakan makanan, minuman atau pekerjaan-pekerjaan yang lain. Aku yakin di tempat pengungsian, akan banyak orang berkumpul disana. Bhadra akan berlatih untuk menjadi seperti bocah sebaya kebanyakan." tidak diduga, bocah kecil itu memotong perkataan Rengganis.


"Baik Raden Bhadra.., paman dan bibi akan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Raden. Jaga diri Raden baik-baik di tempat pengungsian.." akhirnya pasangan itu menyanggupi apa yang diutarakan oleh Bhadra Arsyanendra. Rengganis tersenyum mendengar perkataan bocah kecil itu. Muncul kekaguman pada bocah kecil itu yang sudah terlahir dengan kenikmatan yang melimpah. Ternyata setelah semuanya berubah, bocah kecil itu dengan mudah melakukan penyesuaian pada dirinya.


"Raden Bhadra.., segeralah bersiap. Kita akan berangkat ke tempat pengungsian malam ini. Aku sendiri yang akan mengantarmu ke tempat tersebut, aku juga memiliki perlu untuk bertemu dengan putriku Parvati." Rengganis segera meminta bocah kecil itu untuk bersiap.


"Baik Den Ayu.., sekarangpun saya sudah siap untuk mengikuti perintah Den Ayu.." dengan cepat, Bhadra Arsyanendra menanggapi perkataan Rengganis.


Akhirnya pertemuan itu segera dibubarkan, pasangan suami istri itu segera menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa oleh Bhadra Arsyanendra. Rengganis segera meninggalkan tempat tersebut, untuk bersiap menengok orang-orang perguruan yang menyembunyikan diri,

__ADS_1


*********


__ADS_2